Pesugihan Versi Elite Global: Kerja Keras, Ritual, atau Sekadar Ilusi Kekuasaan?

kumparan.com
2 jam lalu
Cover Berita

Dulu, dunia terasa sederhana. Mau kaya? Kerja. Mau punya kuasa? Bangun kapasitas dan relasi.

Pesugihan? Mitos kampung. Cerita horor. Bukan diskursus serius.

Namun ketika arsip, bocoran, dan skandal elite global terbuka seperti kasus Jeffrey Epstein logika itu mulai goyah.

Bukan karena semua narasi yang beredar terbukti, melainkan karena pola kekuasaan yang terlalu tertutup, terlalu kebal, dan terlalu berulang.

Di titik ini, skeptisisme berubah bentuk: dari menertawakan mitos, menjadi mempertanyakan sistem.

Max Weber: Rasionalitas yang Kehilangan Jiwa

Sosiolog Max Weber pernah memperingatkan dunia modern tentang “iron cage” sangkar besi rasionalitas.

Kapitalisme modern, kata Weber, lahir dari etika kerja Protestan yang rasional, disiplin, dan terukur. Namun seiring waktu, etika itu tercerabut dari nilai spiritualnya. Yang tersisa hanya mesin akumulasi.

Dalam dunia seperti ini, kekayaan tak lagi butuh legitimasi moral. Ia cukup efisien, legal, dan menguntungkan.

Pesugihan versi Weber bukan soal roh atau jin, melainkan sistem ekonomi yang berjalan dingin, tanpa makna, tanpa empati.

Foucault: Kekuasaan yang Tak Kelihatan.

Michel Foucault mengajarkan satu hal penting: kekuasaan modern jarang bekerja secara kasar. Ia halus, menyusup, dan tak kasat mata.

Ia hadir lewat wacana, institusi, norma, dan ‘kebenaran’ yang terus diulang.

Dalam kerangka ini, ritual elite pertemuan tertutup, simbol eksklusif, jejaring global tak harus dibaca sebagai praktik gaib. Ia adalah teknologi kekuasaan: cara membangun loyalitas, hierarki, dan rasa “kami” versus “mereka”.

Yang berbahaya bukan ritualnya, tapi ketertutupan dan impunitas yang lahir darinya.

Hannah Arendt: Ketika Kejahatan Jadi Normal.

Hannah Arendt, dalam konsep “banality of evil”, mengingatkan bahwa kejahatan besar sering dilakukan bukan oleh monster, melainkan oleh orang-orang biasa yang sekadar mengikuti sistem.

Dalam dunia elite global, penyimpangan moral kerap tampil rapi:

legal di atas kertas, sopan di forum internasional, bahkan dibungkus filantropi.

Bukan karena semua pelakunya jahat, tapi karena sistem membuat mereka berhenti berpikir dan berhenti merasa bersalah.

George Soros dan Ketakutan Kolektif

Pandangan filosofis George Soros tentang agama bahwa Tuhan adalah konstruksi manusia adalah posisi intelektual, bukan dakwaan moral. Namun dalam masyarakat yang timpang, figur superkaya tanpa rujukan transendental sering menjadi simbol kecemasan publik.

Bukan karena apa yang ia percayai, tetapi karena besarnya pengaruh tanpa kontrol yang seimbang.

Dalam perspektif Arendt dan Foucault, ketakutan ini bukan paranoia semata, melainkan refleksi kegagalan sistem akuntabilitas global.

Pesugihan Sebagai Metafora Sistem.

Jika pesugihan dimaknai ulang, ia bukan praktik mistik, melainkan:

Pesugihan modern tidak berbau kemenyan. Ia beraroma kontrak, lobi, dan kebijakan global.

Penutup: Skeptis, Tapi Tetap Waras

Skeptis itu sehat. Tapi skeptis tanpa nalar hanya melahirkan paranoia.

Filsafat mengajarkan kita satu hal: musuh terbesar bukan konspirasi, melainkan sistem yang tak transparan dan tak bertanggung jawab.

Pertanyaannya bukan “apakah pesugihan itu nyata?”

Melainkan: mengapa ketimpangan begitu rasional, begitu legal, dan begitu sulit digugat?


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Aksi Pebiliar Cilik 5 Tahun Fajar Alamri Curi Perhatian di CIO 2026 Jakarta
• 22 jam lalugenpi.co
thumb
Styling Rambut Makin Ringkas dengan Catokan Mini yang Kekinian dari Bellayu
• 2 jam lalukumparan.com
thumb
Presiden RI Resmikan 1.179 SPPG, Gubernur Sulsel Apresiasi Kontribusi Polri Bantu Ketahanan Pangan Rakyat
• 18 menit laluterkini.id
thumb
Borneo FC vs Persib Bandung Ditunda, ILeague Rilis Jadwal Baru
• 15 jam lalugenpi.co
thumb
Wamenhaj: Umrah via Asrama Haji Bukan Mandatory tapi Pilihan
• 8 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.