Pemerintah Singapura meraup premi kuota kendaraan dan pajak mobil miliaran dolar lebih banyak dari yang diproyeksikan. Biaya berkendara mencapai rekor tertinggi di negara tersebut.
Dikutip dari Bloomberg, Sabtu (14/2), premi kuota kendaraan bermotor menghasilkan SGD 8,66 miliar (setara USD 6,9 miliar) pada tahun yang berakhir Maret 2026, sekitar 31 persen lebih banyak daripada perkiraan awal pemerintah setahun yang lalu.
Jika digabungkan dengan pajak kendaraan bermotor, totalnya mencapai SGD 11,05 miliar — jumlah yang lebih besar daripada produk domestik bruto (PDB) tahunan Fiji. Menurut data resmi IMF, PDB Fiji pada 2024 saja mencapai USD 5,9 miliar.
Singapura memiliki sistem unik untuk mengizinkan mobil tetap berada di jalan. Setiap kendaraan harus mendapatkan Sertifikat Hak Kepemilikan sebagai bagian dari proses lelang, yang memberikan izin untuk dikendarai maksimal selama 10 tahun.
Harga COE saat ini untuk mobil penumpang paling dasar sekalipun dimulai dari SGD 106.320, yang mana Toyota Camry baru seharga SGD 266.888 lebih mahal daripada harga Porsche 911 di Miami, Florida.
Angka baru ini menandai untuk keempat kalinya dalam 6 tahun terakhir pungutan khusus kendaraan di Singapura menghasilkan lebih banyak uang daripada yang awalnya diperkirakan pemerintah. Hal ini telah membantu mendorong Singapura menuju surplus anggaran, bersamaan dengan keuntungan lain seperti meningkatnya pendapatan pajak penghasilan perusahaan.
Angka tersebut diperkirakan akan terus meningkat. Pemerintah memproyeksikan premi kuota kendaraan dan pajak kendaraan bermotor akan menghasilkan gabungan SGD 12,22 miliar pada tahun yang berakhir Maret 2027, sebagian karena peningkatan yang diharapkan dalam kuota Sertifikat Hak Milik.





