tvOnenews.com - Nama Teddy Pardiyana kembali menjadi bahan perbincangan publik imbas tuntutannya dalam sidang penetapan ahli waris Lina Jubaedah.
Selain soal dugaan penggelapan aset warisan milik Rizky Febian, kini terungkap pula apa sebenarnya pekerjaan Teddy selama ini setelah kepergian sang istri.
Bukan rahasia lagi bahwa sejak Lina meninggal dunia, kehidupan ekonomi Teddy dikabarkan jauh dari kata stabil.
Namun, baru-baru ini, kesaksian orang dekatnya menguak bagaimana perjalanan hidup pria itu, dari satu usaha ke usaha lainnya yang selalu berakhir gagal.
Sebelum membahas pekerjaan Teddy, banyak yang mempertanyakan kenapa putri mendiang Lina dan Teddy, Bintang, justru tidak diasuh langsung oleh sang ayah kandung.
Dari kesaksian Pak Ecet, sopir yang semasa hidupnya bekerja untuk Lina, diketahui bahwa Bintang tinggal berpindah-pindah bersama keluarga lain yang lebih stabil secara ekonomi.
“Dede Bintang udah enak sama Pak Haji baik banget, kasihkan aja. Kan kalau A Iky juga kayak saudara sama Pak Haji kalau lebaran nengok, kalau Dede Bintang libur suka di Teteh Putri gitu tinggal di sini kayak kemarin juga,” ujar Pak Ecet.
- YouTube Cumicumi
Hal ini menimbulkan dugaan kuat bahwa Teddy tidak memiliki pekerjaan tetap, sehingga tak sanggup mengurus anaknya sendiri.
Dalam kesaksiannya, Pak Ecet juga membongkar sejumlah usaha yang sempat dijalankan Teddy bersama mendiang Lina.
Sayangnya, hampir semua bisnis tersebut tak pernah bertahan lama.
“Udah gitu aja, usaha aja kan dia mah usahanya waktu sama almarhumah ada buka material. Nyewa sampai 5 tahun Rp400 juta, modal Rp600 juta sampai habis. Ayam geprek itu modal Rp300 juta sewa, belum alat-alat Rp200 juta beli, habis 8 bulan nggak nyampai 2 tahun,” kata Pak Ecet.
Usaha material dan kuliner ayam geprek itu konon ditutup setelah merugi ratusan juta rupiah.
Modal yang seharusnya bisa digunakan untuk masa depan keluarga justru habis tanpa hasil.
Tidak berhenti sampai di situ, Teddy juga sempat mencoba membuka bisnis agen LPG. Namun, lagi-lagi langkah tersebut tidak bertahan lama.




