Jakarta (ANTARA) - Dokter Spesialis Penyakit Dalam, Subspesialis Gastroenterohepatologi, dr. David Reinhard Sumantri Samosir mengatakan diagnosis infeksi Helicobacter pylori (H.pylor) yang berkoloni di lambung dapat dilakukan deteksi dini dengan pemeriksaan non-invasif yaitu Urea Breath Test (UBT).
“UBT menjadi pilihan utama dari berbagai pemeriksaan non-invasif untuk mendeteksi infeksi H.pylori dengan tingkat sensitivitas dan spesifisitas yang tinggi,” kata dokter David dalam keterangan pers di Jakarta, Sabtu.
David mengatakan UBT atau pemeriksaan invasif yaitu prosedur endoskopi dan biopsi lambung itu berfungsi untuk mendeteksi ada atau tidaknya infeksi H.pylori pada pasien dengan keluhan lambung.
UBT juga berperan dalam mengevaluasi keberhasilan terapi eradikasi atau terjadinya kekambuhan infeksi H.pylori.
Bakteri H.pylori berkoloni di mukosa lambung dan memproduksi enzim urease yang mengakibatkan berbagai keluhan seperti dispepsia, gastritis, ulkus lambung, komplikasi tahap lanjutan seperti Mucosa-Associated Lymphoid Tissue lymphoma (limfoma MALT), hingga kanker lambung.
Baca juga: Makanan tidak higienis dan sanitasi buruk ganggu kesehatan lambung
H.pylori telah diklasifikasikan sebagai bakteri karsinogenik kelas I oleh International Agency for Research on Cancer.
Penelitian terbaru, lanjut David menunjukkan bahwa infeksi bakteri H. pylori dapat meningkatkan risiko terbentuknya polip di usus besar, termasuk jenis polip tertentu yang bisa menjadi awal kanker lambung.
“Deteksi dan pengobatan dini sangat penting karena bisa membantu mencegah polip usus besar pada orang dewasa,” ujar dia.
Pada pasien dengan kondisi khusus, seperti pada pasien kanker kolorektal, diperlukan tindakan operasi yang ditangani oleh subspesialis bedah digestif.
Dokter Spesialis Bedah Subspesialis Digestif/Saluran Cerna dr. Mudatsir, M. Ked(Surg), SpB, Subsp. BD(K), FINACS menjelaskan bahwa penanganan kanker saluran cerna bersifat sangat individual.
“Pada kasus tertentu, dokter akan menentukan strategi terapi berdasarkan kondisi pasien, ukuran tumor, serta luas penyebarannya, apakah hanya ada tumor primer atau sudah terjadi penyebaran ke organ lain (metastasis),” imbuh dia.
Selama penyebaran belum mengenai organ lain secara luas, lanjut Mudatsir, operasi dapat dilakukan secara kuratif termasuk pengangkatan jaringan tumor beserta usus yang terlibat dan cabang pangkal dari pembuluh darahnya sehingga dapat menurunkan risiko kekambuhan.
Baca juga: Daftar makanan pemicu naiknya asam lambung
Mudatsir mengatakan di sisi lain, deteksi dini berperan besar dalam meningkatkan keberhasilan terapi, seperti contoh pada kanker lambung, pemeriksaan UBT membantu mendeteksi keberadaan bakteri Helicobacter pylori di mana menjadi salah satu faktor risiko terbentuknya lesi prakanker.
Pada kasus lain seperti kanker kolon, skrining dapat dilakukan melalui pemeriksaan darah samar pada feses (fecal occult blood test), dan penanda tumor CEA.
“Bila ditemukan kecurigaan keganasan dapat dilanjutkan dengan salah satu prosedur endoskopi yaitu kolonoskopi agar kondisi saluran cerna dapat terlihat jelas sehingga penanganan bisa dilakukan lebih cepat dan tepat,” ujarnya.
Dalam hal ini, Siloam Hospitals TB Simatupang menyediakan layanan komprehensif yang mengkombinasikan pemeriksaan UBT, endoskopi, dan tumor marker saluran cerna seperti CEA dan CA 72-4.
“Layanan UBT dan endoskopi di Siloam Hospitals TB Simatupang juga menerima rujukan bagi rumah sakit non Siloam,” kata Dr Dewi Wiguna, M.Sc selaku Hospital Director Siloam Hospitals TB Simatupang.
