WTO Desak China Ubah Model Pertumbuhan Ekonomi, Dinilai Tak Berkelanjutan

kumparan.com
5 jam lalu
Cover Berita

Kepala Organisasi Perdagangan Dunia (WTO), Ngozi Okonjo-Iweala, mendesak agar China mengubah model pertumbuhan ekonomi. Okonjo-Iweala menilai surplus perdagangan China yang melonjak pada akhirnya tidak berkelanjutan dan berisiko memicu hambatan perdagangan baru.

"Beijing mengatakan ingin mendukung sistem perdagangan multilateral karena telah banyak diuntungkan darinya," katanya di Konferensi Keamanan Munich (Munich Security Conference), dikutip dari AFP, Sabtu (14/2).

"Namun, model pertumbuhan yang dipimpin oleh ekspor yang mendorong pertumbuhan China selama 40 tahun dapat mendorong pertumbuhan ekonomi China untuk 40 tahun ke depan," ujarnya.

"Dan surplus perdagangan USD 1,2 triliun tidak berkelanjutan. Karena negara-negara lain tidak dapat menyerapnya. Dan jika China tidak bertindak, akan banyak hambatan," lanjutnya.

Surplus perdagangan China mencatat rekor USD 1,2 triliun tahun ini. Ini terjadi meski perdagangannya dengan AS menurun tajam, perang dagang sengit antara dua negara ekonomi terbesar di dunia kembali memanas setelah Presiden AS Donald Trump kembali memimpin untuk masa jabatan kedua.

Mitra dagang lainnya lebih dari sekadar mengisi kesenjangan tersebut, meningkatkan ekspor China setidaknya 5,5 persen pada 2025, sementara impor tetap stabil dalam nilai dolar.

Beijing mengatakan ekonomi China tumbuh 5 persen pada 2025. Ini merupakan salah satu tingkat pertumbuhan ekonomi China dalam beberapa dekade karena negara itu berjuang dengan pengeluaran konsumen yang terus rendah dan krisis utang di sektor properti.

Pada Oktober 2025, Trump mencapai kesepakatan gencatan senjata perang dagang dengan Presiden Xi Jinping. Namun pada Januari, dia mengumumkan akan menetapkan tarif kepada negara yang berdagang dengan Iran. China kemudian memperingatkan akan membela kepentingannya.

Pasar utama lainnya untuk produk-produk China seperti Uni Eropa khawatir dengan tidak seimbangnya neraca perdagangan mereka dengan China.

Eropa yang khawatir pasar mereka akan jadi saluran bagi surplus produksi China mendesak China untuk merangsang konsumsi dalam negeri yang lesu selama bertahun-tahun.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Trump Akan Kirim Kapal Induk Kedua ke Timur Tengah, Ancam Iran
• 12 jam lalukatadata.co.id
thumb
PBSI Buka Suara soal Alasan Apriyani Rahayu dan Lanny Tria Mayasari Main Rangkap Ganda Campuran
• 4 jam lalutvonenews.com
thumb
Bareskrim: Didik Eks Kapolres Bima Titip Koper Narkoba ke Polwan di Tangerang
• 8 jam lalukumparan.com
thumb
Menkeu Purbaya Buka Suara soal Penyegelan Gerai Perhiasan Mewah: Impor Ilegal pasti Ditutup
• 23 jam lalukompas.tv
thumb
Remaja Depok yang Tawuran Selama Ramadan Bakal Dimasukkan ke Pondok Pesantren Kilat
• 11 jam laluliputan6.com
Berhasil disimpan.