REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pola hidup modern yang serbacepat sering kali memaksa kita untuk mengonsumsi makan malam di waktu yang sangat larut, bahkan sesaat sebelum memejamkan mata. Entah itu karena tuntutan pekerjaan yang baru selesai atau sekadar keinginan untuk mengemil sambil menonton tayangan favorit, kebiasaan ini dianggap praktis bagi banyak orang.
Namun, di balik kenyamanan sesaat itu, tubuh kita sebenarnya sedang berjuang menghadapi gangguan metabolisme yang serius. Dokter asal Hyderabad, India, dr Pooja Reddy, mengungkapkan fakta mengejutkan tentang apa yang sebenarnya terjadi di dalam tubuh ketika kita makan tepat sebelum tidur. Menurut dia, kebiasaan ini bukan sekadar masalah kenaikan berat badan biasa, melainkan penghancuran sistem alami tubuh yang paling berharga.
- Makanan yang Dipercaya Bisa Memperlambat Proses Penuaan
- Dokter Gizi Ingatkan Bahaya Makanan Manis Berlebihan saat Berbuka Puasa
- Pola Makan Mediterania Dikaitkan dengan Penurunan Risiko Stroke pada Perempuan
Ia mengatakan setiap malam, tubuh manusia telah dirancang untuk melakukan perbaikan seluler dan pembakaran lemak secara otomatis. Namun, siklus ini sangat bergantung pada hormon pertumbuhan.
"Jika makan sesaat sebelum tidur, Anda sedang menghancurkan jendela pembakaran lemak paling kuat yang dimiliki tubuh. Setiap malam, saat tidur, tubuh dirancang untuk memperbaiki dirinya sendiri dan membakar lemak," ujarnya dikutip dari laman Hindustan Times pada Sabtu (13/2/2026).
.rec-desc {padding: 7px !important;}Keajaiban metabolisme ini biasanya terjadi pada fase awal istahat. Dalam dua jam pertama tidur nyenyak, tubuh akan melepaskan lonjakan hormon pertumbuhan dalam jumlah besar. Hormon ini bukan sekadar pembakar lemak utama, tetapi juga merupakan hormon antipenuaan yang bekerja memperbaiki otot, membangun kembali tulang, dan menjaga penampilan tetap awet muda.
Sayangnya, proses biologis yang canggih ini bisa seketika lumpuh hanya karena satu piring makanan yang kita konsumsi sebelum tidur. Masalah utamanya terletak pada interaksi antara hormon pertumbuhan dan insulin. Dokter Pooja mengatakan, hormon pertumbuhan sangat sensitif dan kinerjanya akan terhambat oleh kehadiran insulin. Sebagaimana diketahui, kadar insulin dalam darah akan melonjak setiap kali kita memasukkan makanan ke dalam tubuh.




