Apa yang bisa Anda pelajari dari artikel ini?
- Apakah benar bencana lebih sering terjadi pada akhir tahun atau hanya sekadar mitos?
- Mengapa dampak bencana di Indonesia tetap besar meskipun polanya berulang dan faktor penyebabnya sudah diketahui?
- Apa yang dibutuhkan agar mitigasi bencana lebih efektif?
- Bagaimana perpaduan antara pengetahuan tradisional dan sains modern dapat memperkuat mitigasi bencana?
- Mengapa risiko bencana di Indonesia masih tinggi meskipun upaya mitigasi telah dilakukan?
Anggapan bahwa bencana lebih sering terjadi pada akhir tahun bisa dibilang hanyalah mitos. Berdasarkan analisis Tim Jurnalisme Data Harian Kompas terhadap 51.375 kejadian bencana catatan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) pada periode 2008-2026, justru 36,6 persen bencana terjadi pada triwulan pertama (Januari-Maret). Pada Januari tercatat 6.881 kejadian (13,39 persen).
Meskipun jumlah bencana meningkat pada triwulan keempat (Oktober-Desember), proporsinya masih berada di bawah triwulan pertama.
Pola ini terutama didominasi oleh bencana hidrometeorologis, seperti banjir, longsor, dan cuaca ekstrem, yang menyumbang 81,3 persen dari total kejadian dan paling banyak terjadi pada awal tahun, seiring puncak musim hujan.
Artinya, bencana di Indonesia memiliki kecenderungan musiman yang kuat di awal tahun, bukan di akhir tahun seperti asumsi selama ini.
Analisis data BNPB periode 2008-2026 menunjukkan bencana alam di Indonesia paling banyak terjadi pada triwulan pertama, terutama bencana hidrometeorologis, seperti banjir, longsor, dan cuaca ekstrem.
Pola ini berulang hampir setiap tahun dan berkaitan dengan puncak musim hujan sehingga risiko kejadian sebenarnya dapat diperkirakan sejak awal.
Namun, meski polanya konsisten, dampak bencana tetap besar karena aspek mitigasi belum berjalan optimal. Perencanaan tata ruang, kesiapsiagaan infrastruktur, serta sistem peringatan dini di banyak wilayah belum sepenuhnya menyesuaikan dengan risiko musiman yang sudah dapat diidentifikasi.
Akibatnya, bencana yang seharusnya bisa diantisipasi tetap menimbulkan kerugian besar dan korban jiwa.
Tingginya dampak bencana di Indonesia bukan semata karena frekuensi kejadian, melainkan juga karena sistem mitigasi yang belum optimal. Banyak wilayah masih memiliki keterbatasan dalam pemantauan risiko, respons dini, serta integrasi data kebencanaan untuk pengambilan keputusan cepat di tingkat lokal.
Untuk menekan risiko dan korban, mitigasi bencana membutuhkan dukungan teknologi dan inovasi, khususnya pada sistem peringatan dini yang mampu mendeteksi potensi bahaya secara lebih akurat dan real time.
Integrasi data, pemanfaatan sensor, serta sistem informasi berbasis teknologi dinilai penting agar pemerintah dan masyarakat dapat merespons ancaman bencana lebih cepat sebelum dampaknya meluas.
Pengetahuan tradisional di masyarakat, seperti kemampuan membaca tanda alam atau tata kelola ruang berbasis pengalaman menghadapi bencana, telah lama berfungsi sebagai mekanisme mitigasi yang efektif di tingkat lokal. Namun, praktik ini belum sepenuhnya terintegrasi dalam sistem mitigasi formal yang berbasis teknologi dan kebijakan.
Perpaduan dengan pendekatan ilmiah modern, seperti pemodelan risiko dan sistem peringatan dini berbasis data, memungkinkan respons yang lebih kontekstual terhadap kondisi wilayah sekaligus meningkatkan akurasi prediksi.
Integrasi keduanya dapat memperkuat kesiapsiagaan masyarakat dan mempercepat respons terhadap ancaman bencana sebelum dampaknya meluas.
Risiko bencana tetap tinggi karena kapasitas mitigasi belum sebanding dengan tingkat ancaman di banyak wilayah. Perencanaan tata ruang belum sepenuhnya mempertimbangkan risiko bencana. Pembangunan juga masih terjadi di kawasan rawan. Kesiapsiagaan masyarakat belum merata.
Sistem mitigasi belum terintegrasi secara optimal. Data risiko belum dimanfaatkan secara konsisten dalam pengambilan keputusan. Infrastruktur perlindungan masih terbatas. Akibatnya, potensi bahaya sering berkembang menjadi bencana yang menimbulkan kerugian besar.





