Semarang (ANTARA) - Kementerian Kebudayaan menilai pentingnya edukasi, riset, dan kegiatan berbasis akademisi penting untuk menjaga nilai-nilai yang terkandung dalam keris sebagai warisan budaya leluhur.
Staf Khusus Menteri Kebudayaan Bidang Sejarah dan Pelindungan Warisan Budaya Basuki Teguh Yuwono, di Semarang, Jumat (14/2), menilai penting adanya pendidikan formal mengenai budaya perkerisan.
Hal tersebut disampaikannya saat pembukaan Pameran Pusaka Nasional "Keris re(imagined): Napas Baru Warisan Leluhur" yang berlangsung di Hotel Front One HK Semarang.
Saat ini, kata dia, Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta memiliki Program Studi Senjata Tradisional Keris, sebagai jurusan pendidikan vokasi (S4) yang telah melahirkan banyak lulusan.
"Banyak sekali seniman-seniman perkerisan ini yang sudah banyak yang lulus magister bahkan beberapa yang doktor dan sebagainya. Ini menjadi satu perangkat di dalam membangun edukasi kepada generasi muda jadi lebih mudah," katanya.
Diakuinya, masih banyak masyarakat yang menganggap keris identik dengan klenik atau mistis, tanpa melihat secara utuh nilai-nilai budaya yang dikandung keris yang sebenarnya.
"Di situ perlu ada bagaimana informasi itu menghindari adanya pembiasan-pembiasan yang seringkali terjadi, juga perlu meluruskan berdasarkan kaidah-kaidah yang lebih ilmiah," katanya.
Baca juga: Puluhan pusaka seluruh nusantara dipamerkan di Semarang
Menurut dia, perangkat akademis dan riset ilmiah secara proporsional mampu memberikan informasi secara lebih utuh dan tidak terjebak dalam satu perdebatan yang tidak berujung atau debat kusir.
"Misalnya pemahaman-pemahaman keris identik dengan klenik, musyrik, dan sebagainya. Tentu kita harus menyediakan satu perangkat yang lebih proporsional. Bagaimana perangkat-perangkat berbasis akademisi ini dibangun dengan baik, riset-riset, dan sebagainya," katanya.
Sementara itu, Kepala Bidang Pelindungan Kebudayaan, Dinas Kebudayaan, Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Jateng Eris Yunianto menegaskan bahwa yang perlu dikedepankan dari keris adalah nilainya.
"Ketika (bicara dapurnya, red.) tilam ulih, jalak dinding itu ada maknanya semua, ada filosofinya. Belum lagi bicara pamor. Itu sebetulnya menuntun manusia dalam kehidupan dan membangun harmoni," katanya.
Sejauh ini, kata dia, proses regenerasi pecinta keris sudah berjalan baik, misalnya adanya muatan lokal di sekolah hingga perkuliahan khusus mempelajari tentang senjata pusaka.
"Tentu ini pun akan bergantung pada bagaimana kapasitas sumber daya yang ada. Apakah teman-teman guru menjadi salah satu sumber daya yang mampu menjelaskan atau mentransmisikan keris sebagai entitas karya budaya yang memiliki nilai luhur luar biasa atau belum?" katanya.
Selain itu, Eris mengingatkan bahwa kekuatan komunitas juga menjadi pilar utama yang berperan untuk mentransmisikan nilai-nilai kebudayaan itu kepada generasi muda.
"Harus diingat kekuatan transmisi itu justru lebih berasal dari komunitas. Komunitas inilah sebetulnya pilar utama yang menjembatani antara pelestarian ini dan kepentingan negara," katanya.
Baca juga: Museum NTB perluas jaringan internasional bersama Museum of Sydney
Staf Khusus Menteri Kebudayaan Bidang Sejarah dan Pelindungan Warisan Budaya Basuki Teguh Yuwono, di Semarang, Jumat (14/2), menilai penting adanya pendidikan formal mengenai budaya perkerisan.
Hal tersebut disampaikannya saat pembukaan Pameran Pusaka Nasional "Keris re(imagined): Napas Baru Warisan Leluhur" yang berlangsung di Hotel Front One HK Semarang.
Saat ini, kata dia, Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta memiliki Program Studi Senjata Tradisional Keris, sebagai jurusan pendidikan vokasi (S4) yang telah melahirkan banyak lulusan.
"Banyak sekali seniman-seniman perkerisan ini yang sudah banyak yang lulus magister bahkan beberapa yang doktor dan sebagainya. Ini menjadi satu perangkat di dalam membangun edukasi kepada generasi muda jadi lebih mudah," katanya.
Diakuinya, masih banyak masyarakat yang menganggap keris identik dengan klenik atau mistis, tanpa melihat secara utuh nilai-nilai budaya yang dikandung keris yang sebenarnya.
"Di situ perlu ada bagaimana informasi itu menghindari adanya pembiasan-pembiasan yang seringkali terjadi, juga perlu meluruskan berdasarkan kaidah-kaidah yang lebih ilmiah," katanya.
Baca juga: Puluhan pusaka seluruh nusantara dipamerkan di Semarang
Menurut dia, perangkat akademis dan riset ilmiah secara proporsional mampu memberikan informasi secara lebih utuh dan tidak terjebak dalam satu perdebatan yang tidak berujung atau debat kusir.
"Misalnya pemahaman-pemahaman keris identik dengan klenik, musyrik, dan sebagainya. Tentu kita harus menyediakan satu perangkat yang lebih proporsional. Bagaimana perangkat-perangkat berbasis akademisi ini dibangun dengan baik, riset-riset, dan sebagainya," katanya.
Sementara itu, Kepala Bidang Pelindungan Kebudayaan, Dinas Kebudayaan, Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Jateng Eris Yunianto menegaskan bahwa yang perlu dikedepankan dari keris adalah nilainya.
"Ketika (bicara dapurnya, red.) tilam ulih, jalak dinding itu ada maknanya semua, ada filosofinya. Belum lagi bicara pamor. Itu sebetulnya menuntun manusia dalam kehidupan dan membangun harmoni," katanya.
Sejauh ini, kata dia, proses regenerasi pecinta keris sudah berjalan baik, misalnya adanya muatan lokal di sekolah hingga perkuliahan khusus mempelajari tentang senjata pusaka.
"Tentu ini pun akan bergantung pada bagaimana kapasitas sumber daya yang ada. Apakah teman-teman guru menjadi salah satu sumber daya yang mampu menjelaskan atau mentransmisikan keris sebagai entitas karya budaya yang memiliki nilai luhur luar biasa atau belum?" katanya.
Selain itu, Eris mengingatkan bahwa kekuatan komunitas juga menjadi pilar utama yang berperan untuk mentransmisikan nilai-nilai kebudayaan itu kepada generasi muda.
"Harus diingat kekuatan transmisi itu justru lebih berasal dari komunitas. Komunitas inilah sebetulnya pilar utama yang menjembatani antara pelestarian ini dan kepentingan negara," katanya.
Baca juga: Museum NTB perluas jaringan internasional bersama Museum of Sydney




