Jurus RI Tekan Impor Bensin, Campuran Etanol 20% hingga Kembangkan Lahan Tebu

kumparan.com
14 jam lalu
Cover Berita

Pemerintah tengah menyiapkan sejumlah langkah untuk menekan impor bahan bakar minyak (BBM) jenis bensin di Indonesia, mengingat porsinya masih dinilai jauh lebih besar dibandingkan produksi domestik.

Sebagai bagian dari upaya tersebut, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Bahlil Lahadalia, menargetkan penerapan mandatori campuran etanol dalam bensin (bioetanol) dapat ditingkatkan hingga 20 persen atau E20 pada 2028.

Target yang lebih agresif dibanding rencana sebelumnya yang memprioritaskan implementasi E10 lebih dulu. Bahlil menyebut, kebutuhan solar nasional mencapai sekitar 39 juta kiloliter per tahun, sementara produksi domestik baru sekitar 16 juta kiloliter.

Kebutuhan bensin nasional tercatat sekitar 40 juta kiloliter per tahun, sedangkan produksi dalam negeri hanya sekitar 14 juta kiloliter, sehingga impor masih berkisar 25 juta kiloliter per tahun.

“Sampai ayam tumbuh gigi, kalau enggak kita kreatif untuk membuat ini, enggak akan bisa kita dalam negeri semua. Maka kita akan lakukan adalah di samping kita naikkan lifting, kita akan dorong namanya etanol E20 2028, dengan demikian akan mengurangi impor kita,” ungkap Bahlil saat Indonesia Economic Outlook 2026, dikutip Minggu (15/2).

Selain solar dan bensin, Bahlil juga menargetkan peningkatan produksi avtur di dalam negeri, dengan program bioavtur yang salah satunya berasal dari campuran minyak jelantah (used cooking oil). Ia pun meminta Pertamina untuk meningkatkan kapasitas penyimpanan produk minyak mentah.

Tebu di Merauke Dikembangkan Jadi Etanol

Kemudian, Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto Airlangga Hartarto menyatakan mutu tanah di kawasan pengembangan food estate di Merauke, Papua Selatan tergolong subur, bahkan dinilai melampaui kualitas lahan di Australia.

Menurutnya, potensi tersebut dapat dioptimalkan, khususnya untuk pengembangan komoditas tebu sebagai bagian dari program lumbung pangan.

“Yang di Merauke salah satunya adalah untuk pengembangan tebu dan juga etanol. Kalau dari berbagai expert dari Australia mengatakan apa yang tanah daripada di Merauke dibandingkan Australia itu lebih baik,” kata Airlangga saat konferensi pers Jakarta Food Security Summit di Gedung Kadin, Jakarta, Selasa (13/1).

Pengembangan tebu di wilayah tersebut tidak hanya diarahkan untuk kebutuhan pangan, tetapi juga sebagai penopang program energi bersih.

Pemerintah Indonesia saat ini tengah mendorong produksi etanol berbasis biomassa sebagai campuran bahan bakar bensin melalui penerapan bertahap skema E5 hingga E10.

“Nah inilah yang menjadi tantangan kita ke depan. Karena selain biodiesel pemerintah juga sedang mendorong pengembangan etanol base untuk bensin. Di mana E5 atau E10 tentu membutuhkan 2-3 juta etanol,” jelas Airlangga.

“Dan ini akan baik kalau kita bisa produksi melalui food estate. Nah beberapa intensifikasi yang didorong tentunya mulai dari pupuk irigasi, penyuluh, dan bibit itu menjadi kunci,” tambahnya.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Super League: Vinicius Cetak Brace, Arema FC Sikat Semen Padang
• 2 jam lalukumparan.com
thumb
Terpopuler: Allegri Terpukau Gol Luka Modric, Ruang Ganti Persib Memanas
• 12 jam laluviva.co.id
thumb
BMKG Deteksi Bibit Siklon 96S, Ini Daftar Wilayah Berpotensi Hujan Lebat 15 Februari
• 12 jam lalukompas.tv
thumb
Detik-Detik Guguran Awan Panas Gunung Semeru Meluncur Sejauh 6 Km
• 16 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Syaharuddin Alrif Coret Putri Dakka dan Andi Aslam sebagai Calon PAW RMS, Tinggal 3 Nama Berpeluang
• 8 jam laluharianfajar
Berhasil disimpan.