Teleskop SPHEREx NASA Temukan Molekul Organik di Komet Antarbintang 3I/ATLAS

mediaindonesia.com
4 jam lalu
Cover Berita

TELESKOP luar angkasa SPHEREx, sebuah proyek kolaborasi antara Amerika Serikat (NASA) dan Korea Selatan, baru saja mencatatkan sejarah baru.

Meski tugas utamanya adalah mengamati 450 juta galaksi dan 100 juta bintang untuk mengungkap asal-usul alam semesta, tim misi ini menyempatkan diri untuk mengamati objek antarbintang (ISO) ketiga yang pernah terdeteksi di tata surya kita, yaitu komet 3I/ATLAS.

Melalui pengamatan mendalam, tim peneliti mendeteksi keberadaan molekul organik kompleks seperti air, karbon dioksida, karbon monoksida, dan sianida. Molekul-molekul ini dikenal luas sebagai blok bangunan dasar bagi munculnya kehidupan. Temuan ini memberikan kesempatan langka bagi para ilmuwan untuk meneliti secara langsung komposisi kimia dari sistem planet asing tanpa harus meninggalkan Bumi.

Baca juga : Komet Antarbintang 3I/ATLAS Simpan Air dan Molekul Organik, Terungkap lewat Teleskop Korea–AS

Perubahan Pada Komposisi Komet

3I/ATLAS pertama kali ditemukan pada Juli tahun lalu melalui teleskop survei ATLAS milik NASA. Analisis orbit segera mengonfirmasi bahwa komet ini berasal dari luar tata surya. Dalam perjalanannya, peneliti membandingkan data observasi dari bulan Agustus dengan tindak lanjut pada Desember 2025.

Pada awalnya, komet ini didominasi oleh karbon dioksida dengan sedikit kandungan air. Namun, seiring mendekatnya komet ke Matahari, aktivitas kimiawi di dalamnya meningkat drastis.

Fenomena ini terjadi karena proses sublimasi, di mana es pada permukaan komet berubah langsung menjadi gas akibat panas Matahari. Karena panas membutuhkan waktu untuk meresap ke bagian dalam inti komet, emisi material yang paling aktif justru terjadi setelah komet melewati titik terdekatnya dengan Matahari (perihelion). Hal inilah yang menyebabkan tingkat kecerahan dan keragaman molekul pada 3I/ATLAS meningkat secara signifikan pada pengamatan bulan Desember.

Peran Penting Teleskop SPHEREx

Keberhasilan ini tidak lepas dari posisi SPHEREx sebagai teleskop luar angkasa. Molekul seperti air dan karbon dioksida sangat sulit diamati oleh teleskop di permukaan Bumi karena cahaya inframerah yang dipancarkannya terserap oleh atmosfer kita. Dengan berada di luar angkasa, SPHEREx mampu menangkap panjang gelombang inframerah spesifik secara presisi untuk memetakan bahan organik yang dipancarkan oleh komet tersebut.

Ke depannya, tim peneliti akan terus mengumpulkan data tambahan untuk membandingkan karakteristik komet dari tata surya kita dengan komet antarbintang. Studi jangka panjang ini diharapkan dapat membantu ilmuwan memahami proses pembentukan sistem planet ekstrasurya serta bagaimana awal mula bahan-bahan pembentuk kehidupan bisa tersebar di alam semesta. (Sumber: Universe Today, DongA Science/P-3)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Prabowo: MBG Mendorong Konsumsi Rumah Tangga & Pertumbuhan di Desa
• 7 jam laludetik.com
thumb
Wataru Endo Absen Lama, Arne Slot Ungkap Cedera Serius Pemain Liverpool
• 8 jam laluviva.co.id
thumb
Jalan Sudirman-MH Thamrin Macet saat Long Weekend
• 2 jam laluokezone.com
thumb
Libur Imlek Telah Tiba, Orang Ramai Datang dan Pergi ke Malang
• 7 jam lalukompas.id
thumb
Gugatan Praperadilan Ditolak, Richard Lee Kembali Diperiksa Polda Metro Jaya Pekan Depan
• 11 jam lalutvonenews.com
Berhasil disimpan.