FAJAR, JAKARTA – Menyambut Ramadan, WAZIN Indonesia bekerja sama dengan Markaz Tathwir wa Ta’lim Thullāb al-Wāfidīn Al-Azhar Mesir menyelenggarakan webinar. Bertajuk “Tarhib Ramadan dan Penguatan Peran Perempuan: Teladan Muslimah dalam Sejarah Islam.” Kegiatan digelar Jumat (13/2/2026).
Melalui forum ini, para penggerak pendidikan dan alumni Al-Azhar mengajak kaum hawa untuk menjadikan bulan puasa sebagai momentum untuk berefleksi, berdaya, dan memancarkan pengaruh positif bagi lingkungan sekitar. Saatnya perempuan bersinar dengan kualitas ilmu dan kematangan spiritual.
Acara ini juga menjadi momen istimewa sebagai puncak perayaan Milad Pertama WAZIN Indonesia. Mengukuhkan satu tahun dedikasi organisasi dalam memberdayakan para khirijin dan khirijat Al-Azhar di tanah air.
Ketua Umum WAZIN, Dr. Elly Warti Maliki, Lc., M.A., dalam sambutannya menekankan bahwa Ramadan bukan sekadar ritual menahan lapar. Melainkan fase krusial untuk menata ulang jiwa, pola pikir, hingga perilaku.
Menurutnya, esensi perempuan berpengaruh tidak terletak pada popularitas atau seberapa keras suaranya di ruang publik. “Pengaruh sejati seorang perempuan diukur dari kedalaman cara berpikirnya serta besarnya jejak kebaikan yang ia tinggalkan bagi umat,” tegas Dr. Elly.
Hadir sebagai narasumber utama, Prof. Dr. Nahlah al-Sa’idhi (Kepala Pusat Pengembangan Mahasiswa Asing Al-Azhar) mengajak para peserta untuk menggali kembali jati diri mereka.
Ia memaparkan kisah inspiratif Ummahatul Mu’minin dan para sahabiyat yang mampu tampil berdaya di berbagai lini.
Prof. Nahlah menggarisbawahi bahwa muslimah di masa emas Islam tidak hanya berperan di ranah domestik, tetapi juga menjadi pilar penting di bidang sosial, politik, hingga keilmuan tanpa meninggalkan identitas kemuslimahannya.
Melengkapi diskusi tersebut, Zulfa Nur Alimah, Lc., M.A., selaku narasumber kedua, memberikan perspektif mengenai makna kemuliaan perempuan di era modern. Ia mengingatkan bahwa menjadi perempuan yang “bercahaya” bukanlah soal mengejar jumlah pengikut di media sosial.
“Setiap perempuan, baik ia seorang ibu rumah tangga, mahasiswi, maupun profesional, memiliki derajat kemuliaan yang setara di mata Allah selama perannya dijalankan dengan kesadaran penuh dan kesungguhan,” tutur Zulfa.
Webinar ini diharapkan menjadi langkah awal dari seri diskusi berkelanjutan antara WAZIN dan Al-Azhar. Sinergi ini bertujuan untuk terus melahirkan generasi perempuan muslimah yang berilmu luas, mandiri secara pemikiran, dan mampu menjadi lentera bagi keluarga serta masyarakat luas. (*)





