Bisnis.com, JAKARTA – PT Jakarta International Container Terminal (JICT) menilai perlu adanya keseimbangan antara ekspansi kapasitas, efisiensi biaya, serta pengelolaan risiko dalam upaya mempertahankan volume dan meningkatkan produktivitas peti kemas.
Hingga akhir 2025 lalu, JICT mencatatkan capaian kumulatif volume throughput petikemas mencapai 50 juta TEUs (twenty-foot equivalent units) selama periode 1999-2025.
Direktur Utama JICT Ade Hartono mengatakan dengan pertumbuhan volume petikemas tersebut menempatkan JICT sebagai salah satu terminal peti kemas tersibuk di kawasan Asia Tenggara. Dengan demikian, strategi kelancaran rantai pasok nasional dan konektivitas perdagangan Indonesia perlu dijaga.
Namun dibalik ekspansi kapasitas dan percepatan layanan, manajemen menyoroti aspek yang kerap luput dari sorotan, yakni keselamatan kerja. Menurut Ade, dalam industri kepelabuhanan yang sarat pergerakan alat berat, kapal, dan kontainer, keselamatan bukan sekadar kewajiban kepatuhan, melainkan variabel ekonomi yang berdampak langsung pada kinerja bisnis.
“Downtime akibat insiden keselamatan selalu berdampak langsung pada throughput, service level, dan kepercayaan pelanggan. Zero fatality sudah menjadi bagian dari strategi menjaga keberlanjutan bisnis dan daya saing,” ujarnya dalam keterangan resmi, Rabu (11/2/2026).
Dia menilai isu keselamatan kerja bukan lagi semata isu kepatuhan tetapi fondasi produktivitas jangka panjang dan indikator penting kualitas tata kelola operasional.
Baca Juga
- Efisiensi Logistik Nasional, JICT Terapkan Terminal Booking System
- Program Rumah Belajar JICT Sabet Penghargaan Pendidikan Terbaik
- JICT Perkuat Kehadirannya di Komunitas Pesisir Jakut
Selain itu, saat ini perseroan juga tengah melakukan elektrifikasi armada dengan mengoperasikan Side Loader Electric Vehicle (EV) dan Reach Stacker EV.
Wakil Direktur Utama JICT, Budi Cahyono menyebut dengan strategi elektrifikasi peralatan dapat memperkuat kemampuan penanganan peti kemas untuk mengimbangi peningkatan throughput dan mengurangi potensi bottleneck di lapangan.
Investasi dalam elektrifikasi armada bukan hanya mengganti alat lama, tetapi memperbesar ruang gerak untuk meningkatkan efisiensi, memangkas downtime, dan memberikan layanan yang lebih cepat kepada pelanggan.
“Kami menghadapi dinamika industri yang semakin kompleks, pertumbuhan volume, tuntutan kecepatan layanan, dan persaingan regional yang ketat. Penambahan alat EV ini adalah jawaban atas tantangan produktivitas, sekaligus membuka ruang lebih besar bagi JICT untuk terus bersaing,” ujarnya.





