Bisnis.com, JAKARTA- Asosiasi Kedelai Indonesia (Akindo) memastikan ketersediaan kedelai dalam negeri tetap terjaga, baik menjelang, selama, maupun setelah Ramadan dan Idulfitri.
Ketua Akindo Hidayatullah Suralaga menyebut stok kedelai rata-rata cukup untuk memenuhi kebutuhan sekitar 1,5 bulan, khususnya bagi perajin tahu dan tempe nasional.
Konsumsi kedelai nasional saat ini berada di kisaran 2,7–2,9 juta ton per tahun. Sekitar 90% kebutuhan tersebut masih dipenuhi dari impor, sementara sisanya berasal dari produksi dalam negeri.
“Menjelang, selama, dan pasca bulan puasa Ramadan dan Idulfitri stok kedelai di dalamnegeri selalu tersedia. Rata-rata cukup untuk memenuhi kebutuhan sekitar 1,5 bulan, khususnya bagi perajin tempe dan tahu nasional,” ujarnya melalui keterangan resmi, Jumat (13/2/2026).
Namun menariknya, berdasarkan pengalaman tahun-tahun sebelumnya, Ramadan tidak selalu diikuti lonjakan permintaan kedelai.
Hal ini terjadi karena sebagian perajin tahu dan tempe, terutama di wilayah Jakarta dan sekitarnya, mulai mudik sekitar dua minggu sebelum Lebaran dan kembali dua minggu setelahnya. Pola ini membuat kebutuhan kedelai bulanan relatif stabil di kisaran 220 ribu ton, tanpa lonjakan signifikan.
Baca Juga
- Lonjakan Pasokan Minyak Kedelai Bayangi Harga CPO
- OPINI : Bungkil Kedelai, Peternak Ayam, dan Rente Ekonomi
- OPINI : Bungkil Kedelai, Peternak Ayam, dan Rente Ekonomi
Dengan pola konsumsi yang cenderung stabil tersebut, risiko gejolak pasokan dinilai minim.
Terkait laporan kenaikan harga kedelai di sejumlah wilayah Jawa Timur seperti Surabaya, Jember, Malang, Bondowoso, Situbondo, Blitar, Ponorogo, dan Tuban, Akindo menilai harga di kisaran Rp10.000 per kilogram di tingkat perajin masih dalam rentang wajar.
Menurut asosiasi, harga tersebut telah memperhitungkan harga jual importir serta biaya logistik dan distribusi dari pelabuhan hingga ke sentra produksi tahu-tempe.
“Secara umum harga di tingkat perajin masih dalam batas yang dapat dipahami secara ekonomi,” tegas Akindo.
Meski stok aman, ketergantungan impor yang mencapai 90% tetap menjadi faktor yang perlu diantisipasi, terutama terkait fluktuasi nilai tukar dan harga global.
Namun untuk jangka pendek, kombinasi surplus stok nasional, pola konsumsi yang stabil saat Ramadan, serta komitmen importir menjaga distribusi membuat pasokan kedelai relatif terkendali.
Dalam Rapat Dengar Pendapat bersama Komisi IV DPR RI, Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) Andi Amran Sulaiman menyampaikan bahwa ketersediaan pangan strategis utama, termasuk kedelai, berada dalam kondisi mencukupi.
Berdasarkan neraca pangan hingga akhir Maret 2026, stok kedelai nasional tercatat sekitar 629.000 ton, sementara kebutuhan konsumsi Februari–Maret 2026 diperkirakan 453.000 ton. Artinya, terdapat surplus sekitar 176.000 ton.




