“Inna muhimmataka laysat al-bahtha 'an al-hubb, bal al-bahth bi-dakhilika 'an tilka al-judran wa al-hawajiz allati tubqiihi ba'idan 'an ruhika".
Ungkap Jalaluddin Rumi atau yang bila mendapat bubuhan transkripsi (dengan diakritik seperti garis di atas huruf vokal) dari aksara Arab ke Latin maka akan tertulis: Jalāl ad-Dīn Muhammad Rūmī (30 September 1207 – 17 Desember 1273), dalam salah satu karya syairnya.
“Tugasmu bukanlah mencari cinta, melainkan menemukan dan menghancurkan semua penghalang dalam dirimu sendiri yang telah kamu bangun untuk menentangnya,” kata penyair sufi asal Persia (resmi berubah menjadi Iran, atas permintaan Reza Shah Pahlavi pada 21 Maret 1935) itu.
Kutipan tersebut dapat berada di persinggahan interpretasi, bahwa cinta itu sesungguhnya sudah ada di dalam diri tiap manusia. Oleh karena itu, cinta tidak perlu dicari. Namun, dapat lebih ditegaskan keberadaannya di dalam diri tiap manusia.
Begitulah adanya. Menurut pandangan Syā'irul Hubb (شاعر الحب) atau versi terjemahan bahasa Indonesia Penyair Cinta itu, cinta sejati sering memperoleh pengaitan dengan mahabah. Lupa akan kepentingan diri sendiri karena mendahulukan cintanya kepada Allah Subhanahu wa ta’ala.
Semua itu sesungguhnya merupakan potensi suci yang sudah tertanam di dalam hati manusia. Dengan demikian, cinta adalah fitrah, sifat asal atau pembawaan, yang sudah ada pada diri tiap manusia.
Oleh karena itu, Jalaluddin Rumi menekankan, manusia tidak perlu mencari cinta dengan keluar dari dirinya sendiri. Sekali lagi, cinta itu sesungguhnya sudah berada di dalam diri manusia itu sendiri.
Potensi cinta itu bersemayam di kalbu sanubarinya. Di bagian terdalam hati atau jiwa manusia. Tugas manusia hanyalah membersihkan penghalang yang menutup telinga hati, sehingga manusia tidak bisa mendengarkan dengan jelas panggilan suara cinta dari kalbu sanubari masing-masing.
Penyair yang tersohor dengan Tarian Darwis Berputar atau Raqshul Darāwīsy (رقص الدراويش), Tarian Para Darwis (Penganut Sufisme) itu, mengibaratkan kalbu sanubari (hati) manusia itu seperti layaknya cermin. Ia terprogram guna memantulkan cahaya illahi.
Kalbu sanubari yang bersih, bebas dari kotoran penghalang yang menyelimutinya, berpotensi menggapai tajalli, pencerahan spiritual, dengan merasakan adanya pantulan cahaya illahi di kalbu sanubarinya. Hal itu terjadi manakala telah terjadi proses penyucian diri (takhalli) dan penghiasan diri dengan akhlak terpuji (tahalli).
Penghalang Cahaya CintaDalam genggam pandangan tasawuf Jalaluddin Rumi, keterikatan yang berlebihan terhadap dunia nan fana, seperti harta, kedudukan, dan kenikmatan fisik semata, tampil sebagai biang penghalang utama.
Dunia seolah menjadi penjara bagi kalbu sanubari, sehingga tidak kuasa menghadapi teror keinginan yang tiada pernah berkesudahan. Dan, mengalihkan perhatian untuk beribadah dengan sepenuh mahabah kepada Sang Khalik.
Cahaya illahi juga tak akan pernah terpantulkan ke cermin kalbu sanubari manakala manusia terlalu mengasyiki kesombongan dan keegoisannya serta merasa diri sebagai pihak yang paling benar (yang berseberangan dengan dirinya pasti salah).
Penghalang ini menyebabkan manusia menutup hatinya dari kebenaran pihak lain. Dan, yang ada hanya kebenaran dirinya sendiri.
Manusia yang demikian telah tergelincir ke dalam pemikiran rasional semata, dalam taut artian terlibat dalam pemujaan akal sempit. Akibatnya, mereka merasa tidak membutuhkan Tuhan.
