Purbaya: Ekonomi Indonesia Harus Tumbuh 6–8 Persen untuk Serap Tenaga Kerja

kompas.id
4 jam lalu
Cover Berita

DEPOK, KOMPAS — Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan, pertumbuhan ekonomi Indonesia yang masih berada di kisaran 5 persen per tahun berpeluang ditingkatkan hingga 8 persen sesuai target pemerintah. Pertumbuhan tersebut dinilai penting untuk membuka lebih banyak lapangan kerja dan menyerap tenaga kerja baru, terutama dari kalangan generasi muda lulusan perguruan tinggi.

“Sudah lama ekonomi Indonesia tumbuh di kisaran 5 persen. Ada yang bilang itu sudah maksimal. Tetapi kita paling tidak harus tumbuh 6-7 persen untuk menyerap tenaga kerja baru yang masif. Untuk menjadi negara maju harus tumbuh double digit, atau setidaknya 8 persen,” kata Purbaya saat berpidato dalam Wisuda Semester Gasal Tahun Akademik 2025/2026 Universitas Indonesia di Depok, Sabtu (14/2/2026).

Purbaya menyebut pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2025 sebesar 5,11 persen tergolong baik jika dibandingkan sejumlah negara anggota G20, termasuk China, Arab Saudi, Spanyol, Belanda, dan Inggris. Namun, menurut dia, pertumbuhan di kisaran 5 persen tidak lagi cukup, terutama ketika terjadi gejolak ekonomi global.

Karena itu, para lulusan hari ini harus terus belajar lebih dalam untuk memahami dunia dan bagaimana memberi kontribusi bagi ekonomi bangsa.

“Kita tidak boleh tumbuh lambat terus ke depannya. Kita perlu mesin-mesin pertumbuhan ekonomi yang dibahanbakari oleh tenaga muda yang pintar-pintar, lulusan perguruan tinggi seperti UI. Karena itu, para lulusan hari ini harus terus belajar lebih dalam untuk memahami dunia dan bagaimana memberi kontribusi bagi ekonomi bangsa,” ujar Purbaya.

Baca JugaLulusan Baru Perguruan Tinggi Tetap Berpeluang Besar Dapat Pekerjaan

Ia juga menyinggung keberadaan dana abadi pendidikan sebesar Rp 150 triliun yang dikelola Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP). Dana tersebut, kata Purbaya, dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kualitas pendidikan tinggi dan menyiapkan generasi muda sebagai pelaku ekonomi. Termasuk untuk mendukung target UI masuk dalam 100 besar universitas terbaik dunia.

Perkuat posisi global

Sementara itu, Rektor UI Heri Hermansyah mengatakan, dari sekitar 286 juta penduduk Indonesia, hanya sekitar tujuh juta orang yang sedang menempuh pendidikan tinggi. UI, kata dia, melayani sekitar 50.000 mahasiswa, dengan tingkat penerimaan mahasiswa baru (success rate) hanya berkisar 1-3 persen.

Wisuda kali ini meluluskan 4.428 orang. Dari jumlah itu, sebanyak 2.057 lulusan berasal dari program sarjana dan pendidikan vokasi.

Heri menyampaikan, UI terus memperkuat posisinya di tingkat global. Peningkatan peringkat internasional UI pada 2025 hingga masuk 200 besar dunia, menurut dia, mendapat apresiasi langsung dari Presiden Prabowo Subianto.

“UI mendapat pekerjaan rumah untuk masuk ke peringkat 100 universitas dunia,” kata Heri.


Sebagai bagian dari komitmen strategis untuk meningkatkan eksposur internasional mahasiswa sekaligus memperkuat posisi sebagai world class university, Universitas Indonesia (UI) terus memperluas program kelas khusus internasional. Pada 2025, UI mempercepat pembukaan program baru di berbagai fakultas. Memasuki 2026, jumlah program bertambah 16 program studi sehingga total menjadi 38 program studi.

UI juga memanfaatkan momentum Dies Natalis pada awal Februari lalu dengan meluncurkan UI Invest sebagai pengelola dana abadi UI. Inisiatif ini menjadi langkah strategis untuk memperkuat kemandirian institusi sekaligus menciptakan nilai berkelanjutan bagi generasi mendatang.

Baca JugaKemandirian Finansial UI untuk Dukung Tridarma yang Berdampak

Menurut Heri, dana abadi menjadi instrumen strategis UI dalam memperluas akses pendidikan. Sepanjang 2025, lebih dari Rp 420 miliar disalurkan untuk mendukung sekitar 11.000 mahasiswa melalui berbagai skema beasiswa, antara lain bantuan pendidikan, afirmasi, prestasi pendidikan, prestasi iptek, prestasi seni budaya dan kepemimpinan, serta tugas belajar.

Heri menambahkan, UI juga terus memperluas akses pendidikan dari Sabang hingga Merauke. Dalam setahun terakhir, komposisi mahasiswa dari daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) meningkat signifikan. Saat ini, mahasiswa UI berasal dari 342 kota/kabupaten, dan UI terus mengupayakan agar seluruh 512 kota/kabupaten terwakili. Dengan penerimaan sekitar 13.500 mahasiswa baru per tahun, keterwakilan penuh tersebut diperkirakan hanya membutuhkan kurang dari 5 persen kuota, sebagai wujud komitmen terhadap keberagaman dan inklusivitas.

Selain itu, UI Migrant Center dihadirkan sebagai bentuk kontribusi dalam mendukung kebijakan nasional, khususnya untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia pekerja migran Indonesia agar semakin profesional, terlindungi, dan berdaya saing global. Melalui berbagai inisiatif ini, UI menegaskan perannya sebagai universitas yang tidak hanya melahirkan pengetahuan, tetapi juga menghadirkan solusi konkret bagi tantangan bangsa.

“Balairung ini telah menjadi saksi perjalanan hidup kalian, dari mahasiswa baru hingga menjadi alumni. Di tempat inilah perjalanan itu dimulai—belajar, berorganisasi, berprestasi, dan bermimpi. Di sini pula kalian menutupnya hari ini sebagai alumni. Suatu saat nanti, kami berharap kalian kembali ke Balairung ini sebagai pemimpin, profesional, wirausahawan, ilmuwan, maupun tokoh masyarakat yang menginspirasi generasi berikutnya,” kata Heri.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Bahlil Kaji Stop Ekspor Timah untuk Perkuat Ekonomi Dalam Negeri
• 6 jam lalutvrinews.com
thumb
Pemko Medan Rogoh Rp4,17 Miliar Gelar Pasar Murah selama Ramadan
• 6 jam lalubisnis.com
thumb
Wagub Rano Karno: Museum Bahari jadi Bagian Penting Pengembangan Kawasan Kota Tua
• 2 jam laluliputan6.com
thumb
Momentum Libur Imlek 2026, PT KAI Angkut 202 Ribu Penumpang
• 6 jam laludisway.id
thumb
Penjelasan Clairmont Laporkan Codeblu ke Bareskrim Polri, Ngaku Rugi Rp 5 Miliar usai Review Negatif
• 7 jam laluviva.co.id
Berhasil disimpan.