EtIndonesia. Ukraina memasuki babak baru strategi militernya setelah pada 14 Januari 2026 melantik Menteri Pertahanan baru. Mykhailo Fedorov, mengumumkan pendekatan yang secara fundamental berbeda dari pendahulunya. Bukan lagi sekadar berbicara tentang perebutan wilayah atau retorika “kemenangan mutlak”, Fedorov justru memaparkan data internal dan reformasi sistemik yang berfokus pada teknologi, insentif digital, dan optimalisasi sumber daya manusia.
Empat Kali Ganti Menteri Sejak Perang Dimulai
Sejak invasi Rusia pada 24 Februari 2022, Ukraina telah mengganti menteri pertahanannya sebanyak empat kali. Pergantian ini mencerminkan tekanan besar di dalam negeri—baik dari sisi militer, politik, maupun kebutuhan reformasi struktural di tengah perang berkepanjangan.
Fedorov, yang berusia 34 tahun saat dilantik, bukan berasal dari latar belakang militer tradisional. Sebelumnya dia menjabat sebagai Menteri Transformasi Digital Ukraina dan dikenal sebagai arsitek berbagai inovasi teknologi pemerintahan digital. Penunjukannya menandai pergeseran besar: dari pendekatan berbasis struktur militer konvensional menuju strategi berbasis data dan sistem digital.
Data Mengejutkan: Krisis Personel dan Pembelotan
Dalam pidato perdananya setelah pelantikan pada 14 Januari 2026, Fedorov menyampaikan sejumlah angka yang mengejutkan publik:
- Sekitar dua juta orang dilaporkan “menghilang” sejak perang dimulai—yang dalam praktiknya diartikan sebagai upaya menghindari wajib militer.
- Lebih dari 200.000 tentara tercatat membelot dan masuk dalam daftar pencarian.
Angka-angka tersebut memperlihatkan tantangan serius dalam mempertahankan moral dan kapasitas tempur. Alih-alih menutupinya, Fedorov justru menjadikannya dasar reformasi kebijakan.
Filosofi Baru: Ganti Manusia dengan Mesin, Motivasi Manusia dengan Algoritma
Inti strategi Fedorov dirumuskan dalam dua kalimat sederhana namun revolusioner:
- Mengurangi ketergantungan pada manusia dengan memperluas penggunaan mesin (khususnya drone).
- Meningkatkan motivasi prajurit melalui sistem insentif berbasis algoritma.
Langkah paling konkret adalah peresmian sistem poin tempur berbasis drone. Sebelumnya sistem semacam ini beroperasi secara informal di beberapa unit. Kini, kementerian menjadikannya kebijakan resmi berskala nasional.
Sistem Poin Tempur: “Ekonomi Pasar” di Medan Perang
Dalam sistem baru tersebut:
- Setiap eliminasi musuh yang dikonfirmasi melalui rekaman drone akan menghasilkan poin.
- Poin masuk ke akun digital prajurit atau unit.
- Poin dapat ditukar dengan perlengkapan militer, mulai dari senjata, alat penglihatan malam, sistem komunikasi, hingga drone generasi terbaru.
Pendekatan ini bersifat terdesentralisasi. Artinya, unit dengan skor lebih tinggi akan memperoleh akses lebih cepat terhadap perlengkapan mutakhir. Semakin efektif unit tersebut, semakin besar peluang bertahan hidup dan mempertahankan performa tempur.
Kementerian bahkan memiliki kewenangan untuk menyesuaikan nilai poin sesuai prioritas ancaman. Misalnya, jika tank tempur utama Rusia tipe T-90 menjadi ancaman dominan di sektor tertentu, nilai poin untuk penghancuran tank tersebut bisa digandakan. Dengan demikian, prajurit terdorong mempelajari taktik spesifik dan meningkatkan kemampuan teknis mereka untuk menghadapi target prioritas.
Sejumlah analis pertahanan menyebut sistem ini sebagai “ekonomi pasar di medan perang”—di mana kinerja langsung diterjemahkan menjadi akses terhadap sumber daya.
Drone sebagai Tulang Punggung Strategi
Reformasi ini berjalan seiring dengan rencana besar Presiden Volodymyr Zelenskyy untuk memperluas armada drone Ukraina secara masif sepanjang 2026.
Menurut estimasi internal yang disampaikan dalam lingkup kebijakan pertahanan:
- Drone Ukraina saat ini diperkirakan menyebabkan sekitar 30.000 korban Rusia per bulan.
- Target baru yang dicanangkan adalah meningkatkan angka tersebut menjadi 50.000 per bulan.
Jika target ini tercapai, maka drone akan menjadi faktor penentu utama dalam mengimbangi keunggulan numerik Rusia dalam jumlah personel.
Transformasi Medan Tempur: Dari Parit ke Panel Kendali
Perubahan ini juga mencerminkan evolusi karakter perang modern. Jika pada fase awal konflik banyak pertempuran berlangsung dalam pola konvensional—artileri berat, infanteri, dan tank—maka kini medan tempur semakin bergeser ke ranah teknologi:
- Drone pengintai dan drone serang jarak dekat (FPV).
- Sistem pengenalan target berbasis kecerdasan buatan.
- Integrasi data real-time untuk penyesuaian taktik.
Dengan pendekatan ini, Ukraina tidak hanya berusaha bertahan, tetapi juga menciptakan keunggulan asimetris melalui teknologi.
Risiko dan Tantangan
Meski terlihat inovatif, sistem ini juga menimbulkan sejumlah pertanyaan:
- Apakah sistem poin akan menciptakan tekanan berlebihan pada prajurit?
- Apakah insentif berbasis skor dapat memengaruhi etika tempur?
- Sejauh mana Rusia mampu beradaptasi dengan strategi berbasis drone ini?
Selain itu, keberhasilan strategi ini sangat bergantung pada keberlanjutan suplai teknologi, pendanaan, dan pelatihan teknis.
Babak Baru Perang
Dengan pelantikan Fedorov pada 14 Januari 2026, Ukraina secara resmi memasuki fase baru perang—bukan sekadar perang artileri atau perang wilayah, tetapi perang algoritma dan sistem insentif digital.
Jika strategi ini berhasil, konflik Rusia–Ukraina dapat menjadi contoh pertama perang modern yang sepenuhnya mengintegrasikan logika ekonomi digital dan kecerdasan buatan dalam skala nasional. Jika gagal, reformasi ini akan menjadi eksperimen mahal dalam sejarah militer abad ke-21.
Satu hal yang pasti: sejak pertengahan Januari 2026, arah strategi pertahanan Ukraina telah berubah secara signifikan—dan dampaknya akan menentukan dinamika medan tempur dalam bulan-bulan mendatang.





