SURABAYA, 13 Februari 2026 — Pasar properti residensial primer di Surabaya dan wilayah sekitarnya menunjukkan stabilitas harga pada Triwulan IV 2025, di tengah tanda-tanda awal pemulihan penjualan. Hasil Survei Harga Properti Residensial (SHPR) yang dirilis Bank Indonesia mencatat Indeks Harga Properti Residensial (IHPR) secara tahunan mengalami kontraksi tipis sebesar -0,04% (yoy), relatif stabil dibandingkan kontraksi -0,02% (yoy) pada triwulan sebelumnya. 03. Siaran Pers SHPR Tw IV 2025…
Stabilnya harga di tingkat regional ini sejalan dengan tren nasional yang masih mencatat pertumbuhan moderat 0,83% (yoy) pada periode sama, hanya sedikit melambat dari 0,84% (yoy) pada Triwulan III 2025. 03. Siaran Pers SHPR Tw IV 2025…
Harga Naik Secara TriwulananSecara kuartalan, harga rumah di Surabaya mencatat pertumbuhan positif 0,22% (qtq) setelah sebelumnya mengalami kontraksi -0,22% (qtq). Kenaikan terutama didorong oleh:
- Rumah tipe besar naik 0,26% (qtq) setelah sebelumnya turun.
- Rumah tipe kecil meningkat 0,36% (qtq), lebih tinggi dari triwulan sebelumnya.
- Rumah tipe menengah masih terkontraksi tipis -0,02% (qtq) namun membaik dibanding kontraksi lebih dalam sebelumnya. 03. Siaran Pers SHPR Tw IV 2025…
Perkembangan ini menunjukkan adanya penyesuaian harga yang lebih sehat, khususnya pada segmen besar dan kecil, meskipun segmen menengah masih tertahan.
Penjualan Masih Turun, Tapi Ada PerbaikanDari sisi volume transaksi, penjualan properti residensial primer secara tahunan masih turun signifikan -39,77% (yoy), lebih dalam dibanding kontraksi -35,50% (yoy) pada triwulan sebelumnya. 03. Siaran Pers SHPR Tw IV 2025…
Namun secara triwulanan, pasar mulai menunjukkan perbaikan. Penjualan hanya turun -9,85% (qtq), membaik dari kontraksi -18,50% (qtq) pada Triwulan III 2025. Peningkatan ini terutama didorong lonjakan penjualan rumah tipe besar yang tumbuh 57,89% (qtq) setelah sebelumnya anjlok. Penjualan rumah tipe menengah juga berbalik naik 14,19% (qtq). 03. Siaran Pers SHPR Tw IV 2025…
Faktor Penghambat PasarResponden survei mengidentifikasi sejumlah faktor utama yang masih menekan sektor properti, antara lain:
- Pergerakan suku bunga KPR: 31,67%
- Rendahnya daya beli masyarakat: 21,67%
- Penolakan pengajuan kredit bank: 20,00%
- Pajak: 13,33%
- Kenaikan harga bahan bangunan: 13,33% 03. Siaran Pers SHPR Tw IV 2025…
Temuan ini menunjukkan tantangan pasar tidak hanya berasal dari sisi permintaan, tetapi juga dari faktor pembiayaan dan biaya konstruksi.
Struktur Pembiayaan Masih Didominasi Dana InternalDari sisi pembiayaan proyek, mayoritas pengembang masih mengandalkan dana sendiri. Sebanyak 57,38% kebutuhan modal pembangunan berasal dari dana internal, diikuti pembayaran konsumen 22,95%, dan pinjaman perbankan 19,67%. 03. Siaran Pers SHPR Tw IV 2025…
Sementara dari sisi pembeli, mayoritas transaksi rumah primer masih menggunakan skema Kredit Pemilikan Rumah (KPR) dengan pangsa 81,40%, jauh lebih besar dibanding pembelian tunai 11,63% dan tunai bertahap 6,98%. 03. Siaran Pers SHPR Tw IV 2025…
Prospek PasarSecara keseluruhan, hasil survei menunjukkan pasar properti residensial Surabaya berada pada fase stabil dengan indikasi pemulihan, terutama pada segmen menengah dan besar. Bank Indonesia menilai tren ini berpotensi mendukung peningkatan aktivitas pasar pada periode mendatang apabila kondisi pembiayaan dan daya beli membaik. 03. Siaran Pers SHPR Tw IV 2025…
Analisis Singkat:
Stabilnya harga di tengah penurunan penjualan mengindikasikan strategi pengembang menahan penyesuaian harga demi menjaga nilai aset dan margin. Jika tren perbaikan penjualan kuartalan berlanjut, pasar properti Surabaya berpeluang memasuki fase pemulihan siklikal pada 2026.
Jika Anda ingin, saya juga bisa membuat versi berita singkat (straight news 5 paragraf), versi analisis mendalam, atau versi headline ekonomi seperti media nasional.





