Akulturasi Budaya: Makna Tradisi Imlek di Indonesia

tvrinews.com
6 jam lalu
Cover Berita

Penulis: Fityan

TVRINews - Jakarta

Dari Barongsai hingga Angpau, Perayaan Tahun Baru Lunar Menjadi Simbol Keberagaman dan Persatuan Nasional

Di balik riuh suara petasan dan dominasi warna merah yang menyelimuti berbagai sudut kota, perayaan Tahun Baru Imlek di Indonesia menyimpan narasi panjang tentang ketahanan budaya dan akulturasi. 

Sejak ditetapkan sebagai hari libur nasional lebih dari dua dekade silam, momen pergantian kalender lunar ini telah bertransformasi menjadi identitas kolektif yang memperkaya khazanah nusantara.

Imlek, atau yang secara global dikenal sebagai Lunar New Year, bukan sekadar pergantian angka di kalender. 

Bagi masyarakat keturunan Tionghoa di Indonesia, ini adalah waktu untuk menyelaraskan diri dengan harapan baru.

 Perayaan ini dimulai pada hari pertama bulan pertama dan mencapai puncaknya pada tradisi Cap Go Meh.

Jejak Sejarah dan Pengakuan Negara

Kehadiran Imlek di ruang publik Indonesia sempat mengalami pasang surut. 

Setelah pembatasan ketat selama puluhan tahun di era Orde Baru, titik balik sejarah terjadi pada masa kepemimpinan Presiden ke-4 RI, Abdurrahman Wahid. 

Melalui Keputusan Presiden Nomor 6 Tahun 2000, hak masyarakat Tionghoa untuk merayakan tradisi mereka kembali dipulihkan.

Langkah ini mempertegas bahwa keberagaman adalah fondasi utama bangsa. Sejak saat itu, tradisi yang dibawa oleh leluhur dari Tiongkok mulai berpadu mesra dengan kearifan lokal, menciptakan harmoni yang unik di setiap daerah.

Simbolisme dalam Tradisi 

Ada empat elemen utama yang selalu menjadi pusat perhatian dalam setiap perayaan di tanah air:

  1. Pertunjukan Barongsai: Lebih dari sekadar akrobatik kostum singa, Barongsai diyakini sebagai simbol pengusir energi negatif. Dalam pandangan masyarakat, tarian ini membawa keberuntungan dan kebahagiaan bagi mereka yang menyaksikannya.
  2. Filosofi Warna Merah: Warna merah yang dominan pada pakaian dan dekorasi rumah merupakan representasi dari kekuatan dan kesejahteraan. Secara mitologis, warna cerah ini juga dipercaya sebagai perlindungan dari gangguan sosok "Nian" atau makhluk pengganggu.
  3. Ikatan Keluarga dan Angpau: Esensi Imlek terletak pada silaturahmi. Tradisi mudik dan berkumpul bersama keluarga besar menjadi momen krusial untuk menghormati leluhur serta mempererat persaudaraan melalui pembagian Hong bao atau angpau sebagai simbol berbagi rezeki.
  4. Gemuruh Petasan:Suara ledakan petasan dipercaya mampu menakuti roh jahat. Penggunaan kertas merah pada petasan khusus Imlek menjadi pembeda yang menambah kekhasan ritual ini.

 Nilai Spiritual dan Harapan 

Sembahyang di Klenteng dan Wihara menjadi aspek spiritual yang tak terpisahkan. Masyarakat memanjatkan doa agar tahun yang akan datang membawa berkah yang lebih baik dibandingkan tahun sebelumnya.

Bagi Indonesia, Imlek bukan lagi sekadar perayaan etnis tertentu, melainkan cermin dari kedewasaan bangsa dalam menghargai perbedaan. 

Kemeriahan yang hadir setiap tahunnya membuktikan bahwa akulturasi budaya mampu menciptakan harmoni yang indah di tengah masyarakat yang majemuk.

Editor: Redaktur TVRINews

Komentar
1000 Karakter tersisa
Kirim
Komentar

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Utang Pemerintah Rp9.637,90 Triliun, Ini Kata Purbaya
• 12 jam laluidxchannel.com
thumb
Indro Warkop Sebut Banyak Guru Ikut Audisi SUCI 12 Demi Tambah Penghasilan
• 2 jam lalugrid.id
thumb
Hore! Gaji Peserta Magang Nasional 2026 Naik
• 5 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Wook Global Technology Dorong Pengembangan SDM Lewat Beasiswa USU
• 5 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
PDIP Dorong Pembentukan Penyidik Independen untuk Audit Kerja KPK
• 4 jam laluliputan6.com
Berhasil disimpan.