Dengan keangkuhan yang berdosis tinggi, mereka merasa sudah cukup dengan diri sendiri. Penghalang ini akan menutup peluang adanya dialog mesra antara spiritualitas dan logika guna memperoleh satu kesatuan fungsional.
Akal seperti lentera di tangan. Sementara itu, spiritualitas seperti cahaya bintang di langit malam. Lentera merupakan alat pemberian Tuhan untuk menerangi jalan setapak nan gelap yang mesti manusia lewati di depan pandangan mata agar langkahnya tidak terlalu sering terkendala batu-batu sandungan.
Sementara itu, cahaya bintang di langit, menyimbolkan petunjuk arah yang lebih luas guna memberi kepastian manusia tidak menapakkan langkahnya ke arah yang tersesat dalam perjalanan jarak jauhnya.
Agar persoalan ini tidak menjadi penghalang yang menutupi kalbu sanubari untuk memantulkan cahaya illahi atau cinta itu, agaknya memang perlu manusia memanfaatkan lentera itu, seraya istikamah menatap ke langit agar tiba di tujuan dengan husnulkhatimah.
Bukan dalam artian perbandingan 50 : 50, melainkan memanfaatkan akal secara maksimal. Usaha seoptimal-optimalnya dan penyerahan diri sepenuh utuh kepada kehendak Tuhan menjadi orkestrasi pengiring setiap melakoni tahap demi tahap perjuangan kehidupan.
Penyair yang ajaran tasawufnya menjadi dasar para pengikutnya mendirikan Tarekat Mawlawiyah itu, pernah mengingatkan kita, betapa akal terkadang dapat mengalahkan spiritualitas manusia, sehingga mereka sedemikian sering menanggung beban sakit hati atau merasai gelinjang duka nestapa di dada.
Akal rasionalitas tanpa imbangan yang memadai dengan spiritualitas, dapat sedikitnya membatasi dan lebih parahnya menjauhkan pemahaman manusia akan cahaya illahi. Cinta yang melampaui logika.
Penghalang kalbu sanubari sehingga tidak mampu menjadi cermin yang jernih untuk menerima pantulan cahaya illahi lainnya adalah ketakutan untuk melepaskan keterikatan yang melebihi takaran sehat menurut perspektif spiritual.
Jalaluddin Rumi pernah mengangsurkan pesan, agar manusia tidak melarikan diri tatkala mereka harus berkawan dengan rasa sakit atau bergulat dengan penderitaan.
Pemilik karya agung Diwan-i Shams-i Tabrizi (1247) atau kira-kira dalam terjemahan Indonesia Antologi Puisi untuk Syams Tabrizi itu berpandangan, justru dengan melalui kehancuran hati setelah mendapat ujian dan penderitaan hidup, cahaya cinta illahi kemudian dapat masuk ke dalam kalbu sanubari manusia.
Sebaliknya, bila manusia menolak untuk “terluka” yang dalam perspektif spiritual berarti melepaskan keterikatan pada kefanaan, maka kalbu sanubarinya malahan akan tertutup dari pancaran cahaya cinta illahi.
Cinta kepada makhluk (cinta majazi) bisa menjadi penghalang manakala tidak menjadi jembatan untuk menuju cinta illahi (ishq haqiqi). Sebab, keterikatan yang teramat sangat terhadap materi tanpa visi spiritual, sesungguhnya merupakan hijab yang menyelubungi cahaya cinta illahi.
Menurut penyair yang menggunakan nama pena (takhallus) Khāmūsh (خاموش) artinya Si Hening untuk melambangkan betapa kata-kata manusia tidak akan pernah cukup untuk menjelaskan hakikat Tuhan, semakin sering manusia menggosok cermin kalbu sanubarinya dengan penyucian jiwa melalui zikir, semakin bersih cermin kalbu sanubarinya itu sehingga dapat memantulkan cahaya cinta illahi.
Dan, keterikatan terhadap duniawi serta nafsu yang tidak dapat terkontrol nalar sehat spiritualitasnya, itu semua merupakan debu yang menutupi cermin kalbu sanubarinya, sehingga maksimalitas fungsinya sebagai pemantul cahaya cinta illahi akan “amat sangat berkurang sekali” (maaf kalau sedikit redundan, tapi efektif untuk menampilkan bentuk superlatif).
