VIVA – Kepala Pemandu Bakat PSSI, Simon Tahamata, angkat bicara soal maraknya pemain diaspora yang kini meramaikan Super League. Menurutnya, kehadiran para pemain naturalisasi itu harus menjadi contoh positif, bukan bahan polemik.
Sejauh ini, lebih dari 10 pemain yang sebelumnya berkarier di Eropa memilih melanjutkan kiprah di kompetisi kasta tertinggi Indonesia. Namun Om Simon—sapaan akrabnya—menegaskan dirinya tak tertarik masuk ke dalam perdebatan pro dan kontra.
“Yang penting mereka bercampur dengan pemain Timnas di sini. Sekali lagi, Indonesia besar. Ada banyak bakat di sini,” ujarnya.
Bagi legenda Ajax Amsterdam itu, persoalan utama bukan soal asal-usul pemain. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana seluruh pemain, baik lokal maupun naturalisasi, mampu memberikan teladan di dalam dan luar lapangan.
Simon menekankan bahwa fokus sepak bola Indonesia saat ini harus tertuju pada pembenahan sistem pembinaan usia dini. Ia secara khusus memberi pesan kepada para pelatih yang menangani kelompok umur.
“Saya mau kasih pesan untuk pelatih-pelatih yang mulai dengan anak-anak muda. Mereka pengaruhi anak-anak 12, 13 tahun. Jangan sampai mereka lihat contoh yang tidak bagus,” katanya.
Menurut Simon, masa depan Timnas Indonesia ditentukan dari bagaimana generasi muda dibentuk hari ini. Ia tak menampik bahwa saat ini skuad Merah Putih bisa saja diisi banyak pemain naturalisasi. Namun untuk jangka panjang, ia ingin melihat lebih banyak pemain yang lahir dan besar di Tanah Air mengisi tim nasional.
“Kalau saya, saya akan cari anak-anak di sini. Karena di sini ada banyak paket. Indonesia besar,” tegasnya.





