JAKARTA, KOMPAS — Sebagai imbas lonjakan harga cip memori di pasar global, harga jual ponsel pintar diperkirakan akan sepanjang tahun 2026. Fenomena ini berpotensi menyebabkan durasi pemakaian gawai semakin panjang dan masyarakat semakin menekan pembelian gawai baru.
Sejak akhir Januari 2026, pemberitaan media internasional telah marak menyoroti lonjakan harga cip memori yang sudah terjadi beberapa bulan sebelumnya.
Perusahaan riset pasar TrendForce, dalam pemberitaan Reuters, Senin (2/2/2026), menyampaikan, mereka telah menaikkan proyeksi harga cip memori untuk komputer, ponsel, dan DRAM (Dynamic Random Access Memory) menjadi 90-95 persen pada Januari - Maret 2026. Sebelumnya, TrendForce memperkirakan kenaikan harga cip memori 55-60 persen.
Dalam pernyataan tertulis kepada Reuters, TrendForce mengatakan, permintaan infrastruktur pusat data untuk menjalankan inovasi teknologi kecerdasan buatan (AI) terus berlanjut pada triwulan I-2026. Situasi ini memperburuk ketidakseimbangan pasokan dan permintaan cip di tingkat global.
Produsen semikonduktor lebih memprioritaskan memasok cip untuk pusat data dengan margin keuntungan lebih tinggi daripada cip memori untuk barang elektronik konsumer, seperti ponsel pintar, konsol gim, dan kendaraan cerdas.
Padahal, permintaan barang elektronik konsumer tetap kuat. Associate Market Analyst, Devices Research di IDC (International Data Corporation) Indonesia, Vanessa Aurelia, mengatakan, lonjakan harga cip memori mendorong kenaikan harga jual ponsel pintar. Situasi ini terlihat sejak awal 2026 dan diprediksi berlanjut sampai 2027.
Di tengah permintaan ponsel pintar yang tetap kuat, kenaikan harga cip memori mulai mendorong naiknya harga ponsel sejak awal 2026 dan diperkirakan berlanjut sampai tahun 2027. Apalagi, pembangunan pusat data dilangsungkan besar-besaran dan untuk jangka pendek-menengah.
“Sebagian produsen cip memori telah mengalihkan sebagian besar kapasitas produksi mereka untuk menunjang itu (pusat data). Konsekuensinya, pasokan dan produksi untuk cip memori kelas bawah seperti DDR4 yang dipakai di banyak ponsel pintar kelas bawah, terus menurun,” ujar dia dalam surel kepada Kompas, Jumat (13/2/2026),
Sejauh ini, kekurangan cip memori untuk produksi barang elektronik konsumer masih terjadi dan belum jelas kapan akan kembali normal. Perkembangan terkini juga menunjukkan tidak ada tanda-tanda perbaikan.
IDC memperkirakan kondisi ini bakal memburuk pada paruh kedua 2026. Kesenjangan penawaran/permintaan akan lebih parah sehingga mengakibatkan kekurangan pasokan dan harga yang lebih tinggi. Seluruh situasi ini mungkin berlanjut hingga 2027.
Dia melanjutkan, dampak situasi itu ke industri dan perdagangan ponsel pintar akan bervariasi berdasarkan merek, wilayah geografis, dan segmen harga.
Ponsel pintar kelas bawah yang biasanya dibanderol kurang dari 200 dollar AS memiliki sedikit margin untuk menyerap biaya operasional. Untuk segmen ponsel pintar ini, IDC memperkirakan akan terjadi kekurangan pasokan atau kenaikan harga jual yang membuatnya kurang menarik di mata konsumen.
Untuk segmen ponsel pintar kelas menengah atas dan kelas atas, produsen kemungkinan akan menurunkan spesifikasi komponen untuk mengimbangi dampak kekurangan cip memori. Namun, upaya itu tidak banyak berdampak mengingat parahnya situasi ini.
Di Indonesia, dia mengakui, sebagian besar pengguna ponsel pintar sudah mengganti perangkat mereka setiap 3-4 tahun sekali. Sebagian lagi bisa mempertahankan ponsel pintar lama mereka selama 5 tahun atau lebih.
“Potensi kenaikan harga ponsel pintar sebagai imbas lonjakan harga cip memori di pasar global berisiko menyebabkan siklus beli ponsel baru semakin panjang. Mungkin bertambah lebih lama 1–2 tahun,” kata Vanessa.
Ketika ditanya jika situasi itu membuat konsumen Indonesia bakal memilih membeli ponsel pintar bekas, dia menjawab tidak. Konsumen Indonesia cenderung masih enggan beralih ke perangkat bekas, kecuali mereka menghadapi kendala keuangan yang parah.
Apalagi, ponsel pintar segmen bawah biasanya memiliki durasi pakai yang rendah. “Keputusan membeli ponsel pintar bekas di Indonesia tidak hanya didorong oleh keterjangkauan harga. Konsumen cenderung mempertimbangkan kredibilitas pengecer, kondisi perangkat dan pemakaian sebelumnya, serta ketersediaan pembaruan perangkat lunak dan keamanan,” katanya.
Saat dikonfirmasi, Country Director Xiaomi Indonesia Wentao Zhao, dalam keterangan tertulis, mengatakan, penetapan harga jual ponsel pintar dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk fluktuasi nilai tukar mata uang, ketentuan pajak dan regulasi, biaya logistik dan distribusi, serta kondisi operasional di setiap pasar.
Seiring terus berkembangnya dinamika pasar global, Xiaomi meninjau harga secara berkala untuk memastikan harga jual ke konsumen benar-benar mencerminkan kondisi riil ini secara akurat, sekaligus menunjang investasi berkelanjutan pada kualitas produk dan inovasi.
“Setiap penyesuaian harga dilakukan dengan pertimbangan matang terhadap dinamika pasar lokal, ekspektasi konsumen, dan peta persaingan. Tujuannya memastikan produk kami tetap menawarkan keseimbangan optimal antara performa, kualitas, dan keterjangkauan,” ucap Wentao.
Mengutip DW, pada akhir Januari 2026, Presiden Samsung Electronics Wonjin Lee mengumumkan potensi kenaikan harga jual ponsel pintar dalam sebuah wawancara dengan Bloomberg.
"Harga akan naik. Jelas, kami tidak ingin membebankan itu ke konsumen, tapi kami akan sampai pada titik di mana kami harus mempertimbangkan untuk menetapkan harga ulang produk kami,” kata dia.
Sementara itu, Apple Inc belum memberi komentar mengenai proyeksi kenaikan harga produk-produknya. Namun, analis di bank investasi Morgan Stanley memprediksi, dalam prospek 2026, Apple Inc kemungkinan akan mempertahankan harga tetap stabil. Akan tetapi, ada kemungkinan Apple Inc bakal menaikkan harga untuk perangkat dengan kapasitas penyimpanan yang lebih besar.
Mengutip berbagai pemberitaan internasional, imbas lonjakan harga cip memori, harga saham para produsen barang elektronik konsumer turun, sedangkan harga saham produsen cip malah naik signifikan.
Indikator Bloomberg menunjukkan, harga saham produsen elektronik konsumen global turun 10 persen sejak akhir September 2025. Sementara, harga saham produsen memori termasuk Samsung Electronics Co telah melonjak sekitar 160 persen.