Kalbu sanubari yang terselubungi, terhijab, karena terdapat kotoran yang menempelinya. Penyair yang mendapat sebutan Khudawandgar (Guru Besar) itu berpesan, agar cermin di kalbu sanubari dapat memantulkan cahaya cinta illahi, manusia perlu membersihkannya.
Nah, di sinilah relevansi pesan spiritualnya sebagaimana kutipan awal esai ini, yaitu mencari dan menghancurkan segenap penghalang yang menghijabi pantulan cahaya cinta illahi di kalbu sanubari.
Ayah dari Sultan Walad, Ala-eddin Chalabi, Amir Alim Chalabi, dan Malakeh Khatun itu menandaskan konsep spiritualnya, bahwa pencinta (manusia) dan Yang Dicintai (Tuhan) sesungguhnya tidak pernah terpisah.
Hanya cahaya cinta illahi itu dapat terhijab kerak-kerak ketidakpedulian, keegoisan yang menimbuninya. Tugas manusia adalah membersihkannya.
Kasih SayangCinta atau kasih sayang merupakan kebutuhan universal umat manusia. Menurut perspektif psikologis, biologis, dan sosiologis, cinta dan kasih sayang berada dalam ranah kebutuhan dasar manusia. Memiliki kesetaraan nilai penting sebagaimana halnya kebutuhan fisik, seperti pemenuhan kebutuhan makan dan minum atau tempat berlindung.
Cinta atau kasih sayang hadir tanpa pagar-pagar yang mengantarai, seperti bangsa, ras, atau lembaga keagamaan, apalagi anutan politik atau kiblat gaya hidup. Kedewasaan cinta atau kasih sayang melampaui kesemua hal itu. Merasuki ke seluruh jaringan sel-sel kemanusiaan dalam kancah peradaban.
Bagi kalangan Islam moderat (wasathiyah) ada kecenderungan untuk mengambil pandangan inklusif (terbuka, toleran, proaktif) dan kontekstual (tafsir peristiwa dengan pertimbangan lingkungan, latar belakang, situasi, dan tujuan di baliknya). Tatkala menyikapi Hari Kasih Sayang tiap 14 Februari, mereka pada lazimnya memisahkan antara substansi kasih sayang atau cinta dan formalitas budaya.
Kalangan Islam moderat tidak berkeberatan dengan esensi kasih sayang atau cinta. Sebab, dalam konsep teologi Islam ada kasih sayang bagi semesta alam (Rahmatan lil 'Alamin). Pandangan moderat lebih mengaksentuasikan penekanan, bahwa ekspresi kasih sayang merupakan ajaran mulia.
Pengambilan substansi kasih sayang dari kalangan Islam moderat, yaitu dengan meningkatkan solidaritas, saling menghormati, dan berbagi kebahagiaan. Ada penajaman terhadap universalitas kasih sayang. Ukhuwah insaniyah. Persaudaraan sesama manusia. Kasih sayang yang melintasi batas-batas kelembagaan apa pun termasuk agama.
Langkah implementasi dari pengambilan spirit moderat ini, antara lain dengan cara memperkuat kepedulian terhadap sesama (memberi santunan, berbagi rezeki dengan orang lain) atau mempererat tali silaturahmi dengan tanpa memandang latar belakang. Dan, lebih menempatkan kasih sayang atau cinta itu sebagai perilaku sehari-hari (daily habit).
Dengan demikian, kontekstualisasi kasih sayang, ada di setiap waktu kehidupan manusia. Menyayangi dan menghormati sesama berlangsung setiap waktu. Dan, tentu saja termasuk pada saat berlangsung peringatan Hari Kasih Sayang.
Dengan demikian, Islam moderat menjadikan perilaku kasih sayang yang mengisi hari demi hari yang mereka lalui itu sebagai gaya hidup. Sesuai dengan ajaran kasih sayang sebagaimana diteladankan Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
Teladan kasih sayang Rasulullah tecermin lewat perilaku yang lembut, pemaaf, dan menaruh perhatian yang besar kepada keluarga, anak yatim, umat, dan bahkan orang yang berseberangan secara frontal. Akhlak beliau yang menjunjung tinggi toleransi sungguh menjadi rahmat yang penuh cinta terhadap alam semesta.
