Bisnis.com, JAKARTA — Peran orang tua sangat penting dalam menciptakan ruang digital yang aman bagi remaja. Ada banyak cara yang bisa dilakukan ibu maupun ayah, mulai dari resiliensi hingga memanfaatkan teknologi.
Deputi Bidang Kooordinasi Peningkatan Kualitas Keluarga dan Kependudukan Kementerian Kemenko PMK, Woro Srihastuti Sulistyaningrum menerangkan, perlindungan anak di ruang digital harus dimulai dari keluarga yang berdaya dan tangguh.
Menurutnya, resiliensi digital bukan hanya berkaitan dengan kemampuan teknis menggunakan teknologi, tetapi juga mencakup penguatan nilai, empati, serta pendampingan yang konsisten dari orang dewasa terhadap anak.
“Keluarga yang memiliki pengetahuan digital akan lebih mampu melindungi anak agar dapat tumbuh dan berkembang secara sehat, aman, dan bermartabat di tengah pesatnya perkembangan teknologi," ujarnya, dikutip Bisnis, Jumat (13/2/2026).
Di sisi lain, Meta, platform teknogi milik Mark Zuckerberg, mencatat dalam pengawasan, orang tua kini tidak perlu lagi harus memantau seluruh isi percakapan atau terjebak perdebatan panjang soal durasi penggunaan gawai. Ibu maupun ayah bisa melakukan pendekatan berbasis dialog dan pemanfaatan fitur keamanan bawaan platform.
Untuk memberikan perlindungan pada remaja di ruang digital, Meta membagikan beberapa tips yang bisa dilakukan para orang tua. Berikut diantaranya: 1. Jangan Abai dengan Dunia MerekaBagi banyak remaja, media sosial jadi tempat untuk mencari hobi, belajar hal baru, dan bergabung dengan komunitas yang mereka sukai. Orang tua mungkin kurang paham dengan kreator favorit mereka atau jokes yang mereka lontarkan, tetapi bisa mengajak mereka berdiskusi tentang apa yang disukai anak di dunia maya. Dari situ, mereka biasanya lebih terbuka untuk menceritakan apa yang mereka lakukan di internet.
Baca Juga
- Tren Ruang Kerja Pakai AI Mulai Diminati
- Ini Alasan Bisnis Sewa Ruang Kerja di RI Masih Prospektif
- Dugaan Korupsi RSUD Kolaka Timur, KPK Geledah dan Segel Ruang Kerja Kemenkes
Bagi para remaja, media sosial kini tidak hanya menjadi sarana hiburan, tetapi juga ruang untuk mengembangkan minat, belajar keterampilan baru, hingga bergabung dengan komunitas yang relevan.
Orang tua mungkin kurang paham dengan kreator favorit atau jokes yang mereka lontarkan, tetapi ajak berdiskusi tentang apa yang disukai mereka di dunia maya. Dari situ, para remaja biasanya lebih terbuka untuk menceritakan apa yang mereka lakukan di internet.
3. Komunikasi Dua ArahMembangun kepercayaan sama pentingnya dengan mengaktifkan fitur-fitur keamanan di media sosial. Berbicara dari hati ke hati bisa membantu oarng tua dan remaja memiliki ekspektasi yang sama.
Diskusi juga bisa diarahkan pada hal-hal praktis, seperti langkah yang harus diambil ketika menerima pesan dari orang asing, pentingnya menjaga privasi, serta waktu yang tepat untuk beristirahat dari layar. Membangun kepercayaan dinilai sama pentingnya dengan mengaktifkan fitur keamanan digital.
4. Manfaatkan Fitur Perlindungan BawaanSaat ini, media sosial populer seperti Instagram, Facebook, atau Messenger, telah menyediakan sejumlah fitur keamanan otomatis untuk akun remaja di bawah 18 tahun. Melalui pengaturan akun remaja, sistem secara otomatis membatasi siapa saja yang dapat mengirim pesan, memberi tag, maupun mengakses konten tertentu.
Pesan langsung (direct message/DM) yang mengandung gambar mencurigakan juga dapat diburamkan secara otomatis. Untuk pengguna di bawah usia 16 tahun, perubahan pengaturan memerlukan persetujuan orang tua. Pendekatan ini dinilai mampu memberikan perlindungan dasar tanpa mengurangi ruang eksplorasi remaja di dunia digital.
5. Atur Screen Time Secara SeimbangPengaturan waktu penggunaan gawai masih menjadi tantangan di banyak keluarga. Fitur pengingat waktu di media sosial memungkinkan remaja mendapat notifikasi untuk beristirahat setelah 60 menit penggunaan. Mode tidur juga dapat diaktifkan secara otomatis pada jam tertentu untuk membatasi notifikasi dan interaksi.
Bagi orang tua yang menginginkan kontrol lebih ketat, fitur pengawasan orang tua (parental supervision) memungkinkan pengaturan batas waktu harian maupun pemblokiran akses pada jam-jam tertentu, seperti saat belajar, makan bersama keluarga, atau waktu istirahat malam.
6. Adaptif terhadap PerkembanganKeamanan digital bersifat dinamis. Tantangan yang dihadapi remaja usia 13 tahun bisa berbeda ketika mereka beranjak 16 tahun. Karena itu, komunikasi perlu terus diperbarui mengikuti perkembangan usia dan tren teknologi.
Orang tua juga dapat memanfaatkan materi edukasi yang tersedia di pusat sumber keluarga (Family Center Education Hub), seperti yang ada di Meta, untuk memperkaya pemahaman mengenai literasi digital dan risiko daring.





