Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Terbuka (FEB UT) bekerja sama dengan Agung Sedayu Group menggelar seminar bertajuk The International Seminar on Syariah Economics (ISSE) 2026 pada Kamis, 12 Februari 2026. Bertempat di Hall Marketing Gallery Pantai Indah Kapuk (PIK), Jakarta, forum akademik ini mengusung tema 'Harmonisasi Prinsip Ekonomi Syariah dan Sustainable Development Goals (SDGs): Strategi Integratif untuk Pembangunan Berkelanjutan yang Inklusif'.
Acara ini bertujuan untuk mengkaji kompatibilitas praktis serta menyelaraskan filosofi ekonomi Islam ke dalam kerangka kerja SDGs guna mendorong pembangunan berkelanjutan. Dihadiri oleh para undangan dan para mahasiswa FEB UT, kerja sama ini merupakan bentuk komitmen kedua belah pihak untuk berkontribusi aktif pada perkembangan ekonomi Islam untuk mendukung kemajuan ekonomi nasional.
Direktur Utama Agung Sedayu Group, Dr. Nono Sampono, menekankan pentingnya kajian akademik untuk mengembangkan ekonomi syariah, khususnya di kawasan PIK 2 yang kini memiliki Menara Syariah, ikon pusat ekonomi berbasis syariah. Ia menjelaskan bahwa pengembangan ini mencakup berbagai kegiatan sosial dan ekonomi, terutama menjelang bulan suci Ramadan.
"Kita berharap ada kajian akademik yang bisa membantu mengembangkan ekonomi syariah, khususnya di lingkungan Agung Sedayu dan lebih khusus lagi di PIK 2. Di sana banyak hal yang sudah dilakukan dan rencana ke depan, seperti bazar UMKM dan kepedulian sosial terhadap masyarakat bawah, yang semuanya selaras dengan kerangka kerja SDGs," ujar Dr. Nono Sampono.
Baca juga: Mimpi Besar Prabowo di Indonesia Incorporated: Kita Harus Bangkit Jadi Raksasa!
Selaras dengan kerangka kerja SDGs, sistem ekonomi syariah muncul sebagai model pembangunan alternatif yang kuat karena berakar pada keadilan sosial, distribusi pendapatan yang merata, dan kesejahteraan kolektif. Tujuan dari ekonomi Islam adalah untuk mewujudkan kemaslahatan. Ditemukan keselarasan substansial dalam landasan etika, terutama dalam pengentasan kemiskinan dan pengurangan ketidaksetaraan, melalui instrumen seperti zakat dan wakaf.
Senada dengan hal tersebut, Dekan FEB UT, Meyrani Harsasi menilai kajian secara akademik melalui perguruan tinggi, seperti Universitas Terbuka, kali ini menjadi sangat penting dan bermanfaat.
"Kami mengundang narasumber-narasumber dari Singapura dan juga dari Brunei Darussalam untuk memaparkan potensi-potensi perkembangan ekonomi syariah yang sangat perlu diketahui para mahasiswa agar memiliki perspektif luas mengenai potensi ekonomi syariah sebagai alat mencapai tujuan pembangunan global," jelas Meyrani.
Seminar ini menghadirkan sejumlah pakar ternama, di antaranya Siti Rochmawati selaku Deputy Director Department of Syariah Economics and Finance Bank Indonesia sebagai pembicara utama. Selain itu, hadir pula pembicara mancanegara seperti Dr. Muhammad Zaki bin Haji Zaini dari Universitas Islam Sultan Sharif Ali Brunei Darussalam, Fazlur Rahman bin Kamsani dari National University of Singapore, serta peneliti ekonomi syariah UT, Dr. Indar Fauziah Ulfah.
Melalui diskusi ini, ditekankan bahwa pembangunan masa depan tidak hanya boleh berorientasi pada aspek ekonomi semata, tetapi juga harus mencakup keberlanjutan, inklusivitas, dan dampak sosial jangka panjang. Hal ini menuntut dunia usaha untuk memiliki tanggung jawab untuk tetap turut berkontribusi terhadap pencapaian SDGs melalui praktik bisnis yang berkelanjutan.




