Liputan6.com, Jakarta - Guru Besar Tetap Bidang Material Konstruksi dan Bangunan Ramah Lingkungan Universitas Indonesia (UI) Sotya Astutiningsih mengembangkan material beton dari limbah industri untuk meningkatkan kebutuhan perumahan dan infrastruktur berbasis kelestarian lingkungan.
Menurut Sotya, pemanfaatan bahan baku sekunder menjadi kunci penting dalam memenuhi kebutuhan produksi barang bangunan.
Advertisement
Bahan baku sekunder yang digunakan dapat berupa material keluaran dari produk samping atau limbah yang dimanfaatkan sebagai masukan pada proses produksi lain.
Limbah yang dihasilkan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) berbahan Batubara, misalnya, menyumbang hampir 60% sumber energi di Indonesia. Residu ini bersifat reaktif yang dikenal sebagai abu terbang (fly ash) dan abu dasar (bottom ash).
"UI berkolaborasi dengan SIG meneliti abu terbang dari berbagai sumber PLTU di Indonesia sebagai bahan baku sekunder, baik untuk menggantikan sebagian klinker pada semen Portland (SCM, supplementary cementitious materials) maupun sebagai bahan dasar (prekursor) semen geopolymer," ujar Sotya dilansir Liputan6.com dari laman resmi Universitas Indonesia (UI) www.ui.ac.id, Jumat 13 Februari 2026.
Sotya menyoroti bahwa lonjakan populasi dunia meningkatkan kebutuhan perumahan dan infrastruktur yang berpotensi menekan sumber daya alam.
Oleh karena itu, diperlukan langkah strategis untuk memenuhi kebutuhan bahan bangunan nasional tanpa mengabaikan kelestarian lingkungan. Melalui inovasi ini, ia berharap dapat menciptakan pembangunan yang ramah lingkungan di Indonesia.



