Dokumen Jeffrey Epstein kembali ramai dibicarakan di media sosial sejak akhir Januari 2026. Kali ini bukan sekadar bocoran lama yang diulang-ulang, melainkan juga rilis besar-besaran dari Departemen Kehakiman Amerika Serikat (DOJ) yang berupa sekitar tiga juta halaman dokumen tambahan, lengkap dengan ratusan ribu foto, ribuan video, catatan perjalanan, hingga email yang sebelumnya tersegel. Skala rilisnya saja sudah cukup untuk membuat linimasa sesak.
Nama-nama besar pun kembali beredar. Dari Donald Trump, Bill Gates, Elon Musk, sampai Pangeran Andrew. Di Indonesia, percakapan makin riuh ketika kata “Indonesia” disebut ratusan kali dalam dokumen, meski sebagian besar ternyata berkaitan dengan urusan administratif, logistik, dan arsip institusi global seperti Bank Dunia.
Belum lagi hoaks soal “Perang Dunia III” yang sempat viral sebelum dipatahkan pemeriksa fakta. Di sisi lain, para penyintas justru memprotes terkait masih banyaknya nama penting yang disensor, sementara identitas korban kembali berada di posisi rawan.
Di tengah hiruk-pikuk ini, satu hal sering luput: kita sibuk membaca Epstein Files sebagai kumpulan rahasia, tetapi jarang membacanya sebagai sistem sosial.
Hadiah yang Selalu MengikatAda satu anggapan naif yang sering kita pegang, bahwa “hadiah itu netral”. Kalau seseorang memberi, kita menyebutnya kebaikan. Kalau kita menerima, kita menganggapnya rezeki. Padahal, antropologi sejak lama sudah membongkar mitos ini.
Hampir seabad lalu, Antropolog Prancis, Marcel Mauss, menulis The Gift (1925). Intinya tulisannya adalah “tidak ada hadiah yang benar-benar gratis”. Setiap hadiah membawa kewajiban untuk menerima dan untuk membalas. Hadiah tidak hanya terbatas pada benda. Hadiah itu juga berupa alat pembentuk relasi, hierarki, dan kuasa.
Kalau kacamata ini dipakai untuk membaca Epstein, banyak hal tiba-tiba terasa lebih masuk akal. Epstein memberi banyak “hadiah”, seperti donasi jutaan dolar ke universitas elite, akses ke jet pribadi, undangan ke vila dan pulau eksklusif, hingga “kesempatan emas” bagi mereka yang ingin masuk lingkaran kekuasaan global. Semua terlihat legal, bahkan terhormat.
Masalahnya, dalam logika Mauss, menerima hadiah berarti menerima ikatan. Ikatan itu menuntut balasan, meski bentuknya tidak pernah tertulis.
Ketika Diam Menjadi Bentuk BalasanDalam Epstein Files, tidak semua nama yang muncul adalah pelaku kejahatan. Banyak yang “sekadar berinteraksi”. Namun, di sinilah ekonomi hadiah bekerja secara halus. Balasan atas hadiah tidak selalu berupa uang atau jasa langsung. Kadang balasannya adalah sikap: diam, tidak bertanya, tidak ikut membongkar, atau sekadar menganggap semua ini “urusan pribadi”.
Plea deal Epstein pada 2008—yang membuatnya hanya menjalani hukuman ringan dengan fasilitas work release—sering dibaca sebagai kejanggalan hukum. Namun, dalam perspektif Mauss, ia juga bisa dibaca sebagai hasil dari jaringan kewajiban sosial yang telah lama terbentuk.
Bukan satu konspirasi rapi, melainkan akumulasi relasi hadiah yang membuat banyak pihak enggan mengguncang meja, sehingga Epstein tidak perlu mengancam. Sistem hadiah bekerja dengan sistemnya sendiri.
Hadiah Kecil dan Eksploitasi BesarLogika pertukaran hadiah yang sama bekerja jauh lebih kejam ketika diarahkan ke bawah. Jika di lingkaran elite hadiah hadir sebagai donasi, akses, dan prestise, bagi para korban Epstein “hadiah” muncul dalam bentuk yang jauh lebih kecil, tetapi konsekuensinya jauh lebih besar. Uang tunai, janji karier, atau sekadar perhatian menjadi pintu masuk yang menentukan.
Di Palm Beach, sejumlah korban direkrut saat masih remaja dengan janji bayaran ratusan dolar untuk “pijat sederhana”. Bagi gadis-gadis dari latar belakang ekonomi rapuh, uang ini terasa signifikan. Dalam beberapa kasus, korban yang telah direkrut kemudian didorong untuk membawa teman lain dengan imbalan tambahan. Hadiah kecil di awal perlahan berubah menjadi kewajiban berantai, memaksa korban berperan sebagai perekrut bagi korban berikutnya.
