Grid.ID - ISA Art Gallery dengan bangga mengumumkan Biophilia: Exquisite Corpse, sebuah pameran kelompok yang menyatukan Anang Saptoto, Arahmaiani, Cynthia Delaney Suwito, Dabi Arnasa, Fitri DK, Kynan Tegar × Studio Birthplace × Novo Amor, Mater Design Lab, Reza Kutjh, dan Teguh Ostenrik dalam refleksi kolaboratif tentang ketergantungan ekologis. Mengambil inspirasi dari permainan peluang Surealis, pameran ini terungkap melalui gestur yang saling terkait yang berbicara tentang siklus pertumbuhan, peluruhan, dan transformasi timbal balik.
Dalam konfigurasi ini, tidak ada satu seniman pun yang mengatur hasilnya. Setiap karya dibentuk oleh pengalaman individu namun tetap tak terpisahkan dari keseluruhan. Biophilia: Exquisite Corpse terungkap dari pemahaman bahwa manusia tidak berdiri di luar alam tetapi beredar di dalamnya. Memposisikan seni sebagai tindakan kolektif perlawanan dan imajinasi ulang lingkungan, pameran ini mempertanyakan apa artinya menempatkan diri kita sebagai peserta daripada penguasa; terikat oleh tanggung jawab, konsekuensi, dan kepedulian bersama dalam sistem kehidupan.
Anang Saptoto (b. 1982)
Anang Saptoto (A.Md., S.Sn., M.Sn.) adalah seniman multidisipliner, desainer, dan aktivis yang berbasis di Yogyakarta. Praktiknya mencakup desain, lukisan, fotografi, video, musik, dan seni interdisipliner. Lulusan Desain Komunikasi Visual dan Televisi yang kini tengah menyelesaikan Magister Seni Video, Anang secara kritis mengangkat isu-isu ekologi, hak asasi manusia, disabilitas, pendidikan anak, dan transformasi sosial. Ia memandang seni sebagai katalis dialog dan solidaritas, dengan kolaborasi sebagai cara untuk menguatkan suara-suara yang terpinggirkan. Sejak 2003 ia menjadi anggota kolektif MES 56 dan sejak 2020 menjabat sebagai Co-Director melalui Agensi 56. Ia adalah pendiri Panen Apa Hari Ini (PARI), sebuah inisiatif seni berbasis pertanian, serta salah satu penggagas Collaborative Village Architecture Forum dan Wana Nagara Pugeran Urban Forest Studio. Karyanya memperoleh pengakuan dari REDBase Foundation Young Artist Award (2016), UCLG ASPAC dan UN-HABITAT (2020), Prince Claus Fund SEED Award (2021), serta British Council Unlimited x Micro Award (2022) untuk proyek kolaboratif Sari-Sari Series bersama Rhine Bernardino.
Arahmaiani (b. 1961)
Arahmaiani merupakan salah satu seniman kontemporer Indonesia paling berpengaruh, dikenal secara internasional atas praktiknya yang tajam dalam menanggapi isu sosial, politik, dan budaya. Muncul sebagai pelopor seni performans Asia Tenggara pada 1980-an, praktiknya kini melampaui berbagai medium dan disiplin. Dalam enam tahun terakhir, ia berfokus pada isu lingkungan di kawasan dataran tinggi Tibet, bekerja sama dengan biksu Buddhis dan komunitas lokal untuk membangun kesadaran ekologis. Karyanya Burning Country dipamerkan dan diakuisisi oleh Tate Modern, London, pada akhir 2024.
Cynthia Delaney Suwito (b. 1993)
Cynthia Delaney Suwito adalah seniman yang meninjau ulang norma keseharian melalui pergeseran fungsi dan persepsi yang subtil. Bekerja dalam medium patung, instalasi, dan media digital, ia dikenal lewat karya-karya yang menghadirkan humor sunyi dan ketidakpraktisan yang disengaja, mengubah objek dan gestur sehari-hari menjadi momen refleksi. Dari nasib kantong plastik, penyalahgunaan jepitan baju, hingga putaran tanpa akhir gulungan tisu, subjek-subjeknya menyingkap absurditas dalam kehidupan harian. Ia menggelar pameran tunggal while we wait di The Substation, Singapura (2020), serta berpartisipasi dalam berbagai pameran penting seperti Sama Sama di Whitestone Gallery, Singapura (2025), Singapore International Photography Festival (2022), Superfluidity: The Parallel Universes Daily Mimicry di FreeS Art Space, Taipei (2022), Suksesi di ISA Art and Design, Jakarta (2021), dan Bandung Contemporary Art Award Assemblage di Lawangwangi (2019). Pada 2017, ia masuk dalam daftar Forbes 30 Under 30 Asia di bidang Seni.
Dabi Arnasa (b. 1997)
I Made Dabi Arnasa, dikenal sebagai Dabi, adalah seniman Bali yang berbasis di Yogyakarta. Berakar pada prinsip Bali rwa bhineda, praktiknya berangkat dari nilai penyatuan dalam kontradiksi. Melalui lanskap mimpi yang terinspirasi surealisme, ia merekonstruksi pengalaman yang ganjil sekaligus akrab, menerjemahkan citra dari mimpi ke dalam lukisan. Pameran tunggal perdananya, Cabinet of Dreams (Art Moments Jakarta, 2022), merefleksikan penerjemahan dunia mimpi ke dalam narasi visual berlapis. Tahun lalu, ia turut berpartisipasi dalam pameran kelompok di EDSU House, Yogyakarta.
