Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia akan menghentikan keran ekspor serta bijih timah mulai tahun 2027, setelah lebih dulu menyetop ekspor bijih nikel dan bauksit.
Bahlil menyebutkan keputusan ini diambil seiring dengan rencana hilirisasi pada 28 komoditas prioritas di sektor pertambangan, perkebunan, kehutanan, hingga perikanan dengan total investasi sekitar USD 850 miliar sampai tahun 2040. Namun, dia menegaskan bahwa 90 persen total investasi pada hilirisasi tersebut berasal dari sektor energi, termasuk komoditas bauksit dan timah yang akan disetop ekspornya agar dapat diserap oleh industri pengolahan dalam negeri.
"Tahun lalu kita melarang ekspor bauksit, dan tahun ke depan kita akan mengkaji untuk beberapa komoditas lain termasuk timah, enggak boleh lagi kita ekspor barang mentah. Silakan teman-teman membangun investasi hilirisasi di dalam negeri," tegas Bahlil saat Indonesia Economic Outlook 2026, Jumat (13/2).
Kebijakan setop impor mineral mentah sudah dimulai pada komoditas nikel pada tahun 2020 lalu, yang menurut Bahlil menciptakan efek berganda hingga 10 kali lipat.
"Total ekspor nikel kita tahun 2018-2019 itu hanya 3,3 miliar dolar. Dan kemudian begitu kita melarang ekspor, di 2024 itu total ekspor kita sudah mencapai 34 miliar dolar. 10 kali lipat hanya dalam waktu 5 tahun," ungkap Bahlil.
Bahlil menegaskan, program hilirisasi ini merupakan langkah pemerintah melepaskan jerat ketergantungan pada asing dan bisa lebih berdaulat mengelola sumber daya alam di dalam negeri.
"Sudah cukup negara kita ini dijajah oleh Belanda 3,5 abad, itu hanya untuk mengambil rempah-rempah dan bahan baku kita. Jangan kita sudah merdeka masih pula kita kirim barang mentah," tegas Bahlil.
Selain itu, pemerintah melalui Danantara Indonesia juga mengkaji 18 proyek hilirisasi yang seluruhnya akan dimulai alias groundbreaking dalam 2-3 bulan ke depan. Rencananya jumlah proyek tersebut juga akan ditambah ke depannya.
"Kami akan membuat lagi beberapa komoditas lain untuk kita dorong. Semua produknya adalah untuk melahirkan substitusi impor. Ini captive market dalam negeri. Nah ini kesempatan perbankan untuk membiayai. Jangan sampai kalian tidak biayai lagi, nanti dikirain hilirisasi itu hanya nilai tambahnya dikuasai oleh teman-teman kita dari luar negeri," pungkas Bahlil.





