Korea Utara (Korut) akan menggelar Kongres Partai ke-9 pada akhir Februari 2026. Ajang lima tahunan ini bukan sekadar rapat elite, tapi panggung besar bagi Kim Jong-un untuk memamerkan kekuatan nuklirnya sekaligus menegaskan siapa yang berkuasa di Pyongyang, seperti dilaporkan Reuters pada Jumat (13/2).
Menjelang kongres, Jong-un rajin tampil di berbagai lokasi strategis. Ia mengunjungi fasilitas militer, lokasi uji coba rudal, hingga proyek pertanian modern. Semua itu dinilai sebagai cara untuk menunjukkan capaian pemerintahannya dalam lima tahun terakhir.
Kongres ini juga akan mengevaluasi rencana pembangunan sebelumnya. Pada 2021, Jong-un bahkan mengakui rencana ekonomi lamanya gagal di “hampir setiap sektor”. Kini, arah baru untuk lima tahun ke depan akan ditentukan.
Sorotan tak hanya tertuju pada Jong-un. Putrinya, Kim Ju Ae, ikut mencuri perhatian. Anggota parlemen Korea Selatan, mengutip Badan Intelijen Nasional (NIS) pada Kamis (12/2), menyebut Ju Ae mulai dilibatkan dalam sejumlah isu kebijakan.
NIS akan memantau apakah remaja yang diperkirakan berusia 13 tahun itu hadir dalam kongres dan bagaimana ia diperkenalkan. Jika tampil dengan posisi menonjol atau mendapat gelar resmi, spekulasi soal suksesi bisa makin menguat.
Rachel Minyoung Lee dari Stimson Center menilai momen ini krusial bagi arah politik Korut.
“Acara lima tahunan ini akan memberikan gambaran tentang kalkulasi kebijakan domestik dan luar negeri Kim Jong-un untuk lima tahun ke depan,” katanya, dikutip Reuters.
Isu lain yang mengemuka adalah kemungkinan dihidupkannya kembali gelar “presiden” untuk Jong-un, gelar yang dulu melekat pada pendiri negara Kim Il-sung. Jika Ju Ae benar-benar disiapkan sebagai penerus, dinasti Kim akan masuk generasi keempat.
Korea Utara juga diperkirakan menggelar parade militer besar. Kim Yeoul-soo dari Korea Institute for Military Affairs menyebut situasi global memicu keputusan Korut dalam memperbesar kekuatan nuklir.
“Serangan AS ke Venezuela, negara non-nuklir, akan mempercepat obsesi Korut pada senjata nuklir untuk melindungi diri,” ungkapnya.
Mantan diplomat Korut yang membelot, Tae Yong-ho, mengatakan kepada Reuters bahwa Pyongyang belajar dari konflik berbagai negara.
“Apa yang terjadi pada Irak dan Libya, dan khususnya perang di Ukraina, karena mereka tidak memiliki daya tangkal untuk melindungi diri,” ujarnya.
Ia menambahkan, pengembangan kapal selam bertenaga dan bersenjata nuklir menjadi target ambisius dalam lima tahun ke depan.
Kongres ini juga dinilai akan mengirim pesan ke Washington dan Seoul. Meski Presiden AS Donald Trump menyatakan ingin kembali bertemu Jong-un, pembicaraan sebelumnya runtuh pada 2019 terkait sanksi dan denuklirisasi.
Sejumlah pakar terbelah soal langkah Pyongyang berikutnya, apakah menjaga jarak atau membuka kontak terbatas untuk meredakan ketegangan.





