EtIndonesia. Hightlight kini memasuki fase baru yang menandai perubahan signifikan dalam strategi pertahanan Kyiv menghadapi gelombang serangan drone Rusia. Media Inggris dalam laporan yang terbit pada awal Februari 2026 mengungkap keberadaan sistem inti bernama Sunray, sebuah senjata laser berbiaya relatif rendah yang dirancang untuk menghancurkan drone kamikaze Rusia, termasuk tipe Shahed, langsung di udara.
Sistem Laser “Sunray”: Senjata Hemat Biaya untuk Ancaman Drone
Menurut laporan tersebut, sistem Sunray dikembangkan sebagai solusi terhadap membanjirnya drone serang Rusia yang kerap menyasar infrastruktur energi dan fasilitas militer Ukraina sepanjang 2024–2025.
Berbeda dengan sistem intersepsi konvensional buatan NATO—seperti rudal pertahanan udara jarak menengah—yang dapat menghabiskan biaya hingga jutaan dolar per peluncuran, Sunray diperkirakan hanya menelan biaya ratusan ribu dolar AS per unit. Biaya operasionalnya pun jauh lebih rendah karena tidak menggunakan rudal sekali pakai, melainkan sinar laser berkekuatan tinggi yang diarahkan secara presisi ke target.
Secara teknis, sistem ini dirancang untuk:
- Mengunci target drone dalam jarak tertentu menggunakan sensor optik dan radar kecil,
- Memfokuskan sinar laser energi tinggi ke badan drone,
- Membakar atau merusak komponen vital seperti sayap, mesin, atau sistem navigasi hingga drone jatuh.
Keunggulan lainnya adalah mobilitas. Sunray dapat dipasang di kendaraan ringan seperti pikap militer atau kendaraan taktis 4×4, sehingga mudah dipindahkan mengikuti kebutuhan taktis di garis depan maupun wilayah perkotaan.
Strategi Pertahanan Berlapis: Drone Lawan Drone
Selain sistem laser, Ukraina juga mengembangkan pendekatan yang lebih ekonomis melalui produksi drone pencegat murah. Program ini dilaporkan semakin diperluas sepanjang akhir 2025 hingga awal 2026, sebagai respons atas intensitas serangan drone Rusia yang terus meningkat.
Drone pencegat tersebut berfungsi:
- Mengejar drone Shahed di udara,
- Menabrakkan diri atau meledakkan muatan kecil di dekat target,
- Mengganggu navigasi drone musuh sebelum mencapai sasaran.
Pendekatan ini menciptakan jaringan pertahanan udara berlapis, di mana:
- Lapisan pertama menggunakan sistem radar dan deteksi dini.
- Lapisan kedua memanfaatkan drone pencegat murah.
- Lapisan ketiga mengandalkan sistem laser seperti Sunray.
- Lapisan terakhir tetap menggunakan sistem rudal konvensional untuk target bernilai tinggi.
Strategi ini memungkinkan Ukraina menekan biaya pertahanan sekaligus meningkatkan fleksibilitas operasional di medan perang yang semakin didominasi teknologi drone.
Keterlibatan Sipil: Modifikasi Pesawat Angkut An-28
Salah satu aspek yang paling menarik perhatian dalam laporan tersebut adalah keterlibatan warga sipil dan sukarelawan dalam inovasi pertahanan udara.
Disebutkan bahwa sejumlah pihak di Ukraina turut memodifikasi pesawat angkut ringan Antonov An-28 untuk memburu drone Rusia di udara. Pesawat turboprop ini awalnya dirancang untuk transportasi ringan dan logistik jarak pendek.
Dalam versi modifikasi, pesawat tersebut digunakan untuk:
- Patroli udara pada ketinggian rendah,
- Mendeteksi drone musuh secara visual,
- Melakukan intersepsi langsung.
Laporan menyebutkan klaim bahwa lebih dari 150 target drone telah dijatuhkan melalui operasi semacam ini. Meski angka tersebut belum dapat diverifikasi secara independen, pendekatan ini menunjukkan tingkat improvisasi tinggi di tengah tekanan perang yang berkepanjangan.
Perang Biaya: Mengubah Logika Medan Tempur
Sejak Rusia meningkatkan penggunaan drone Shahed secara masif pada 2024 dan 2025, Ukraina menghadapi dilema biaya: menembak jatuh drone murah dengan rudal mahal menciptakan ketimpangan ekonomi jangka panjang.
Dengan hadirnya Sunray dan jaringan drone pencegat murah, Ukraina berupaya membalikkan logika tersebut. Jika sistem laser dapat dioperasikan secara konsisten dan efektif, maka:
- Biaya per intersepsi dapat ditekan drastis,
- Ketergantungan pada rudal mahal dapat dikurangi,
- Kapasitas pertahanan kota dan fasilitas energi dapat diperluas.
Langkah ini juga menandai fase baru dalam peperangan modern, di mana pertarungan tidak hanya terjadi di medan fisik, tetapi juga dalam efisiensi biaya, inovasi teknologi, dan partisipasi masyarakat sipil.
Perkembangan yang terungkap pada Februari 2026 ini memperlihatkan bahwa konflik Rusia–Ukraina telah memasuki era “perang teknologi murah”, di mana kecepatan inovasi dan adaptasi menjadi faktor penentu ketahanan jangka panjang.





