Jakarta, CNBC Indonesia - Saham-saham sektor teknologi India menghadapi pekan terburuk dengan penurunan indeks terdalam sejak Maret 2020.
Pasalnya pada perdagangan pada Jumat (13/2/2026), nilai pasar saham sektor teknologi kehilangan sekitar US$50 miliar atau Rp840,96 triliun (kurs=Rp16.819/1US$) yang dipicu oleh kekhawatiran tentang dampak kecerdasan buatan (AI) pada sektor tersebut.
Aksi jual yang intensif dipicu oleh penurunan yang dipimpin oleh sektor teknologi di Wall Street, di mana kekhawatiran tentang menyusutnya margin memukul perusahaan-perusahaan besar seperti Apple dan mendorong investor ke obligasi safe-haven menjelang data inflasi AS yang penting.
Peluncuran sebuah alat AI oleh startup teknologi Anthropic bulan lalu, yang diklaim bisa menggeser pekerjaan profesional bagi suatu perusahaan, memicu aksi jual saham teknologi global dan meningkatkan kekhawatiran bahwa adopsi cepat AI dapat mengguncang industri jasa teknologi India senilai Rp4.759,81 triliun.
Indeks Nifty IT sempat turun hingga 5,1% pada perdagangan Kamis dan kemudian turun sekitar 1,44% di akhir perdagangan minggu ini. Untuk minggu ini, indeks turun 8,23%, penurunan paling tajam sejak awal Maret 2020 ketika pandemi COVID-19.
Sat Duhra, manajer portofolio di Henderson Far East Income, mengatakan AI menghadirkan peluang yang harus dimanfaatkan oleh perusahaan teknologi informasi India.
"Saya pikir perusahaan-perusahaan mungkin belum melakukan pekerjaan terbaik dalam hal mengkomunikasikan bagaimana mereka mengubahnya menjadi peluang daripada ancaman," kata Duhra dikutip dari Refinitiv pada Sabtu (14/2/2026).
Analis di J.P. Morgan menyoroti kekhawatiran investor bahwa perusahaan teknologi India dapat gagal mencapai target pertumbuhan karena AI mendorong klien untuk mengalokasikan kembali pengeluaran.
Namun, perusahaan pialang tersebut mencatat bahwa terlalu sederhana untuk berasumsi bahwa AI dapat secara otomatis menghasilkan perangkat lunak kelas perusahaan dan menggantikan nilai yang diciptakan perusahaan Layanan teknologi informasi di sepanjang siklus.
"Perusahaan Layanan teknologi tetap menjadi tukang ledeng di dunia teknologi, dan jika perangkat lunak perusahaan/SaaS ditulis ulang berdasarkan pesanan oleh agen, maka akan dibutuhkan infrastruktur layanan yang signifikan agar dapat berfungsi dalam konteks perusahaan dan meminimalkan kekacauan AI."
CNBC INDONESIA RESEARCH
(ras/ras)