Fitri DK (b. 1981)
Fitri DK adalah pekerja seni dan seniman visual berbasis di Yogyakarta yang praktiknya berpusat pada teknik grafis, khususnya hardboard cut print, serta mengeksplorasi batik, tenun, dan pensil warna. Karyanya secara kritis menanggapi isu sosial dan lingkungan, menguatkan suara perempuan dalam konteks budaya yang patriarkal, serta meluas ke ranah musik sebagai bentuk ekspresi dan perlawanan. Ia merupakan anggota SURVIVE! Garage Collective dan Taring Padi, serta vokalis band Dendang Kampungan. Melalui solidaritas berkelanjutan dengan petani, komunitas perempuan, dan kelompok marjinal lainnya, Fitri mengintegrasikan seni dan aktivisme. Saat ini ia mendokumentasikan kisah perlawanan perempuan dan masyarakat adat dalam upaya konservasi lingkungan melalui praktik cetaknya, dan telah berpameran secara luas di Indonesia maupun internasional.
Kynan Tegar (b. 2004) x Studio Birthplace (est. 2019) x Novo Amor (b. 1991)
Kynan Tegar adalah pendongeng dari masyarakat Iban di Kalimantan Barat. Tinggal di sekitar rumah panjang Sungai Utik, ia belajar langsung dari para tetua adat dan mendokumentasikan kisah perlawanan terhadap deforestasi serta dampak kolonialisme yang berkelanjutan. Film-filmnya menghadirkan perspektif emik tentang kehidupan Iban sekaligus berfungsi sebagai alat advokasi dan keadilan lingkungan. Melalui film, aktivisme, dan keterlibatan kebijakan, Kynan memperkuat suara masyarakat adat serta mengeksplorasi pemaknaan kontemporer tentang identitas Indigenous. Saat ini ia merupakan mahasiswa antropologi di Universitas Indonesia dan telah mempresentasikan karyanya di Columbia University, New York Climate Week, American Museum of Natural History, serta UNFCCC COP29.
Studio Birthplace adalah studio kreatif dan rumah produksi film berbasis Belanda–Singapura yang didirikan oleh Sil van der Woerd dan Jorik Dozy. Sejak memulai kolaborasi pada 2017, keduanya mengembangkan kampanye sinematik yang memadukan lanskap kuat, penceritaan imersif, dan efek visual tingkat tinggi untuk mendorong aksi global.
Novo Amor adalah proyek musik dari multi-instrumentalis, penulis lagu, dan produser asal Wales, Ali Lacey. Dikenal lewat lanskap bunyi atmosferik dan lirik yang emosional, karyanya merefleksikan transformasi personal dan keterhubungan mendalam dengan ruang. Setelah merilis Cannot Be, Whatsoever, Lacey meninggalkan Cardiff dan pindah ke sebuah lumbung abad ke-19 di pedesaan Wales, tempat ia membangun studio secara mandiri—sebuah langkah yang menandai pergeseran personal dan kreatif yang signifikan. Karya terbarunya menangkap fase transisi tersebut, menegaskan keselarasan antara niat dan tindakan.
Mater Design Lab (est. 2020)
Didirikan pada 2020 oleh Ratna Djuwita, Mater adalah studio desain spekulatif yang menerjemahkan material menjadi objek. Kini beranggotakan Ratna Djuwita, Zaqi Fathis, Ghina Nabilah, dan Sarah Rayhana, studio ini bekerja melalui pendekatan design fiction untuk membangun skenario masa depan yang menguji kondisi masa kini, memunculkan pertanyaan-pertanyaan kritis yang mendorong imajinasi, eksperimen, dan inovasi.
Reza Kutjh (b. 1994)
Reza Aryanda Manggala Yudha, dikenal sebagai Reza Kutjh, adalah seniman visual dan arsiparis yang tinggal dan bekerja di Yogyakarta. Praktiknya berfokus pada fotografi, dengan eksplorasi lintas media yang bersinggungan dengan praktik kearsipan, gambar bergerak, dan materi cetak. Karyanya berakar pada memori spasial, pergeseran geografis, dan taktik keseharian, melalui mana ia mempertanyakan kerapuhan dalam struktur kemanusiaan dan institusional. Pada 2025 ia menggelar pameran tunggal keduanya, Around The Wall That Stood Between Us, di Ruang MES 56, Yogyakarta. Saat ini ia aktif melakukan riset visual dan proyek berbasis arsip bersama Unhistoried, serta berpartisipasi dalam Tani Jiwo Mini Residency (Dieng, 2022), Titen: Embodied Knowledges—Shifting Grounds Biennale Jogja 17 (2023), dan Jogja Fotografis Festival ke-2 (2024).
Teguh Ostenrik (b. 1950)
Teguh Ostenrik adalah seniman Indonesia lulusan Master of Fine Arts dari Hochschule der Künste, Berlin (Barat), Jerman. Selama lebih dari empat dekade, ia telah berpameran secara luas di Indonesia dan mancanegara, termasuk di Amerika Serikat, Eropa (Prancis, Belanda, Jerman), Australia, dan berbagai negara Asia. Praktik multidisiplinernya mencakup lukisan, patung, terakota, instalasi, video art, koreografi tari, dan tata panggung, merefleksikan kesadaran ekologis dan penghormatan terhadap Ibu Pertiwi. Karyanya kerap menggunakan material daur ulang dan palet warna bumi, serta telah dikoleksi oleh institusi seperti Willem de Kooning Studio (AS), St. Mary of the Angels Church (Singapura), The Cross on the Tomohon Prayer Hill (Sulawesi Utara), dan Fukuoka Art Museum (Jepang). Proyek pentingnya meliputi inisiasi ARTificial Reef Park di Lombok (2014), instalasi bawah laut untuk mendukung pertumbuhan terumbu karang sekaligus menciptakan destinasi selam baru, serta film dokumenter Bisikan Terumbu yang tayang perdana di ARTJOG 2025. (*)
Artikel Asli