Baca juga: 8 buah ini dapat bantu menjaga kesehatan lambung
Baca juga: 7 manfaat air kelapa muda untuk penderita asam lambung
Baca juga: Makanan dan minuman yang sebaiknya dihindari saat perut kosong
“UBT menjadi pilihan utama dari berbagai pemeriksaan non-invasif untuk mendeteksi infeksi H.pylori dengan tingkat sensitivitas dan spesifisitas yang tinggi,” kata dokter David dalam keterangan pers di Jakarta, Sabtu.
David mengatakan UBT atau pemeriksaan invasif yaitu prosedur endoskopi dan biopsi lambung itu berfungsi untuk mendeteksi ada atau tidaknya infeksi H.pylori pada pasien dengan keluhan lambung.
UBT juga berperan dalam mengevaluasi keberhasilan terapi eradikasi atau terjadinya kekambuhan infeksi H.pylori.
Bakteri H.pylori berkoloni di mukosa lambung dan memproduksi enzim urease yang mengakibatkan berbagai keluhan seperti dispepsia, gastritis, ulkus lambung, komplikasi tahap lanjutan seperti Mucosa-Associated Lymphoid Tissue lymphoma (limfoma MALT), hingga kanker lambung.
Baca juga: Makanan tidak higienis dan sanitasi buruk ganggu kesehatan lambung
H.pylori telah diklasifikasikan sebagai bakteri karsinogenik kelas I oleh International Agency for Research on Cancer.
Penelitian terbaru, lanjut David menunjukkan bahwa infeksi bakteri H. pylori dapat meningkatkan risiko terbentuknya polip di usus besar, termasuk jenis polip tertentu yang bisa menjadi awal kanker lambung.
“Deteksi dan pengobatan dini sangat penting karena bisa membantu mencegah polip usus besar pada orang dewasa,” ujar dia.
Pada pasien dengan kondisi khusus, seperti pada pasien kanker kolorektal, diperlukan tindakan operasi yang ditangani oleh subspesialis bedah digestif.
Dokter Spesialis Bedah Subspesialis Digestif/Saluran Cerna dr. Mudatsir, M. Ked(Surg), SpB, Subsp. BD(K), FINACS menjelaskan bahwa penanganan kanker saluran cerna bersifat sangat individual.
“Pada kasus tertentu, dokter akan menentukan strategi terapi berdasarkan kondisi pasien, ukuran tumor, serta luas penyebarannya, apakah hanya ada tumor primer atau sudah terjadi penyebaran ke organ lain (metastasis),” imbuh dia.
Selama penyebaran belum mengenai organ lain secara luas, lanjut Mudatsir, operasi dapat dilakukan secara kuratif termasuk pengangkatan jaringan tumor beserta usus yang terlibat dan cabang pangkal dari pembuluh darahnya sehingga dapat menurunkan risiko kekambuhan.
Baca juga: Daftar makanan pemicu naiknya asam lambung
Mudatsir mengatakan di sisi lain, deteksi dini berperan besar dalam meningkatkan keberhasilan terapi, seperti contoh pada kanker lambung, pemeriksaan UBT membantu mendeteksi keberadaan bakteri Helicobacter pylori di mana menjadi salah satu faktor risiko terbentuknya lesi prakanker.
Pada kasus lain seperti kanker kolon, skrining dapat dilakukan melalui pemeriksaan darah samar pada feses (fecal occult blood test), dan penanda tumor CEA.
“Bila ditemukan kecurigaan keganasan dapat dilanjutkan dengan salah satu prosedur endoskopi yaitu kolonoskopi agar kondisi saluran cerna dapat terlihat jelas sehingga penanganan bisa dilakukan lebih cepat dan tepat,” ujarnya.
Dalam hal ini, Siloam Hospitals TB Simatupang menyediakan layanan komprehensif yang mengkombinasikan pemeriksaan UBT, endoskopi, dan tumor marker saluran cerna seperti CEA dan CA 72-4.
“Layanan UBT dan endoskopi di Siloam Hospitals TB Simatupang juga menerima rujukan bagi rumah sakit non Siloam,” kata Dr Dewi Wiguna, M.Sc selaku Hospital Director Siloam Hospitals TB Simatupang.
Baca juga: 8 buah ini dapat bantu menjaga kesehatan lambung
Baca juga: 7 manfaat air kelapa muda untuk penderita asam lambung
Baca juga: Makanan dan minuman yang sebaiknya dihindari saat perut kosong





