Ketika Rumah Tak Lagi Nyaman

kumparan.com
3 jam lalu
Cover Berita

Rumah kerap dimaknai sebagai ruang paling aman dan nyaman untuk pulang. Namun, realitas sosial menunjukkan bahwa tidak semua rumah mampu menghadirkan rasa aman tersebut. Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat sebanyak 394.608 kasus perceraian terjadi di Indonesia sepanjang tahun 2024. Angka ini tidak hanya merepresentasikan keretakan hubungan pasangan, tetapi juga menyimpan potensi luka emosional yang mendalam, khususnya bagi anak yang tumbuh di tengah konflik keluarga.

Meski demikian, persoalan hilangnya makna “Rumah” tidak selalu bermula dari perceraian atau kondisi broken home. Dalam banyak kasus yang berada di lingkungan saya, rumah tetap utuh secara fisik, orang tua masih hadir di dalamnya, namun kehangatan dan rasa aman perlahan menghilang. Rumah menjadi ruang yang berisik, sumpek, dan penuh tekanan emosional. Suara anak tidak lagi didengarkan, sementara pendapat dan penjelasan kerap dianggap sebagai bentuk pembangkangan. Dalam kondisi seperti ini, kata kata orang tua dapat menjelma menjadi “pisau” paling tajam, melukai perasaan anak tanpa disadari.

Ironisnya, banyak orang tua meyakini bahwa perkataan keras yang dilontarkan merupakan bentuk didikan demi kebaikan anak. Namun, alih-alih membangun karakter positif, pola komunikasi semacam ini justru menciptakan jarak emosional. Anak tumbuh menjadi pribadi yang pendiam, enggan terbuka, dan terbiasa memendam perasaan. Tidak jarang, kebohongan pun tercipta sebagai mekanisme bertahan atau defences mecanism, akibat ketiadaan ruang aman untuk bicara dan berpendapat.

Perbedaan pola asuh ini terlihat jelas ketika membandingkan anak yang tumbuh dalam lingkungan keluarga yang suportif dengan mereka yang tumbuh dalam relasi emosional yang rapuh. Anak yang mendapatkan validasi, dukungan, serta kasih sayang yang konsisten cenderung berkembang menjadi individu yang percaya diri, terbuka, dan berani mengekspresikan pendapat. Sebaliknya, anak yang tumbuh tanpa kehangatan emosional dan penghargaan sering ali berkembang menjadi pribadi yang haus akan validasi, menarik diri bahkan membangun mekanisme manipulatif demi memperoleh perhatian.

Ketika rumah tak lagi menjadi tempat berlindung, anak kehilangan pijakan emosinya. Mereka dipaksa mencari rasa aman di luar, pada lingkungan yang belum tentu mampu memberikan perlindungan yang sehat. Kondisi ini tidak hanya berdampak pada kesehatan mental jangka pendek, tetapi juga membentuk pola relasi, kepercayaan diri, dan cara memaknai diri hingga dewasa.

Pada akhirnya, rumah bukan sekadar bangunan fisik, melainkan ruang emosional yang membentuk kepribadian. Membangun rumah yang aman dan nyaman bukan soal kemewahan materi, melainkan kesediaan untuk mendengar, memahami, dan memeluk perasaan anak.Sebab, ketika anak sudah tak lagi mempunyai pegangan, dan rumah tak lagi jadi tempat berlindung yang aman dan nyaman, lantas ke mana lagi anak harus bersandar?


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Lansia Rentan Kekurangan Gizi, Dokter Soroti 6 Nutrisi Penting Ini
• 10 jam lalumediaindonesia.com
thumb
Saksi Akui Terima “Uang Terima Kasih” di Sidang Dugaan Pemerasan Sertifikasi K3
• 10 jam lalutvrinews.com
thumb
Diduga Terima Uang dari Bandar Narkoba, Kapolres Bima Kota Hadapi Dua Jalur Hukum!
• 12 jam lalurctiplus.com
thumb
Prabowo Beri Bintang Jasa ke Kepala BGN, Wakapolri, hingga Pengusaha
• 16 jam lalukumparan.com
thumb
Raja Charles Diteriaki Warga Imbas Nama Pangeran Andrew Muncul di Epstein Files
• 18 jam lalukatadata.co.id
Berhasil disimpan.