JAKARTA, KOMPAS — Presiden Prabowo Subianto meyakini perekonomian Indonesia akan terakselerasi pada 2026. Keyakinan ini berangkat dari sederet program prioritasnya yang dianggap berhasil menggerakkan ekonomi. Namun, Presiden tetap ingin realistis dalam melihat berbagai tantangan ke depan menuju target menjadi negara maju.
Presiden menyampaikan pandangannya itu sewaktu memberikan arahan dalam forum bertajuk “Indonesia Economic Outlook 2026”, di Auditorium Wisma Danantara Indonesia, Jakarta, Jumat (13/2/2026). Ajang ini dihadiri pejabat pemerintah, pelaku industri, serta akademisi untuk membahas proyeksi perekonomian nasional setahun mendatang.
“Saya percaya bahwa ekonomi kita akan sangat baik tahun ini,” kata Presiden dalam sambutannya.
Menurutnya, pemerintah telah bekerja keras menjalankan program-program prioritas yang berdampak nyata seiring menurunnya angka kemiskinan dan pengangguran terbuka. Ini disampaikan oleh sejumlah kepala daerah kepada Presiden beberapa waktu lalu.
Selain itu, Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) pada Senin (9/2/2026) lalu turut melaporkan kepada Presiden tentang peningkatan konsumsi rumah tangga pada Januari 2026. Capaian ini tidak lepas dari pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diklaim telah menggerakkan perekonomian, mulai dari desa, kelurahan, hingga kecamatan.
Menurut Presiden, ekonomi rakyat akan terus bergerak jika program itu terus bertambah penerima manfaatnya. Dengan jumlah penerima manfaat sebanyak 60 juta orang, program itu menghasilkan lebih dari 23.000 dapur.
Jika setiap dapur mempekerjakan 50 orang, berarti sudah ada lebih dari 1 juta orang yang dipekerjakan dari seluruh dapur yang beroperasi sekarang. Untuk itu, jumlah lapangan kerja dipastikan bertambah karena pemerintah menargetkan total penerima manfaat mencapai 82 juta orang.
Kita punya cita-cita yang tinggi, tetapi kita punya sikap yang realistis.
Sektor bahan baku, lanjut Presiden, ikut bergeliat lewat program pemenuhan pangan itu. Sebab, semakin banyak dapur berarti semakin banyak pula kebutuhan pemasok bahan baku. Keadaan itu seakan menjamin para petani, nelayan, dan peternak terkait sasaran pemasaran.
“Dari sinilah, dari lapisan paling bawah, Indonesia akan bangkit menjadi ekonomi yang dinamis,” kata Presiden.
Baginya, Indonesia adalah negara yang percaya diri dan memiliki tekad kuat untuk berdikari. Ia meyakini, Indonesia punya segalanya untuk menjadi bangsa yang kuat sehingga tidak bisa didikte atau dipermainkan bangsa lainnya.
Selaku kepala pemerintahan, Presiden ingin memajukan negara ini demi menyejahterakan rakyatnya. Namun, ia mengingatkan segenap anak bangsa untuk realistis dalam mencapai cita-cita itu. Kemajuan tidak bisa dicapai secara tiba-tiba. Apalagi jika capaiannya sama persis dengan negara-negara lain yang sudah maju ratusan tahun lebih dahulu.
“Kita punya cita-cita yang tinggi, tetapi kita punya sikap yang realistis. Yang penting bagi kita adalah kita harus menjaga dan mengelola seluruh kekayaan negara, seluruh sumber daya alam kita, dan kita pergunakan sebesar-besarnya untuk kepentingan seluruh rakyat Indonesia,” kata Presiden.
Pada kesempatan yang sama, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, pertumbuhan ekonomi Indonesia ditargetkan 5,4-5,6 persen pada 2026. Capaian ini ditopang sektor pertanian, industri manufaktur, digital, energi, serta implementasi program prioritas.
“Diharapkan ini menjadi sumber pertumbuhan yang mampu menyerap tenaga kerja luas, akselerasi produktivitas dan penggerak utama pendukung pembiayaan non-APBN, di antaranya melalui Danantara,” katanya.
Di sisi lain, sektor keuangan juga memegang peran strategis dalam mendukung pertumbuhan, terutama pasar modal. Melalui agenda reformasi yang tengah berlangsung, kepercayaan kepada pasar modal diharapkan dapat kembali, sehingga likuiditas pun meningkat.
Berbagai diplomasi ekonomi global yang dipimpin oleh Presiden juga diyakini membuka akses ke pasar global. Salah satunya kesepakatan Perjanjian Kemitraan Ekonomi Komprehensif Indonesia dan Uni Eropa (IEU CEPA) yang akan membuat produk RI dikenai tarif 0 persen pada 2027.
Kita memang sedikit mengorbankan fiskal pada sisi defisitnya, dari 2,5 persen sekian ke arah 2,9 persen (dari PDB). Itu adalah program kontra-siklus yang kita kerjakan untuk membalik ekonomi.
Menurut Airlangga, dibutuhkan reformasi struktural untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi 8 persen. Agenda ini mensyaratkan pengambilan kebijakan yang terprediksi, stabilitas sistem keuangan, pendalaman pasar keuangan, serta dukungan belanja masyarakat dan kinerja ekspor.
“Sekarang kita akan take-off dalam dua tahun ke depan. Tentu mesin produksi, baik itu belanja pemerintah maupun investasi pelaku usaha dan Danantara, menjadi engine yang harus bergerak secara harmonis,” ujarnya.
Ia menyontohkan, dengan dibukanya ekspor tekstil ke banyak negara, dalam 10 tahun ke depan pertumbuhan ekspor di sektor tersebut bisa meningkat hingga 10 kali lipat, sehingga menciptakan lapangan kerja lebih tinggi. Hal itu diyakini bisa tercapai dengan adanya landasan yang kuat yaitu investasi, birokrasi sederhana, penegakan hukum.
Dalam panel diskusi, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyampaikan, kebijakan fiskal akan tetap diarahkan secara ekspansif untuk mendukung pertumbuhan ekonomi. Langkah ini membutuhkan sinergi lintas lembaga, terutama koordinasi fiskal-moneter serta optimalisasi peran Danantara.
"Jadi, kita memang sedikit mengorbankan fiskal pada sisi defisitnya, dari 2,5 persen sekian ke arah 2,9 persen (dari PDB). Itu adalah program kontra-siklus yang kita kerjakan untuk membalik ekonomi dari yang turun, sekarang jadi mulai naik," katanya.
Meski demikian, ia menegaskan, fiskal akan dikelola secara hati-hati dengan tetap menjaga defisit di bawah 3 persen. Pada 2026, pemerintah menargetkan belanja sebesar Rp 3.153,6 triliun, dengan alokasi sebesar Rp 1.360,2 triliun yang diklaim akan berdampak langsung kepada masyarakat.
Di sisi lain, Purbaya memperkirakan pendapatan negara pada 2026 mencapai Rp 3.842,7 triliun, sehingga defisit APBN tahun ini diproyeksikan sebesar Rp 689,1 triliun atau setara 2,68 persen terhadap PDB, menyusut dari 2025 yang mencapai 2,92 persen.
Sementara itu, Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal serta Kepala Badan Pengelola Investasi Danantara Rosan Roeslani mengatakan, investasi juga memegang peran penting untuk mencapai target pertumbuhan 8 persen.
“Tahun ini, kami bisa mencapai pertumbuhan 6 persen,” ujarnya,