Teladan kasih sayang Rasulullah dalam keluarga, antara lain mengambil bentuk tindakan beliau sebagai suami yang dengan senang hati membantu pekerjaan rumah tangga (menjahit pakaian, memperbaiki sandal) dan tidak pernah bersikap kasar. Ayah yang menyayangi anak-anaknya. Dan, kakek yang lembut, sering memangku para cucunya.
Terhadap para anak yatim, Nabi memeluk dan menyantuni mereka. Bagi yang bersedia merawat mereka, beliau menjanjikan kedekatan dengan surga. Dan yang mengusap kepala mereka, itu pertanda kelembutan hati. Kasih sayang Nabi kepada umatnya, terungkap lewat keinginan beliau agar umatnya senantiasa mendapat kebaikan dan hidayah.
Bahkan Nabi sering menangis dalam doa permohonan ampunan bagi seluruh umatnya. Kasih sayang Nabi kepada umatnya, juga tertuang dari keinginan beliau untuk tidak memberatkan umatnya dalam menunaikan kewajiban beribadah. Misalnya salat wajib yang seharusnya 50 kali dalam sehari menjadi hanya lima kali saja. Sebagaimana tertuang dalam hikmah peristiwa Isra Mikraj.
Terhadap pembantunya pun Nabi juga menaruh kasih sayang. Anas bin Malik yang selama sepuluh tahun mendampingi beliau, tidak pernah satu kali pun menerima bentakan (apalagi pukulan). Bahkan Nabi senantiasa memanggilnya Unais (Anas Kesayanganku). Atau, Bunayya (Anak Kecilku) sebagai bentuk kedekatan emosional.
Ungkapan sikap kasih sayang itu juga Nabi persembahkan kepada orang pernah berbuat jahat kepada beliau. Dari As-Sirah al-Nabawiyah jerih susunan Ibnu Hisyam (wafat 828 Masehi) yang menyunting dari karya asli Ibnu Ishaq (wafat 768 Masehi), tersebutlah kisah seorang wanita tua yang sering meletakkan duri, kotoran atau sampah ke jalan yang biasa beliau lalui saat pergi menunaikan salat ke masjid.
Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tidak membalasnya dengan kemarahan atau tindakan, kecuali hanya tersenyum. Kemudian beliau membersihkan jalanan itu dari tebaran duri berikut kotoran dan sampah.
Begitulah berkali-kali wanita tua itu melakukannya kepada Nabi. Dan, begitulah berkali-kali pula Nabi hanya tersenyum dan selanjutnya membersihkan jalan itu sehingga tidak mengganggu orang lain yang nanti melewatinya.
Hingga pada suatu hari, Nabi tidak melihat wanita tua itu melakukan perbuatan yang seolah sudah menjadi program kerja kesehariannya itu. Beliau bertanya kepada sahabat soal wanita tua itu. Informasi yang sampai ke telinga beliau, ternyata dia sedang sakit.
Tanpa memikirkan apa yang wanita tua perbuat kepada beliau, Nabi pun segera datang menjenguknya. Ini teladan kasih sayang Rasulullah kepada orang yang berbuat tidak menyenangkan kepada beliau.
Dengan tetap meneguhi teladan dari Rasulullah, kalangan Islam moderat cenderung menyediakan ruang fleksibilitas dalam budaya secara memadai bagi ekspresi kasih sayang. Termasuk dalam bentuk mengucapkan selamat ataupun berbagi hadiah. Tentu saja selama masih pada koridor muamalah atau interaksi sosial dalam relasi antarmanusia (hablum minannas).
Hari Kasih Sayang dewasa ini telah mengalami pergeseran makna dari ritual keagamaan dan selanjutnya berubah menjadi tradisi budaya universal. Atau, menjadi ekspresi kasih sayang antarsesama. Ucapan yang tersampaikan pun netral. Alias tidak mengandung unsur pengakuan terhadap konsep teologi tertentu.
Contoh ucapan, seperti “Setulus Hati Kukirimkan Energi Positif dan Kasih Sayang di Hari Istimewa Ini” atau “Cinta dan Kebaikan adalah Bahasa Universal. Selamat Merayakan Hari Penuh Cinta”. Kiranya dapat berterima secara netral bagi semua pihak.
