Sivitas Akademika UMI Sambut Ramadan 1447 H dengan Seruan Transformasi Spiritual

harianfajar
5 jam lalu
Cover Berita

FAJAR, MAKASSAR – Universitas Muslim Indonesia (UMI) menggelar Silaturrahim Sivitas Akademika dalam rangka menyambut Bulan Suci Ramadhan 1447 H di Auditorium Al-Jibra Kampus II UMI, Jumat, 13 Februari 2026.

Momentum tahunan ini menjadi ruang refleksi kolektif sekaligus penguatan ukhuwah di tengah capaian akademik dan transformasi kelembagaan yang terus bertumbuh.

Kegiatan dihadiri Ketua Pembina Yayasan Wakaf UMI Prof. Dr. H. Mansyur Ramly, SE., M.Si., Ketua Pengurus YW-UMI Prof. Dr. Hj. Masrurah Mokhtar, MA., Rektor UMI Prof. Dr. H. Hambali Thalib, SH., MH., jajaran pimpinan universitas, guru besar, dosen, tenaga kependidikan, hingga pimpinan unit strategis UMI.

Dalam pidatonya yang reflektif dan menyentuh, Rektor UMI menegaskan bahwa Ramadhan bukan sekadar agenda spiritual, tetapi momentum kesadaran moral institusi.

“Kampus bisa unggul dalam angka, tetapi akan runtuh jika gagal menjaga kesadaran moral.”

Rektor mengingatkan bahwa capaian UMI—mulai dari Akreditasi Unggul dua periode, jumlah Guru Besar terbanyak di kalangan PTS se-Indonesia, penguatan program doktoral, hingga transformasi menuju Catur Dharma dan Kampus Digital—tidak boleh membuat institusi lalai pada fondasi etik dan spiritualnya.

“Transformasi terbesar bukan pada teknologi, bukan pada sistem, tetapi pada jiwa yang menggerakkan sistem itu. Jika jiwa kita tidak beres, digitalisasi hanya memindahkan kelemahan dari ruang manual ke ruang digital,” tegasnya.

Menurutnya, Ramadhan adalah madrasah takwa yang menguji integritas pribadi setiap pemegang amanah. Ia menegaskan bahwa mahasiswa UMI bukan sekadar lulusan, tetapi amanah peradaban—dan seluruh sivitas akademika adalah arsitek moral dari peradaban tersebut.

UMI, lanjutnya, tidak cukup menjadi kampus unggul. UMI harus menjadi kampus yang sadar—sadar bahwa setiap keputusan adalah pertanggungjawaban dunia dan akhirat, sadar bahwa setiap mahasiswa adalah doa orang tuanya, dan sadar bahwa setiap kebijakan adalah jejak sejarah institusi.

Ketua Pembina YW-UMI Prof. Mansyur Ramly mengajak seluruh keluarga besar UMI menjadikan Ramadhan sebagai momentum muhasabah.

Ia menegaskan bahwa kesibukan struktural tidak boleh menurunkan kualitas spiritual. Semakin tinggi jabatan, semakin besar potensi kekhilafan jika tidak disertai kesadaran moral.

“Ramadhan bukan untuk mengubah jadwal, tetapi untuk mengubah diri. Niat yang lurus akan menjadi energi bagi keberlanjutan institusi,” ujarnya.

Prof. Mansyur juga mengingatkan pentingnya menjaga kohesivitas, membersihkan hati dari iri, dengki, dan kesombongan, serta memperkuat ukhuwah sebagai fondasi tata kelola yang sehat.

Ketua Pengurus YW-UMI Prof. Masrurah Mokhtar menekankan pentingnya silaturrahim sebagai kekuatan spiritual dan sosial.

Ia menyampaikan bahwa reputasi UMI sebagai PTS dengan jumlah Guru Besar terbanyak di Indonesia harus diiringi dengan penguatan kualitas SDM dan karakter akademik.

“Kita tidak boleh berhenti pada capaian. Dosen harus terus menempuh studi doktoral, meraih guru besar, dan memperkuat reputasi akademik UMI di tingkat nasional dan internasional. Namun semua itu harus berakar pada akhlakul karimah,” ujarnya.

Di tengah transformasi dari Tri Dharma menuju Catur Dharma Perguruan Tinggi serta penguatan sistem digital berbasis Indikator Kinerja Utama (IKU), UMI memastikan bahwa kemajuan akademik berjalan seiring dengan kedalaman karakter.

Momentum Ramadhan 1447 H menjadi titik kesinambungan dari pesan-pesan Rektor pada wisuda empat hari berturut-turut tahun sebelumnya: bahwa pendidikan di UMI bukan hanya tentang gelar, tetapi tentang pembentukan manusia yang utuh—cerdas secara intelektual, kuat secara moral, dan matang secara spiritual.

Bagi Gen Z dan Gen Alfa yang sedang mencari kampus masa depan, UMI menyampaikan satu pesan tegas: kampus ini menuntut keseriusan dan tanggung jawab. Namun bagi mereka yang siap bertumbuh, UMI adalah rumah perjuangan yang membentuk karakter, bukan sekadar IPK.

Dan bagi para orang tua, UMI meneguhkan diri sebagai mitra pendidikan yang tidak hanya memikirkan akademik anak, tetapi juga menjaga nilai, akhlak, dan masa depan mereka.

“Ramadhan bukan datang untuk mengubah jadwal kita. Ramadhan datang untuk mengubah diri kita.”

Dengan semangat itu, UMI memasuki Ramadhan 1447 H tidak hanya sebagai institusi yang unggul secara akademik, tetapi sebagai komunitas pembelajar yang terus menata hati, menjaga amanah, dan membangun peradaban dengan kesadaran.

Silaturrahim ini menegaskan kembali identitas UMI sebagai:
• Kampus Ilmu dan Ibadah
• Kampus Perjuangan dan Pengabdian
• Kampus Bereputasi dan Berdampak
• Kampus yang membangun kemewahan intelektual di atas kesederhanaan spiritual.(wis)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
3 Terdakwa Kasus Minyak Mentah Dituntut 14 Tahun Bui hingga Uang Pengganti Rp5 Miliar
• 2 jam lalurctiplus.com
thumb
Polisi Tangkap Mahasiswa Mabuk yang Rampas Motor Perempuan di Yogya
• 11 jam lalukumparan.com
thumb
Kurs Dolar AS di BCA, BRI, Mandiri, dan BNI Hari Ini 13 Februari 2026
• 14 jam lalubisnis.com
thumb
Doa Menag di Economic Outlook: Sadarkan Warga Syukuri Perjuangan Anak Bangsa
• 10 jam lalukumparan.com
thumb
Biophilia: Exquisite Corpse, Refleksi Ekologis di ISA Art Gallery
• 11 jam lalukompas.tv
Berhasil disimpan.