BEKASI, KOMPAS.com – Sopir angkutan kota (angkot) di Kota Bekasi berharap Pemerintah Kota (Pemkot) Bekasi merangkul pengusaha dan pengemudi untuk bersama-sama menghadirkan layanan transportasi umum yang layak bagi masyarakat di tengah perkembangan moda transportasi massal.
Eri (45), salah satu sopir angkot di Bekasi, mengatakan dukungan pemerintah sangat dibutuhkan agar angkutan kota tetap bertahan dan mampu beradaptasi.
"Kalau bisa kami ini para sopir angkot dirangkul. Dibuatkan subsidi untuk menghidupkan transportasi umum yang layak bagi masyarakat," ujar Eri saat ditemui Kompas.com, Minggu (15/2/2026).
Menurut Eri, angkot merupakan bagian dari warisan sistem transportasi perkotaan yang seharusnya dijaga dan dikembangkan, bukan ditinggalkan.
"Angkot ini kan semacam warisan ya. Harusnya dibudidayakan biar lebih kreatif. Dan saya sangat mendukung apabila pemkot mau meningkatkan itu," ujarnya.
Ia menilai, dengan dukungan serta pembinaan dari pemerintah daerah, angkot masih memiliki potensi untuk menjadi moda transportasi yang lebih baik dan kompetitif.
Baca juga: Alasan Warga Pilih Naik Trans Beken Bekasi: Ber-AC dan Teratur, Enggak Kayak Angkot
Dishub Bekasi Buka Opsi Peremajaan dan Re-routingMenanggapi aspirasi tersebut, Kepala Dinas Perhubungan Kota Bekasi, Zeno, menyatakan pihaknya membuka peluang pengembangan fasilitas serta penataan ulang trayek (re-routing) angkot.
"Tentu bisa dikembangkan. Bisa dalam bentuk dilakukannya peremajaan, kemudian dilakukannya re-routing," ungkap Zeno.
Ia menjelaskan, re-routing dapat dilakukan dalam berbagai bentuk, mulai dari memperpendek trayek, memperpanjang trayek, menggabungkan trayek, hingga menghilangkan trayek tertentu.
"Re-routing itu bisa memperpendek trayek, memperpanjang trayek, menggabungkan trayek, atau menghilangkan trayek," jelasnya.
Baca juga: Trans Beken Bekasi Diserbu Penumpang, Sopir Angkot Was-was Kehilangan Rezeki
Menurut Zeno, penataan ulang trayek sangat dimungkinkan mengingat pembangunan Kota Bekasi yang berkembang pesat dan memunculkan titik-titik pertumbuhan ekonomi baru.
"Jadi di beberapa titik Kota Bekasi ini terjadi geliat ekonomi yang besar, tentu terbuka kemungkinan untuk dilayani oleh angkutan kota," katanya.
Selain itu, Dinas Perhubungan juga melihat peluang penguatan peran angkot sebagai angkutan pengumpan (feeder) bagi moda transportasi massal seperti LRT Jabodebek.
"Atau sebaliknya, beberapa titik angkutan umum massal seperti LRT dan lain-lain yang mungkin hari ini belum secara maksimal dilayani angkutan kota sebagai feeder, sangat dimungkinkan kita lakukan penetrasi dan penguatan di sana," ujarnya.
Dengan langkah tersebut, Pemkot Bekasi diharapkan dapat menata ulang sistem angkutan kota agar lebih terintegrasi dengan transportasi massal, sekaligus tetap relevan dalam melayani kebutuhan mobilitas masyarakat di kawasan penyangga Jakarta.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang




