Ketergantungan pada Platform Digital dan Risiko Bisnis Brand

katadata.co.id
14 jam lalu
Cover Berita

Di pemasaran digital, banyak brand terlihat tumbuh karena view naik, followers bertambah, live ramai, dan penjualan marketplace stabil. Angka ini sering terasa seperti bukti bahwa strategi sudah benar. Tapi ketika algoritma berubah, iklan makin mahal, atau akun dibatasi, pertumbuhan itu bisa hilang seketika. Di sini bedanya aset dan akses: akses bisa dicabut, aset bisa dipakai kapan pun.

Ketergantungan pada platform bukan sekadar isu marketing, melainkan isu strategi bisnis. Platform memegang distribusi, data, dan aturan main. Brand yang tidak punya aset audiens sendiri seperti berdiri di lahan sewa: rapi, ramai, tapi sewanya dapat naik kapan saja. Di saat yang sama, pemilik lahan berhak mengubah peraturan tanpa perlu meminta izin.

Ketika Platform Jadi Gerbang, Brand Jadi Penyewa

Platform adalah gerbang. Kadang konten didorong, kadang tenggelam. Kadang promo terasa menolong, lalu berubah menjadi kompetisi bakar biaya. Ini wajar karena insentif platform berubah mengikuti target mereka, seperti engagement, jam tayang, atau GMV.

Yang sering luput adalah konsekuensi psikologisnya. Ketika pembeli makin sering berinteraksi lewat antarmuka platform, yang melekat di kepala bukan brand, melainkan format platformnya. Konsumen ingat fitur gratis ongkir, ingat voucher, ingat flash sale, tapi sulit mengingat alasan unik mengapa mereka memilih brand tertentu.

Risiko paling terasa ketika brand bergantung pada satu kanal. Visibilitas bisa turun tanpa penjelasan yang jelas bagi publik. Lalu biaya akuisisi naik karena jangkauan organik yang dulu terasa gratis kini harus ditebus lewat iklan. Ketika biaya naik, banyak brand merespons dengan menambah diskon. Akhirnya bukan hanya margin yang turun, tetapi juga persepsi nilai.

Risiko Nyata, Bukan Cuma Reach

Ketergantungan biasanya memicu tiga efek berantai. Penjualan menjadi volatil karena trafik mengikuti algoritma, kebijakan promosi, atau perang harga. Biaya akuisisi naik karena saat organik melemah, iklan harus ditambah untuk hasil yang sama. Hubungan pelanggan juga rapuh karena transaksi terjadi, tetapi brand tidak punya cara sederhana untuk menghubungi pembeli lama di luar platform.

Ada satu efek tambahan yang sering lebih mahal: hilangnya kontrol atas narasi. Di platform, brand berkompetisi berdampingan dengan ratusan penjual lain, termasuk yang memakai cara manipulatif. Konsumen lalu menilai kategori, bukan menilai brand. Ketika terjadi isu layanan, pengiriman, atau review negatif, brand juga kesulitan menenangkan pelanggan karena jalur komunikasinya dibatasi oleh fitur platform.

UMKM Marketplace dan Viral Sesaat

Pola ini mudah dilihat pada UMKM yang tumbuh cepat lewat lokapasar. Awalnya ideal karena trafik sudah ada dan promosi mudah, tetapi saat kompetisi padat, toko dipaksa bermain diskon, voucher, dan iklan agar tetap terlihat. Margin tergerus, dan yang menempel di ingatan konsumen sering kali promonya atau platformnya, bukan brandnya. Ketika promo berhenti, pembeli pindah.

Di beberapa kategori, misalnya fesyen, skincare, dan makanan kemasan, UMKM sering mengalami siklus berikut: naik cepat karena ikut program promosi, lalu turun ketika program berganti, lalu naik lagi dengan cara yang sama. Secara kas masuk, ini terlihat seperti pertumbuhan. Tetapi jika dilihat lebih dekat, itu lebih mirip ketergantungan pada pulsa promosi.

Di media sosial, brand yang mengandalkan konten viral sering mengalami pola serupa. Penjualan bisa meledak, tetapi tanpa sistem untuk mengubah audiens menjadi aset, viral hanya kejadian sesaat, bukan mesin pertumbuhan. Banyak akun ramai komentar, tetapi setelah tren lewat, yang tersisa hanya follower pasif. Brand lalu mengejar viral berikutnya, dan siklusnya berulang.

Aset Audiens Itu Apa

Aset audiens berarti kemampuan menjangkau pelanggan tanpa menunggu kemurahan algoritma. Bentuknya bisa sederhana: database pelanggan yang sah dan rapi, kanal komunikasi langsung seperti WhatsApp opt in atau email, website yang punya trafik berulang, membership, atau komunitas yang membuat orang kembali karena value, bukan karena iklan.

Kuncinya ada pada izin dan kebiasaan. Aset audiens bukan sekadar punya nomor WhatsApp pelanggan, tetapi punya alasan yang relevan untuk menghubungi mereka, dengan persetujuan yang jelas. Aset audiens juga bukan sekadar punya website, tetapi punya pengalaman yang membuat pelanggan nyaman kembali, misalnya kemudahan reorder, rekomendasi pemakaian, garansi, dan dukungan purna jual.

Ukur yang Penting

Dalam  artikel ini, pembaca tidak perlu tenggelam dalam definisi metrik. Cukup cek tiga hal. Pertama, seberapa banyak pelanggan kembali membeli tanpa dipancing promo besar. Kalau setiap pembelian selalu harus ditemani diskon, berarti hubungan yang terbentuk masih rapuh.

Kedua, seberapa murah menjual ke pelanggan lama dibanding mencari pelanggan baru. Jika biaya untuk mendapatkan pembeli baru terus naik, tetapi pembelian ulang tidak ikut naik, berarti brand sedang membayar mahal untuk mengulang dari nol.

Ketiga, seberapa besar penjualan datang dari jalur langsung seperti repeat order, referral, komunitas, dan kanal milik sendiri. Ini indikator sederhana untuk menilai apakah brand punya kontrol atau sekadar menumpang arus.

Cara Mengurangi Risiko

Mengurangi ketergantungan bukan berarti meninggalkan platform. Platform tetap penting untuk discovery, tetapi aset sendiri yang menjaga hubungan. Karena itu, perannya perlu di balik: platform untuk menjaring, aset sendiri untuk memelihara.

Praktiknya bisa dimulai dari langkah kecil yang konsisten. Diversifikasi kanal agar tidak bertumpu pada satu sumber. Bangun jalur milik sendiri sejak awal lewat layanan purna jual yang mendorong opt in, misalnya update pengiriman, panduan pemakaian, dan layanan garansi yang mengarahkan pelanggan ke kanal langsung. Siapkan program loyalti yang ringan, tidak harus rumit, yang penting membuat pelanggan punya alasan kembali.

Lalu disiplin menangkap data secara etis agar perhatian tidak berhenti di angka ramai. Data yang paling bernilai untuk UMKM biasanya bukan yang paling canggih, tetapi yang paling bisa dipakai untuk keputusan sehari hari: siapa pelanggan yang sering beli, produk apa yang membuat orang kembali, dan pesan apa yang membuat komplain turun.

Terakhir, perkuat alasan memilih. Saat platform mendorong perang harga, brand yang punya alasan memilih akan lebih tahan. Alasan ini bisa berupa kualitas yang konsisten, pengalaman yang lebih mudah, atau layanan yang lebih manusiawi. Ini bukan slogan. Ini harus terlihat dalam cara brand merespons, mengemas, mengantar, dan menindaklanjuti.

Penutup

Ketergantungan pada platform tampak efisien sampai guncangan pertama datang. Brand yang punya aset audiens tetap berdiri karena memiliki hubungan langsung. Brand yang hanya punya akses akan kembali membayar mahal agar ditolong algoritma.

Pada akhirnya pertanyaannya bukan platform mana paling efektif, melainkan seberapa besar kontrol brand atas hubungan dengan pelanggan. Di situlah beda antara tumbuh cepat dan tumbuh tahan lama.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Emas Antam Terbang Rp50.000 ke Rp2,95 Juta per Gram, Buyback Ikut Naik
• 8 jam lalutvonenews.com
thumb
Firman Soebagyo Sebut Stok Beras Nasional Aman Jelang Ramadhan dan Lebaran
• 3 jam lalupantau.com
thumb
Purbaya Telah Siapkan Pengganti Masyita yang Pindah ke Danantara
• 21 jam lalukatadata.co.id
thumb
Pemotor Siswi SMA di Tangerang Tewas Terlindas Truk gegara Jalan Berlubang
• 22 jam laludetik.com
thumb
Bahlil: Pemerintah Komitmen Jaga Ketersediaan Energi untuk Generasi Anak Cucu
• 22 jam laludisway.id
Berhasil disimpan.