Aktivitas SosialKalangan Islam moderat dalam banyak kesempatan kerap kali mendorong pergeseran fokus dari perayaan yang bersifat seremonial ke arah arah aktivitas yang menyentuhkan manfaat sosial riil.
Pilihan sikap ini meletakkan tujuan, agar nilai kasih sayang tidak hanya duduk manis sebagai simbolisme semata, tetapi mengalami penerjemahan yang lebih konkret menjadi wujud tindakan yang mempersembahkan manfaat bagi banyak pihak.
Terdapat sejumlah aktivitas alternatif sebagai wadah riil dari spirit dan bentuk ekspresi kasih sayang yang menjadi anjuran dalam kerangka pemikiran yang lebih berdamai dengan penanggulangan problem sosial yang riil dari perspektif kalangan Islam moderat.
Yang paling awal menjadi konsentrasi perhatian mereka, yaitu mempererat silaturahmi (hubungan sosial). Mereka berpandangan, daripada terjebak dalam perdebatan hukum mengenai hari tertentu, lebih baik memanfaatkan momen tersebut guna mempererat hubungan antarmanusia tanpa batasan agama.
Esensi langkah ini mempersembahkan dengan segenap ketulusan cinta kasih kemanusiaan yang universal. Adapun wujud riil kegiatan sosialnya inklusif, menyapa dengan ramah keberagaman, dan memiliki dampak manfaat yang langsung terasakan nyata.
Misalnya dengan mengadakan kegiatan pembagian makanan sehat, bahan-bahan pokok kebutuhan sehari-hari (beras, minyak goreng, telur, bawang merah/putih) di panti asuhan, panti jompo, atau kawasan permukiman yang kurang beruntung tanpa memedulikan latar belakang agamanya. Bisa juga dengan membagikan nasi bungkus untuk para pekerja jalanan, seperti pemulung, tukang sapu, pengemudi ojek online.
Bisa juga wujud kegiatan itu lebih mengekspresikan cinta atau kasih sayang terhadap lingkungan. Contohnya dengan kerja bakti membersihkan tempat ibadah (masjid, gereja, pura, wihara) dengan cara bergantian. Hal ini bisa meruntuhkan sekat ego sektarian. Atau, rasa kasih sayang terhadap lingkungan itu dapat terekspresikan pada kerja bakti membersihkan fasilitas umum, seperti taman atau selokan.
Ekspresi kasih sayang terhadap sesama yang lain, bisa menemukan bentuk realisasinya dengan mengunjungi rumah singgah anak-anak penyandang disabilitas, anak-anak jalanan, pasien kanker, atau pengungsi. Pemberian perhatian terhadap mereka adalah juga salah satu bentuk ekspresi kasih sayang. Kalaupun misalnya ada sesi mendongeng atau bermain dengan anak-anak di rumah singgah, lebih mengedepankan nilai-nilai kasih sayang yang umum.
Aksi nyata berikutnya, yaitu menyelenggarakan kegiatan sumbang darah secara massal. Darah menjadi simbol kehidupan yang melampaui batas-batas keyakinan atau warna kulit. Bisa diselenggarakan lewat kerja sama dengan Palang Merah Indonesia (PMI) di pusat keramaian atau lingkungan komunitas perumahan. Jargon “Sekantong Darah, Sejuta Kasih Sayang” bisa menjadi pelita untuk menerangi motif yang tulus.
Kemudian, bentuk kasih sayang itu bisa juga tersalurkan melalui aktivitas mendonasikan buku cerita, alat tulis, atau mengajar secara sukarela di sekolah-sekolah yang kekurangan. Para sukarelawan dari beragam latar belakang dapat mendedikasikan diri sebagai pengajar sukarela di sekolah atau taman bacaan di wilayah tertinggal yang kurang terbaca tuntas oleh aktivitas pembangunan. Ini tak pelak lagi adalah sisi lain dari kasih sayang itu.
Dan, yang tidak kurang manfaatnya adalah penyelenggaraan diskusi dalam format santai, mungkin sambil makan bareng, yang melibatkan tokoh-tokoh atau pemuda-pemuda dengan latar belakang berbeda-beda, fokus pada kesamaan perspektif dalam memanifestasikan kasih sayang. Sebuah dialog persaudaraan sejati. Hanya berfokus pada “kita” manusia, bukan “mereka versus kami”.





