Penyakit Kawasaki masih menjadi tantangan dalam dunia kesehatan anak karena kerap terlambat dikenali. Dalam webinar bersama Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Selasa (10/2), Guru Besar Ilmu Kesehatan Anak FK Universitas Indonesia, Prof. Dr.dr. Najib Advani, Sp.A, Subsp.Kardio(K) M.Med (Paed), menjelaskan bahwa keterlambatan diagnosis dapat berdampak serius pada jantung anak.
Penyakit Kawasaki merupakan peradangan pada pembuluh darah (vaskulitis) yang menyebabkan demam akut. Penyakit ini paling sering menyerang anak usia di bawah 5 tahun dan dapat memicu komplikasi pada pembuluh darah jantung bila tidak segera ditangani.
Sering Disangka GondonganMenurut Prof. Najib, salah satu gejala awal yang paling sering disalahartikan adalah pembengkakan kelenjar getah bening. Tidak jarang kondisi ini langsung dianggap sebagai gondongan.
“Penyakit Kawasaki sering tidak terdeteksi karena gejalanya mirip dengan penyakit lain, seperti gondongan. Gondongan nggak ada mata merah, bibir merah itu nggak ada, demamnya juga nggak terlalu berat,” tuturnya.
Kesalahan diagnosis ini membuat anak sering diberi antibiotik berulang kali karena dianggap hanya mengalami infeksi biasa. Saat kondisi tidak juga membaik, pengobatan tetap dilanjutkan tanpa menyadari bahwa penyebab sebenarnya adalah peradangan pada pembuluh darah. Akibatnya, ketika akhirnya terdiagnosis Kawasaki, kerusakan pada jantung bisa saja sudah terjadi.
“Akibatnya, banyak anak terlambat mendapat pengobatan yang tepat hingga berisiko mengalami kerusakan jantung permanen,” tegas Prof. Najib.
Kerap Dikira Infeksi Saluran KemihSelain gondongan, temuan leukosit atau sel darah putih dalam urine juga sering membuat anak didiagnosis sebagai infeksi saluran kemih (ISK). Padahal, menurut Prof. Najib, kondisi tersebut juga bisa muncul pada Kawasaki.
“Satu lagi yang sering salah artikan juga ialah kalau diperiksa urine ada darah putih, leukosit. Dibilangnya infeksi saluran kemih (ISK). Padahal itu bukan, kawasaki. Jadi kalau infeksi saluran kemih enggak mungkin matanya merah, bibir merah, ruam ada bengkak dan sebagainya. Jadi itu mesti hati-hati,” ucap yang akrab disapa Bapak Kawasaki Indonesia.
Risiko Kerusakan Jantung Seumur HidupKeterlambatan penanganan bisa berakibat fatal. Prof. Najib menceritakan kasus anak yang datang hampir satu bulan setelah gejala awal karena terus dianggap ISK. Saat diperiksa, pembuluh darah jantungnya sudah mengalami pelebaran berat.
Dalam kasus tertentu, pasien bahkan harus menjalani operasi bypass di luar negeri. Meski operasi dapat menyelamatkan nyawa dan memungkinkan anak hidup normal, kerusakan pada jantung tetap bersifat permanen. Pasien harus minum obat dalam jangka panjang dan menjalani kontrol rutin seumur hidup.
“Tapi sekali operasi bypass itu tetap seumur hidup jantungnya itu cacat, ya. Sekian tahun minum obat seumur hidup, dan sebagainya,” katanya.
Oleh karena itu, ia mengingatkan orang tua dan tenaga kesehatan untuk tidak menyepelekan demam berkepanjangan pada anak. Diagnosis dan terapi yang cepat sangat menentukan untuk mencegah komplikasi jantung.





