Bisnis.com, JAKARTA — Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia (Perhapi) meniai mineral kritis dan strategis memiliki peran krusial dalam mendukung transisi energi.
Anggota Dewan Pakar Perhapi Irwandy Arif menyebut, dalam beberapa dekade mendatang, permintaan terhadap mineral akan berkaitan dengan transisi energi, peningkatan populasi, dan pertumbuhan ekonomi kelas menengah.
“Demand mineral kritis sampai 2030 naik semua. Tapi kalau gonjang-ganjing seperti sekarang, nggak akan ada yang berani investasi. Potensi kita sebenarnya luar biasa. Pemerintah dan industri pertambangan harus memiliki pemikiran yang sama, kalau tidak maka akan sia-sia, kehilangan kesempatan,” kata Irwandy, belum lama ini.
Dia juga menyoroti pengembangan ekosistem kendaraan listrik masih perlu infrastruktur yang memadai. “Antam [Aneka Tambang] sedang menjalankan proyek ini. Tapi memang kebanyakan kendaraan listrik menggunakan baterai LFP. Di Indonesia rencananya menggunakan NMC [nikel, mangan, cobalt],” ujarnya.
Senada, Wakil Ketua Umum Perhapi, Resvani menegaskan pentingnya mineral kritis, mineral strategis, serta pengembangan material maju (advanced materials) sebagai fondasi pertumbuhan industri dan ekonomi nasional menuju Indonesia Emas 2045.
Menurut dia, perubahan geopolitik global dan meningkatnya kebutuhan mineral untuk energi bersih, teknologi tinggi, dan manufaktur membuka peluang strategis bagi Indonesia sebagai negara dengan kekayaan sumber daya alam.
Namun, Resvani menilai pengembangan industri manufaktur berbasis mineral strategis di Indonesia belum optimal. Rendahnya eksplorasi yang berdampak pada minimnya data hulu, penghiliran yang masih terbatas pada tahap primer, serta ketergantungan impor material maju menjadi faktor utama penghambat, yang diperparah oleh lemahnya perencanaan strategis, pengawasan, dan iklim investasi di sektor tersebut.





