Penulis: Masrul Fajrin
TVRINews, Surabaya
Guru dan ulama ditegaskan sebagai garda depan penguatan karakter bangsa dalam forum Silaturahmi Alim Ulama dan Rapat Kerja Nasional Jaringan Kiai Santri Nasional (JKSN) serta Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu) di Pondok Pesantren Amanatul Ummah, Surabaya, Sabtu, 14 Februari 2026.
Sejumlah tokoh nasional hadir dan menekankan pentingnya sinergi pendidikan, persatuan, serta penguatan ekonomi demi menjawab tantangan zaman.
Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, menyampaikan komitmen pemerintah provinsi dalam menyelaraskan program pendidikan dengan kebutuhan masyarakat, terutama di bidang kesehatan.
“Kami terus berkoordinasi dengan perguruan tinggi dan rumah sakit agar format terbaik bisa segera diterapkan. Jawa Timur siap menjadi bagian dari solusi nasional,” ujar Khofifah.
Ia memaparkan kesiapan Jawa Timur dalam mendukung pemerataan dokter spesialis melalui skema pendidikan berbasis rumah sakit (hospital based). Infrastruktur kesehatan yang memadai dinilai menjadi modal kuat, terlebih sejumlah rumah sakit milik pemerintah provinsi telah menjadi rujukan nasional.
“Potensi tersebut dapat dioptimalkan untuk mendukung penempatan dokter spesialis di daerah tertinggal, terluar, dan terdepan,” imbuhnya.
Khofifah juga mengingatkan pentingnya keseimbangan pola pikir global dan kearifan lokal. Guru dan ulama dinilai memegang peran sentral dalam membentuk generasi muda yang berintegritas, berwawasan kebangsaan, serta tangguh menghadapi arus globalisasi.
Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan, Djamari Chaniago, mengajak seluruh elemen bangsa memperkuat persatuan.
“Tentara, polisi, dan umat sebagai tiga pilar utama penyangga negara,” ujarnya.
Ia mengingatkan kembali peristiwa Resolusi Jihad yang digelorakan Hasyim Asy'ari pada 22 Oktober 1945. Seruan tersebut membakar semangat perlawanan arek-arek Suroboyo hingga meletus pertempuran 10 November 1945 yang kini diperingati sebagai Hari Pahlawan.
“Di antara para pejuang itu ada guru, ulama, dan santri. Semangat itu harus kita warisi hari ini dalam bentuk penguatan pendidikan dan pembangunan karakter,” tegasnya.
Ia menambahkan peran guru tidak sebatas mentransfer ilmu pengetahuan, tetapi juga menanamkan nilai sejarah, nasionalisme, serta tanggung jawab menjaga kekayaan bangsa.
"Guru tidak hanya bertugas mentransfer ilmu pengetahuan, tetapi juga menanamkan nilai sejarah, nasionalisme, dan tanggung jawab menjaga kekayaan bangsa," tambahnya.
Ketua Umum JKSN sekaligus Pengasuh Pondok Pesantren Amanatul Ummah, Asep Syaifuddin Chalim, menekankan pentingnya transformasi perjuangan pesantren. Ia menyebut orientasi perjuangan saat ini perlu diarahkan pada kesejahteraan dan keadilan sosial.
“Sejak awal berdirinya, Nahdlatul Ulama bertujuan menjaga faham Ahlussunnah wal Jamaah dan memperjuangkan Indonesia merdeka. Setelah kemerdekaan diraih, perjuangan harus diarahkan pada penguatan ekonomi dan keadilan sosial,” tuturnya.
Ia memaparkan empat pilar utama menuju Indonesia maju dan makmur, yakni melahirkan ulama dan ilmuwan besar, membentuk birokrat profesional yang berorientasi pada kepentingan rakyat, mencetak pengusaha nasional yang berkontribusi bagi kemajuan bangsa, serta menghadirkan profesional berkualitas dan bertanggung jawab.
“Serta menghadirkan profesional berkualitas dan bertanggung jawab,” lanjutnya.
Rakernas JKSN dan Pergunu dihadiri ratusan kiai dan pengurus dari berbagai daerah. Forum ini menegaskan semangat kolaborasi guru dan ulama sebagai fondasi penguatan sumber daya manusia Indonesia yang unggul, berkarakter, serta berdaya saing global tanpa meninggalkan nilai religius dan Pancasila.
Editor: Redaktur TVRINews





