Jakarta, ERANASIONAL.COM – Aktor senior sekaligus musisi legendaris Ikang Fawzi kembali menunjukkan perannya sebagai ayah yang suportif di tengah sorotan publik terhadap putrinya, Chiki Fawzi. Di tengah isu yang berkembang mengenai kepanitiaan haji 2026, Ikang memilih berdiri di sisi anaknya dengan sikap tenang dan penuh keyakinan.
Nama Chiki Fawzi belakangan ramai diperbincangkan setelah ia mengaku tidak lagi menjadi bagian dari panitia haji 2026. Pernyataan tersebut memicu berbagai spekulasi di ruang publik. Namun, di tengah perbincangan yang bergulir, Ikang Fawzi menegaskan bahwa dukungan terhadap anak-anaknya tidak pernah berubah.
Saat ditemui di kawasan Grand Indonesia, Jakarta Pusat, Kamis (12/2/2026), Ikang berbicara lugas namun penuh makna mengenai situasi yang dihadapi putrinya.
“Aku sangat support anak-anakku ya. Anakku kan main di film yang sama kayak aku. Dia main di sini juga, ya peran seperti apa pun dia lakukan dengan sangat baik,” ujarnya.
Bagi Ikang, kebanggaan terhadap anak tidak semata-mata diukur dari pencapaian karier atau jabatan tertentu. Ia justru menekankan pentingnya karakter, pola pikir, dan tanggung jawab sebagai bekal utama menghadapi kehidupan.
Ia mengaku bersyukur karena anak-anaknya tumbuh menjadi pribadi yang kritis dan berani menyuarakan pendapat. Nilai tersebut, menurutnya, jauh lebih penting dibanding sekadar posisi atau pengakuan formal.
“Tapi intinya adalah aku sangat senang sekali mempunyai anak-anak yang kritis dan bertanggung jawab,” katanya.
Dalam pandangannya, generasi muda memang harus memiliki keberanian untuk berpikir mandiri. Sikap kritis bukan berarti melawan, melainkan kemampuan untuk menilai sesuatu secara objektif dan bertanggung jawab atas pilihan yang diambil.
“Anak muda tuh harus seperti itu, karena anak muda tuh harus kritis dan bertanggung jawab karena masa depan milik mereka,” tuturnya.
Ia pun menambahkan bahwa masa depan tidak datang begitu saja tanpa usaha.
“Masa depan itu nggak gratis, mereka harus merebut masa depan mereka sendiri,” lanjutnya tegas.
Terkait polemik yang menimpa Chiki, Ikang tidak menampik bahwa ada perasaan tersendiri sebagai seorang ayah. Namun, ia memilih untuk tidak larut dalam emosi dan lebih melihatnya sebagai bagian dari dinamika kehidupan.
“Bukan sedih, saya tersinggung, tapi saya pikir ya itu urusan dari lu punya gawean, ya suka-suka lu lah. Lu mau tidak bijaksana, itu urusan lu,” ungkapnya.
Pernyataan tersebut mencerminkan sikap tegas sekaligus realistis. Ia menyadari bahwa dalam kehidupan profesional, setiap keputusan memiliki pertimbangan masing-masing. Namun yang terpenting baginya adalah bagaimana sang anak merespons situasi tersebut.
Alih-alih terpukul, Chiki justru menunjukkan kedewasaan berpikir yang membuat Ikang semakin bangga. Ia mengungkapkan bahwa putrinya memaknai kejadian itu sebagai bagian dari ketetapan Tuhan.
“Tapi yang jelas satu hal yang aku dapatkan dari anakku adalah ‘Ayah, Chiki bisa naik haji itu semuanya atas izin Allah’, udah that’s mean everything,” jelas Ikang.
Bagi Ikang, kalimat tersebut bukan sekadar penghiburan, melainkan cerminan keimanan dan keteguhan hati. Ia melihat bahwa putrinya mampu menempatkan persoalan dalam perspektif spiritual yang lebih luas.
Ikang menilai bahwa keyakinan kepada takdir adalah bentuk kedewasaan yang sesungguhnya. Tidak semua rencana manusia berjalan sesuai harapan, dan terkadang kegagalan justru menjadi perlindungan dari sesuatu yang lebih besar.
“Berarti yang dilakukan sebelumnya itu tidak diizinkan, tidak apa, tidak baik nantinya loh gitu. Menguatkannya dengan percaya sama dia aja,” pungkasnya.
Sikap tersebut menunjukkan bahwa Ikang tidak ingin polemik yang berkembang justru mengganggu mental dan kepercayaan diri anaknya. Sebagai orang tua, ia memilih memberikan penguatan moral dan kepercayaan penuh.
Di dunia hiburan yang penuh dinamika, sosok orang tua sering kali menjadi sandaran utama bagi anak-anak yang juga berkarier di industri yang sama. Ikang Fawzi dikenal sebagai figur ayah yang konsisten mendampingi perjalanan anak-anaknya, baik dalam dunia seni maupun kehidupan pribadi.
Dukungan itu tidak selalu diwujudkan dalam bentuk pembelaan terbuka, tetapi melalui penanaman nilai sejak dini: kemandirian, tanggung jawab, serta kepercayaan pada proses.
Dalam situasi seperti ini, publik bisa melihat bahwa hubungan ayah dan anak tersebut dibangun di atas fondasi komunikasi dan kepercayaan. Ketika isu datang, respons yang ditunjukkan bukan kemarahan berlebihan, melainkan refleksi dan keyakinan.
Isu yang berkembang mengenai panitia haji 2026 memang sempat memancing perhatian. Namun bagi Ikang, yang terpenting bukanlah bagaimana publik menilai, melainkan bagaimana keluarganya menyikapi dengan kepala dingin.
Ia percaya bahwa setiap individu memiliki jalan hidup masing-masing. Jika suatu kesempatan tidak terjadi, bukan berarti kegagalan, melainkan bagian dari skenario yang lebih besar.
Sikap tersebut sekaligus menjadi pesan moral bagi generasi muda saat menghadapi sorotan publik membutuhkan mental kuat dan fondasi nilai yang kokoh. Kritik, spekulasi, atau keputusan yang tidak sesuai harapan harus dijawab dengan kedewasaan, bukan dengan reaksi emosional.
Di akhir pernyataannya, Ikang kembali menegaskan bahwa sebagai ayah, ia akan selalu berada di belakang anak-anaknya.
Baginya, dukungan bukan berarti membenarkan semua hal, tetapi mempercayai bahwa anak telah dibekali nilai yang cukup untuk mengambil keputusan terbaik.
Dalam situasi yang tidak mudah, justru terlihat bagaimana hubungan keluarga menjadi sumber kekuatan utama. Dan bagi Ikang Fawzi, kebanggaan terbesar bukan sekadar pencapaian anak, melainkan kemampuan mereka berdiri tegak, berpikir kritis, serta tetap percaya pada ketetapan Tuhan.
Di tengah riuhnya isu, satu hal yang jelas: dukungan seorang ayah tetap kokoh, tanpa syarat.