Pola lain bekerja melalui janji mobilitas sosial. Ada korban yang didekati dengan narasi bahwa kedekatan dengan orang-orang kaya dapat membuka peluang karier atau pendidikan. Awalnya relasi itu tampak sebagai bantuan personal, tetapi perlahan bergeser menjadi eksploitasi seksual yang sistematis. Hadiah di sini berupa imajinasi masa depan, sesuatu yang mustahil dibalas secara setara oleh korban.
Dalam beberapa testimoni, hadiah bahkan hadir dalam bentuk yang lebih halus, berupa perhatian dan simbol pengakuan. Undangan menonton pertunjukan, perlakuan istimewa, atau sekadar rasa “dianggap penting” menjadi pemantik awal. Justru karena tampak sepele dan tidak mengancam, hadiah-hadiah semacam ini efektif membangun ikatan yang sulit dilepaskan.
Dalam kerangka Marcel Mauss, situasi ini menunjukkan bentuk paling rusak dari pertukaran hadiah. Mauss menegaskan bahwa pertukaran hanya stabil jika ada kemungkinan membalas. Para korban Epstein tidak pernah memiliki posisi tersebut. Mereka diminta “membalas” tanpa daya tawar, tanpa kapasitas menolak, dan tanpa jalan keluar yang aman. Hadiah berubah menjadi jerat.
Sistem perekrutan berlapis—di mana korban merekrut korban lain demi insentif—menunjukkan bahwa ini bukan sekadar manipulasi individual. Ini adalah ekonomi hadiah yang direproduksi di mana kewajiban dipaksakan kepada mereka yang paling rentan, sementara keuntungan dan perlindungan bergerak ke atas.
Roh Hadiah dan Rahasia BersamaMauss memakai konsep hau atau adanya roh dalam hadiah untuk menjelaskan mengapa hadiah selalu “kembali” ke pemberinya. Dalam masyarakat modern, hau bukan hadir sebagai roh mistis, melainkan sebagai beban simbolik.
Dalam dunia Epstein, hau itu bernama rahasia. Seks, pesta tertutup, dan akses eksklusif membawa “roh” berupa risiko reputasi dan kompromat. Tidak perlu ancaman terbuka. Semua pihak tahu: kalau satu bicara, yang lain ikut tenggelam.
Pulau Little St. James bisa dibaca sebagai potlatch versi gelap di mana pesta besar tempat kekuasaan dipertontonkan lewat konsumsi dan akses. Bedanya, potlatch klasik membangun solidaritas. Di sini, yang dibangun justru hierarki dan loyalitas paksa.
Epstein Files Bukan Daftar Nama, tapi Peta RelasiRilis dokumen besar-besaran sering memicu satu obsesi tentang siapa disebut, siapa tidak. Padahal, nilai terpenting Epstein Files bukan pada daftar nama, melainkan pola relasi yang ia perlihatkan. Justru karena relasi itu bergerak di wilayah abu-abu—dari segi sosial, filantropis, administratif—banyak nama muncul tanpa tuduhan pidana.
Di sinilah teori Mauss terasa relevan untuk dunia modern. Kapitalisme tidak menghapus ekonomi hadiah. Ia justru menyamarkannya. Hadiah dibungkus sebagai donasi, akses, atau kesempatan. Kewajiban dibungkus sebagai etika pergaulan elite.
Yang Perlu Kita Curigai Bukan Hanya KejahatanMembaca Epstein lewat Mauss membuat kita bergeser dari pertanyaan “Siapa pelakunya?” ke pertanyaan yang lebih tidak nyaman: Bagaimana masyarakat elite mempertahankan dirinya lewat pertukaran yang tampak wajar?
Epstein bukan hanya predator seksual. Epstein adalah simpul dalam sistem hadiah yang rusak di mana memberi berarti mengikat dan menerima berarti berutang.
Epstein Files dalam arti ini adalah etnografi gelap tentang bagaimana kekuasaan bekerja lewat sesuatu yang kelihatannya sopan dan legal. Dan mungkin, pelajaran paling mengganggu dari semua ini bukan soal Epstein atau para elite global, melainkan soal kita sendiri. Karena teori Mauss berlaku di mana-mana bahwa setiap hadiah menciptakan relasi.
Pertanyaannya tinggal satu: Hadiah apa saja yang selama ini kita terima dan balasan apa yang tanpa sadar sudah kita berikan?




