Penulis: Lidya Thalia.S
TVRINews, Kalimantan Barat
Wilayah perbatasan bukan sekadar garis terluar negara, melainkan simbol kehadiran dan kedaulatan Indonesia. Di Kabupaten Bengkayang yang berbatasan langsung dengan Sarawak, Malaysia, penguatan sektor pendidikan menjadi prioritas pemerintah.
Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen) Fajar Riza Ul Haq meresmikan revitalisasi 38 satuan pendidikan di Bengkayang. Program ini merupakan bagian dari kebijakan nasional percepatan rehabilitasi dan pembangunan sekolah, khususnya di wilayah terdepan, terpencil, dan tertinggal (3T).
“Bengkayang bukan halaman belakang Indonesia, melainkan teras depan. Karena itu, wajah pendidikan di sini harus kokoh, aman, dan membanggakan. Sekolah yang layak adalah fondasi tumbuhnya kepercayaan diri generasi bangsa,”ujar Fajar dalam keterangan tertulis, Sabtu, 14 Februari 2026.
38 Sekolah Direvitalisasi
Sebanyak 38 satuan pendidikan yang telah direvitalisasi terdiri atas 3 PAUD, 19 SD, 12 SMP, dan 4 SMA. Pekerjaan meliputi pembangunan ruang kelas baru, rehabilitasi ruang belajar, penyediaan ruang UKS, ruang kepala sekolah, ruang guru, hingga perbaikan fasilitas sanitasi.
Sejumlah sekolah yang sebelumnya mengalami keterbatasan ruang dan kondisi bangunan kurang memadai kini memiliki fasilitas yang lebih aman, sehat, dan representatif untuk menunjang proses belajar mengajar.
Secara nasional, program revitalisasi sekolah telah menjangkau lebih dari 16 ribu satuan pendidikan dan akan terus diperluas dalam rangka transformasi pendidikan dasar dan menengah.
Bupati Bengkayang mengapresiasi dukungan pemerintah pusat yang dinilai menjawab kebutuhan nyata masyarakat perbatasan.
“Ini bukan sekadar pembangunan fisik, tetapi investasi jangka panjang bagi generasi Bengkayang. Dengan sekolah yang lebih layak dan aman, kualitas pendidikan di perbatasan akan semakin meningkat,” jelasnya.
Perubahan Nyata di Ruang Belajar
Dampak revitalisasi dirasakan langsung oleh warga sekolah. Kepala TK Angkasa, Noviani, mengungkapkan bahwa sebelum perbaikan dilakukan, fasilitas UKS dan toilet siswa belum memadai. Kini, siswa merasa lebih nyaman, dan kepercayaan orang tua terhadap sekolah pun meningkat.
Hal serupa disampaikan Kepala SDN 06 Dapan, Rosalina Dare. Sebelumnya, sekolah di wilayah 3T tersebut hanya memiliki tiga ruang kelas untuk enam rombongan belajar, sehingga dua rombel harus digabung dalam satu ruangan. Setelah revitalisasi, sekolah memperoleh tambahan dua ruang kelas dan satu ruang UKS.
“Pembelajaran sekarang lebih fokus dan tertata. Anak-anak punya ruang belajar yang layak, dan gotong royong masyarakat semakin memperkuat rasa memiliki terhadap sekolah,”ungkap Rosalina.
Sementara itu, Kepala SMAN 1 Bengkayang, Sri Yanti, menyebut sekolahnya yang berdiri sejak 1984 baru pertama kali mendapatkan revitalisasi menyeluruh. Sekolah tersebut memperoleh lima ruang kelas baru, rehabilitasi tiga ruang kelas, serta pembenahan ruang pimpinan, ruang guru, dan toilet.
“Perubahan ini bukan hanya memperbaiki bangunan, tetapi juga membangkitkan semangat berprestasi seluruh warga sekolah,”kata Yanti.
Penguatan Hardware dan Software Pendidikan
Revitalisasi fisik menjadi bagian dari pendekatan komprehensif pemerintah dalam membangun ekosistem pendidikan yang utuh. Selain pembenahan sarana dan prasarana (hardware), pemerintah juga memperkuat aspek kualitas dan kesejahteraan guru (software).
Beberapa langkah yang dilakukan antara lain penyediaan perangkat pembelajaran digital secara bertahap, implementasi Program Makan Bergizi Gratis (MBG), penyaluran Tunjangan Profesi Guru (TPG) langsung ke rekening guru setiap bulan, beasiswa S1/D4 melalui skema Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL), serta penyediaan kuota Pendidikan Profesi Guru (PPG) Prajabatan.
Fajar menegaskan bahwa transformasi pendidikan tidak boleh dilakukan secara parsial.
“Kita tidak hanya membangun gedungnya, tetapi juga memperkuat gurunya dan memastikan kesejahteraannya. Pendidikan yang kuat di perbatasan adalah fondasi kedaulatan bangsa,” tegasnya.
Melalui revitalisasi 38 satuan pendidikan di Bengkayang, pemerintah menegaskan komitmen bahwa tidak ada anak Indonesia yang boleh tertinggal karena faktor geografis. Di teras depan Indonesia, negara hadir untuk memastikan sekolah yang layak, guru yang kuat, dan masa depan yang lebih optimistis bagi generasi penerus bangsa.
Editor: Redaktur TVRINews





