Bisnis.com, JAKARTA — Aksi sejumlah emiten blue chip dalam mengguyur dividen jumbo sejak awal 2026 dinilai belum cukup menahan laju outflow asing hingga beberapa bulan mendatang. Tebaran dividen ini lebih bersifat sebagai penyeimbang ketimbang menjadi katalis utama pembalikan tren pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG.
Berdasarkan Dataindonesia.id, sejumlah emiten di Bursa Efek Indonesia (BEI) tercatat telah membagikan dividen interim pada Januari 2026. Dari sejumlah emiten tersebut, PT Alamtri Resources Indonesia Tbk. (ADRO), PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI), hingga PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) tercatat membagikan dividen per saham dengan nilai nominal besar.
ADRO membagikan dividen interim sebesar Rp145,14 per saham pada 15 Januari 2026. BBRI menebar dividen interim Rp137 per saham pada tanggal yang sama. Sementara BMRI membagikan dividen Rp100 per saham pada 14 Januari 2026.
Kendati demikian, Head of Research dan Chief Economist Mirae Asset Sekuritas Indonesia Rully Wisnubroto mengatakan sentimen dividen mampu menjadi penahan tekanan harga saham, terutama untuk saham berfundamental kuat dan berkapitalisasi besar. Meski demikian, aksi korporasi itu belum cukup membendung arus dana asing keluar.
“Dividen serta aksi buyback itu saya rasa dengan masih derasnya arus modal asing yang keluar agak sulit untuk menahan [tekahan ke harga saham],” ujarnya, Jumat (13/2/2026).
Meski demikian, dari sisi fundamental, mayoritas saham blue chip dinilai masih memiliki prospek kinerja yang solid pada 2025, dengan asumsi pertumbuhan ekonomi meningkat ke kisaran 5,3 persen dari sebelumnya 5,1 persen.
Baca Juga
- Di Depan Prabowo, Menko Airlangga Bilang IHSG Sudah Rebound
- IHSG Hari ini (13/2) Melemah ke Level 8.212 Saat Presiden Gaungkan Indonesia Incorporated
- Presiden Prabowo Bocorkan Hasil Pembicaraan dengan Crazy Rich di Hambalang
Sejumlah emiten perbankan seperti PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) dan BMRI serta grup konglomerasi seperti Astra International (ASII) diperkirakan tetap mencatatkan pertumbuhan pendapatan dan laba yang stabil.
Sektor perbankan dinilai masih menarik, meski tantangan menjaga pertumbuhan kredit di kisaran 10 persen tetap menjadi pekerjaan rumah. Sementara itu, sektor otomotif menghadapi kompetisi ketat, khususnya dari merek kendaraan asal China yang semakin agresif menekan harga dan memperluas pangsa pasar.
Di sektor telekomunikasi, PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM), PT Indosat Ooredoo Hutchison Tbk. (ISAT), serta PT XL Axiata Tbk. (EXCL) juga diproyeksikan membukukan pertumbuhan yang solid, ditopang permintaan data yang terus meningkat.
Rully menambahkan, minat investor untuk kembali masuk ke pasar saham akan berbeda antara domestik dan asing. Investor domestik dinilai cenderung masuk ketika harga sudah terkoreksi dalam, dengan harapan terjadi rebound dalam jangka pendek.
Sebaliknya, investor asing atau foreign funds masih cenderung wait and see. Mereka dinilai belum melihat katalis kuat untuk kembali masuk secara agresif ke pasar saham Indonesia.
--
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.




