EtIndonesia. Suatu hari, pendiri TSMC yaitu Morris Chang pulang ke rumah dan bersiap tidur.
Istrinya, Sophie Chang, melihat suaminya tersenyum begitu bahagia hingga tak bisa menahan diri untuk bertanya: “Morris, hari ini kamu kenapa kelihatan sangat senang?”
Morris Chang menjawab : “Presiden Intel menelepon hari ini. Mereka akan memberikan pesanan besar produksi chip kepada perusahaan kita.”
Sang istri berkata : “Perusahaan dapat untung, wajar kalau senang. Tapi kenapa sampai tersenyum terus begitu?”
Morris Chang menjawab : “Karena hari ini, saat harga saham TSMC masih di titik rendah, aku juga membeli saham dalam jumlah besar.”
Catat baik-baik: Jenis pertama adalah bos besar perusahaan teknologi yang memegang informasi paling awal.
Saat mereka masuk pasar, harga saham baru saja akan berbalik naik dari titik terendah— tetapi pada fase ini, belum ada siapa pun di pasar yang menyadari pembalikan arah tersebut.
Keesokan harinya, Sophie Chang pergi minum teh sore bersama para istri elite teknologi di kawasan Hsinchu Science Park. Di antaranya ada juga istri bos UMC, Cao Xingcheng.
Sophie Chang berkata santai : “Suamiku kemarin senang sekali, karena TSMC mendapat pesanan besar.”
Begitu para “nyonya kaya” itu mendengar kabar tersebut, mereka pun ikut senang.
Pagi hari ketiga, mereka serempak memasang order beli saham TSMC.
Catat: Jenis kedua adalah para wanita di samping bantal para bos besar. Saat kelompok ini masuk pasar, volume transaksi mulai melonjak aneh di harga rendah, dan pasar mulai berbisik-bisik mencari tahu, “Ada apa sebenarnya?”
Dua hari kemudian, pada hari kelima, Cao Xingcheng pulang ke rumah dan melihat istrinya tersenyum lebar.
Dia pun bertanya: “Ada apa?”
Sang istri menjawab : “Sophie Chang memberiku saham rekomendasi. Benar saja, saham TSMC langsung naik.”
Begitu mendengarnya, Cao Xingcheng langsung paham betul situasinya. Mulai hari keenam, dia memborong saham TSMC besar-besaran di pasar.
Catat: Jenis ketiga adalah orang dalam industri yang sangat kaya informasi. Saat mereka masuk, harga saham mulai melonjak tajam dan membentuk deretan candlestick merah panjang. Namun di tahap ini, pasar umum masih belum mendengar kabar baik apa pun secara resmi.
Karena harga saham TSMC naik secara tidak wajar, para analis sekuritas dan investor asing mulai menyelidiki penyebabnya. Akhirnya, kabar tentang pesanan besar dari Intel pun tercium.
Lembaga sekuritas pun ramai-ramai menelepon klien, menganjurkan mereka membeli saham TSMC.
Catat: Jenis keempat adalah investor profesional di dunia sekuritas. Mereka mampu mencium kabar baik lebih awal dan membangun posisi di fase awal kenaikan harga saham.
Lonjakan harga saham TSMC juga menarik perhatian wartawan yang tajam instingnya. Mereka mulai menelepon analis asing untuk wawancara, lalu—sebelum menulis berita—diam-diam lebih dulu membeli sahamnya.
Pada saat yang sama, investor ritel berpengalaman yang memahami analisis teknikal, berdasarkan prinsip volume mendahului harga, juga mulai masuk besar-besaran.
Catat: Jenis kelima adalah investor yang menguasai analisis teknikal atau memiliki akses langsung ke analis profesional. Saat mereka masuk, saham sudah bersiap memasuki fase kenaikan utama.
Lalu siapa jenis keenam?
Ketika surat kabar akhirnya memuat berita besar tentang TSMC, para investor awam—ibu-ibu pasar dan pembeli saham bermodal koran— mulai berbondong-bondong masuk.
Transaksi saham TSMC menjadi sangat ramai. Investor ritel seperti pasukan semut mendorong harga saham ke puncak yang sangat panas.
Catat: Jenis keenam adalah investor ritel non-profesional. Saat mereka masuk, jenis pertama, kedua, dan ketiga justru sudah mulai menjual saham mereka. Artinya, pasar segera berbalik arah dari puncak menuju penurunan.
Sekarang, keenam jenis orang sudah dijelaskan.
Pertanyaannya: kamu termasuk jenis yang mana?
Jika kamu bukan tiga jenis pertama, atas dasar apa kamu merasa bisa membeli di harga terendah dan menjual di harga tertinggi?
Jika kamu adalah jenis keempat, selamat— kamu masih berpeluang menikmati bagian terbesar dari kenaikan harga, meskipun bukan seluruhnya.
(Karena kepala ikan sudah dimakan oleh Morris Chang dan para nyonya elite.)
Jika kamu adalah jenis kelima, kamu masih kebagian setengah badan ikan— dalam pasar bullish, keuntungannya masih cukup layak.
Namun jika kamu adalah jenis keenam, menikmati sedikit manis di ekor ikan lalu tidak segera pergi, maka yang tersisa hanyalah tulang ikan yang akan kamu bawa pulang ke “apartemen nyangkut”, menangis tanpa air mata.
Orang cerdas, hitunglah baik-baik: sebenarnya kamu hanya layak mengambil bagian mana dari pasar saham ini?
Renungan
Saat membaca enam jenis orang ini, aku justru berpikir: bahkan sebelum jenis pertama, masih ada jenis lain— yaitu pihak pembeli atau bagian pengadaan perusahaan besar. Mereka memegang evaluasi pemasok dan keputusan pemesanan paling awal. Begitu kontrak ditandatangani, mereka pun bisa langsung membeli saham.
Faktanya, saham memang mirip perjudian: jika ada yang menang, pasti ada yang kalah.
Banyak orang mengejar angka, mendorong angka itu semakin tinggi, tenggelam dalam dunia angka yang semu.
Hari ini saham naik—uang belum masuk rekening— malamnya sudah bernyanyi, berpesta, dan mentraktir teman.
Besok saham jatuh, lalu menghibur diri dengan berkata : “Selama belum dijual, berarti belum rugi.”
Namun karena kemarin sudah berfoya-foya hingga uang tunai menipis, akhirnya terpaksa tarik kartu kredit, meminjam uang— dan pelan-pelan masuk ke jurang utang.
Bermain saham bukan hal yang salah. Tetapi pengelolaan dana adalah segalanya.
Pastikan bahwa meskipun uang saham habis seluruhnya, hidupmu tetap berjalan normal.
Zaman berubah terlalu cepat. Banyak “elit teknologi” yang tak lama kemudian berubah menjadi “miskin teknologi”.
Penyebabnya sederhana: uang dihitung terlalu presisi, dipakai terlalu habis. Begitu penghasilan terputus, krisis langsung menghantam tanpa ampun.(jhn/yn)





