FAJAR, MAKASSAR — Stadion Gelora BJ Habibie, Parepare, yang biasanya menjadi benteng kebanggaan, sore itu terasa berbeda. Bukan karena sepi suporter, melainkan karena pendekatan yang dipilih tuan rumah. Dengan tiga pemain baru tersedia baik inti maupun cadangan, publik berharap ada keberanian baru. Namun yang terlihat justru kehati-hatian berlebihan.
PSM Makassar memilih menunggu. Blok rendah diterapkan sejak awal. Garis pertahanan dirapatkan, lini tengah lebih sibuk memotong alur umpan ketimbang membangun serangan. Strategi itu seolah memberi pesan: jangan kebobolan dulu, urusan menyerang belakangan.
Masalahnya, sepak bola tak selalu ramah pada tim yang terlalu lama menunggu.
Sejak menit pertama, arah permainan sudah jelas. Dewa United tampil percaya diri dengan sirkulasi bola yang rapi. Stefano Lilipaly, Taisei Marukawa, dan Ricky Kambuaya bergantian mengatur tempo. Sementara PSM lebih banyak bergerak reaktif—mengandalkan momen transisi cepat yang tak kunjung matang.
Peluang emas pertama justru datang dari kaki Jacques Medina pada menit ke-9. Tembakan kerasnya memaksa Sonny Stevens bekerja keras. Itu menjadi satu dari sedikit momen di mana PSM tampak berani keluar dari cangkangnya.
Di sisi lain, Alex Martins sempat membuat jantung publik Parepare berdegup lebih cepat pada menit ke-18. Ia mencetak gol, namun bendera offside lebih dulu terangkat. Ancaman itu menjadi sinyal bahwa tekanan Dewa United bukan sekadar formalitas.
Hingga turun minum, skor 0-0 bertahan. Secara angka, aman. Namun secara permainan, rapuh. PSM tak benar-benar mengendalikan apa pun. Mereka hanya menahan.
Memasuki babak kedua, situasi tak banyak berubah. Dewa United menaikkan intensitas, sementara PSM tetap berhitung. Tekanan demi tekanan datang, dan ruang semakin sempit.
Titik balik hadir pada menit ke-76. Victor Luiz menerima kartu merah. Keputusan wasit itu menjadi pukulan berat. Bermain dengan sepuluh orang di fase krusial memaksa struktur pertahanan semakin dalam. Blok rendah berubah menjadi blok tertekan.
Sejak saat itu, laga terasa seperti menunggu waktu. Reza Arya Pratama sempat menjadi tembok terakhir. Namun tekanan tanpa inisiatif balasan membuat PSM terus berada dalam gelombang serangan.
Menit ke-90, Vico Duarte memecah kebuntuan. Stadion terdiam. Empat menit berselang, Alex Martins memastikan kemenangan 2-0 lewat sepakan yang tak terbendung. Dua gol di ujung laga menjadi simbol dari satu hal: dominasi yang tak pernah benar-benar dilawan.
Selepas pertandingan, pelatih PSM, Tomas Trucha, tak menutup kekecewaannya. Dalam konferensi pers, ia menyebut penampilan timnya “sangat buruk sejak awal”. Ia bahkan mengaku heran bagaimana timnya bisa bertahan tanpa kebobolan di babak pertama.
Pengakuan itu terasa jujur, sekaligus menyiratkan kegamangan. “Buruk, sangat buruk sejak awal pertandingan. Kita cuma melihat-lihat Dewa United memainkan bola,” ujarnya. Sebuah kalimat yang menggambarkan betapa PSM terlalu pasif.
Padahal, kesempatan memainkan tiga wajah baru bisa menjadi momentum perubahan. Energi segar di tengah tekanan sering kali menjadi pembeda. Namun yang terlihat justru kehati-hatian berkepanjangan.
Kekalahan ini terasa makin menyakitkan karena datang setelah kemenangan penting atas PSBS Biak. Harapan menjaga tren positif sirna begitu saja. Konsistensi kembali menjadi persoalan klasik.
Dengan hasil ini, PSM turun ke peringkat 13 dengan 23 poin. Jarak dengan zona degradasi hanya delapan angka—sebuah margin yang tidak nyaman di kompetisi panjang seperti BRI Super League. Alarm bahaya mulai berbunyi pelan, tapi jelas terdengar.
Lebih dari sekadar angka, pertandingan ini menyisakan pertanyaan: mengapa PSM tampak kurang percaya diri bermain di kandang sendiri? Stadion BJ Habibie semestinya menjadi ruang keberanian, bukan kehati-hatian berlebih.
Strategi bertahan bukanlah dosa dalam sepak bola. Banyak tim besar memenangi laga lewat disiplin dan kesabaran. Namun bertahan tanpa rencana progresif adalah cerita lain. Ketika tidak ada keberanian untuk mengambil risiko, tekanan hanya akan menumpuk—dan cepat atau lambat, jebol juga.
Di Parepare sore itu, dua gol di menit akhir menjadi pelajaran keras. Bahwa bermain aman tak selalu berarti selamat. Bahwa keberanian kadang lebih penting daripada sekadar bertahan.
Kini, ujian berikutnya sudah menanti. PSM akan bertandang ke markas Persija Jakarta pada 20 Februari mendatang. Lawan papan atas, atmosfer panas, tekanan berlipat.
Jika pendekatan yang sama kembali dipilih, risiko bisa lebih besar. Tetapi jika kekalahan ini dijadikan refleksi, mungkin ada kesempatan membalikkan narasi.
Sepak bola selalu memberi ruang untuk menebus. Pertanyaannya: apakah PSM berani keluar dari bayang-bayang kehati-hatian mereka sendiri?





