FAJAR, SURABAYA — Pertemuan antara Persebaya Surabaya dan Bhayangkara Presisi Lampung FC pada pekan ke-21 Super League 2025/2026 bukan sekadar pertandingan biasa. Ada riwayat, ada memori, dan ada catatan yang belum sepenuhnya selesai.
Di balik euforia ribuan Bonek di Stadion Gelora Bung Tomo, terselip satu cerita personal: Bernardo Tavares belum pernah meraih kemenangan atas Paul Munster.
Catatan itu mungkin terlihat sederhana di atas kertas. Namun dalam dunia sepak bola yang sarat gengsi, statistik semacam itu bisa menjelma menjadi bayang-bayang yang mengganggu.
Dari Parepare: Luka di Kandang Sendiri
Kisahnya bermula ketika Tavares masih menukangi PSM Makassar. Pada 7 Maret 2025, di Stadion Gelora BJ Habibie, PSM menjamu Persebaya yang saat itu dilatih Munster.
Secara atmosfer, PSM lebih diunggulkan. Bermain di kandang sendiri, dengan dukungan publik Parepare yang dikenal militan, seharusnya menjadi keuntungan. Namun sepak bola jarang tunduk pada logika sederhana.
Persebaya tampil disiplin. Munster membaca ritme pertandingan dengan presisi. Formasi 4-3-3 defensif yang menjadi cirinya membuat lini serang PSM kehilangan ruang. Satu gol cukup untuk meredam ambisi tuan rumah. Skor 0-1 bertahan hingga peluit panjang.
Bagi Tavares, kekalahan itu menyisakan ironi. Ia kalah bukan karena dominasi lawan, melainkan karena detail kecil—momen yang tak terjaga, konsentrasi yang terlepas sepersekian detik. Kekalahan di kandang sendiri selalu terasa dua kali lebih pahit.
Kini di Surabaya: Tekanan Berbalik Arah
Musim berganti, dinamika berubah. Tavares kini memimpin Persebaya Surabaya. Ironisnya, ia justru kembali berhadapan dengan Munster yang kini membawa Bhayangkara Presisi Lampung FC.
Pertandingan di Stadion Gelora Bung Tomo Sabtu malam nanti menyuguhkan drama tersendiri. Empat figur Bhayangkara—Munster, Mustaqim, Sho Yamamoto, dan Slavko Damjanovic—pernah menjadi bagian penting Persebaya. Mereka datang bukan sekadar sebagai lawan, tetapi sebagai orang-orang yang memahami isi ruang ganti dan karakter tribun GBT.
Munster, yang pernah menukangi Persebaya pada 1 Januari 2024 hingga 31 Mei 2025, tahu benar bagaimana atmosfer GBT bisa berubah menjadi energi tambahan bagi tuan rumah—atau tekanan besar jika situasi tak berjalan sesuai rencana.
Justru karena itu, laga ini terasa personal bagi Tavares.
Jika saat di PSM ia kalah di kandang sendiri, kini ia tak boleh terpeleset di rumah barunya. Publik Surabaya sedang menikmati tren positif Green Force. Momentum sedang terbangun. Kekalahan dari pelatih yang pernah menang darinya bisa mengusik stabilitas itu.
Duel Dua Karakter
Secara filosofi, keduanya memiliki pendekatan berbeda. Tavares dikenal fleksibel dalam struktur taktik, kerap menyesuaikan strategi dengan lawan. Munster, sebaliknya, menonjolkan disiplin struktur dan transisi cepat.
Pertemuan keduanya sering kali tak menghasilkan pesta gol, melainkan duel taktis yang ketat. Detail kembali menjadi kata kunci—seperti yang pernah diakui banyak pelatih: sepak bola ditentukan oleh momen kecil.
Rekor tanpa kemenangan atas Munster bisa menjadi tekanan psikologis. Namun bisa pula menjadi bahan bakar motivasi. Dalam sepak bola, narasi semacam ini sering menjadi pemantik performa ekstra. Pelatih, seperti halnya pemain, memiliki ego profesional yang ingin ditebus.
Bagi Tavares, laga ini bukan sekadar soal tiga poin. Ini tentang memutus tren, tentang menutup bab lama yang belum selesai sejak malam di Parepare itu.
Sementara bagi Munster, kembali ke GBT sebagai lawan menghadirkan tantangan emosional. Ia pernah berdiri di sisi yang dielu-elukan. Kini ia akan menghadapi sorakan yang berbeda nada.
Antara Statistik dan Takdir
Sepak bola Indonesia dalam beberapa musim terakhir menunjukkan satu hal: statistik tidak selalu menjamin arah masa depan. Rekor bisa runtuh dalam satu malam, seperti halnya dominasi bisa berakhir dalam satu kesalahan.
Namun catatan tetaplah catatan. Hingga kini, Tavares belum pernah menang atas Munster. Dan setiap pelatih tentu ingin menghapus baris yang terasa ganjil dalam perjalanan kariernya.
Sabtu malam di GBT akan menjadi panggung berikutnya. Apakah ini saatnya Tavares memutus rekor buruk itu? Ataukah Munster kembali memperpanjang catatan tak terkalahkannya dalam duel personal mereka?
Yang pasti, di balik gemuruh tribun dan sorot lampu stadion, ada cerita yang lebih dalam dari sekadar skor akhir. Ada gengsi, ada memori, dan ada upaya membuktikan bahwa masa lalu tak selalu menentukan masa depan.





