EtIndonesia. Menjelang Tahun Baru Imlek, arus mudik yang meningkat di Tiongkok disebut turut mempercepat penyebaran wabah penyakit. Sejumlah warga dari berbagai daerah mengungkapkan bahwa fenomena kematian mendadak tanpa gejala kini terjadi di berbagai kelompok usia. Bahkan, dalam banyak kasus, korban tidak sempat mendapatkan pertolongan medis. Namun, menurut mereka, situasi wabah ini tidak dilaporkan secara terbuka.
Beberapa warga menyatakan bahwa gejala flu yang saat ini beredar jauh lebih parah dibandingkan flu biasa. Mereka juga menyebutkan adanya lonjakan kasus kematian mendadak tanpa peringatan, yang diduga berkaitan dengan kembali merebaknya COVID-19 (yang dalam teks disebut sebagai “virus PKT”). Meski demikian, mereka menilai informasi terkait situasi ini masih dibatasi.
Seorang warga Baotou, Mongolia Dalam, bermarga Wang, mengatakan bahwa tren kematian mendadak kini cenderung terjadi pada usia yang lebih muda.
Menurutnya, orang berusia sekitar 40 hingga 50 tahun tiba-tiba meninggal dunia. Ia menceritakan sebuah kasus terbaru: seorang pria berusia 33 tahun yang baru kembali dari dinas militer mendadak meninggal di pasar. Setelah meletakkan belanjaan ke bagasi mobil, pria tersebut tiba-tiba roboh dan tidak tertolong meskipun ambulans telah dipanggil.
Seorang warga Desa di Kota Jinhua, Provinsi Zhejiang, bermarga Xiang, juga mengungkapkan bahwa kasus kematian mendadak terjadi di berbagai kelompok usia. Ia menyebutkan bahwa seorang pria sekitar 50 tahun di desanya, yang sebelumnya dalam kondisi sehat, tiba-tiba meninggal dunia tanpa sebab yang jelas. Di desa-desa lain, kasus serupa terjadi pada warga berusia 40 hingga 50 tahun. Ia menambahkan bahwa sebelumnya biasanya masih ada waktu untuk upaya penyelamatan, tetapi kini banyak kasus terjadi begitu cepat hingga tidak ada kesempatan untuk melakukan pertolongan.
Sementara itu, seorang warga Hohhot, Mongolia Dalam, bermarga Bai, yang sedang menjaga anggota keluarganya di sebuah rumah sakit kabupaten, mengatakan bahwa beberapa waktu lalu rumah sakit setempat sempat penuh sesak. Pasien dengan kondisi serius dipindahkan ke rumah sakit besar di kota. Ia menyebutkan bahwa sejumlah kasus kematian mendadak terjadi dan menduga hal itu berkaitan dengan efek samping vaksin COVID-19.
Menurut Bai, kasus kematian mendadak terjadi pada berbagai usia, mulai dari usia 20-an hingga puluhan tahun. Ia menyatakan bahwa sebagian warga mengaitkan fenomena tersebut dengan vaksinasi.
Warga Baotou bermarga Wang juga mengungkapkan bahwa banyak lansia di daerahnya mengalami gangguan kulit seperti herpes dan eksim. Ia mengatakan bahwa sebagian warga meyakini kondisi tersebut merupakan salah satu efek samping vaksin COVID-19, selain keluhan insomnia dan kecemasan yang meningkat. Menurutnya, sebagian orang berpendapat bahwa vaksin dapat memengaruhi sistem kekebalan tubuh.
Pada Agustus 2023, pendiri Falun Gong, Li Hongzhi, dalam pernyataannya menyebutkan bahwa pandemi COVID-19 terutama menargetkan Partai Komunis serta mereka yang mendukungnya. Ia juga menerbitkan sebuah tulisan berjudul “Rasional” yang mengajarkan praktik “tiga pengunduran diri” serta mengucapkan “sembilan kata kebenaran” sebagai cara untuk memperoleh keselamatan.
Seorang warga Tianjin bermarga Li mengatakan bahwa saat ini banyak orang di wilayahnya terinfeksi, dengan jumlah kematian lebih banyak terjadi pada lansia dan petani. Ia menyatakan bahwa setelah membaca tulisan Li Hongzhi di situs luar negeri, ia percaya dan kemudian menyatakan keluar dari seluruh organisasi Partai Komunis Tiongkok melalui situs pengunduran diri. Ia mengaku setiap hari mengucapkan sembilan kata tersebut—“Falun Dafa baik, Sejati-Baik-Sabar baik”—dan merasa tetap sehat serta aman.
Menurutnya, dengan rutin mengucapkan kalimat tersebut setiap pagi dan malam, ia merasakan ketenangan batin dan berkurangnya rasa cemas. (Jhon)
Sumber : NTDTV.com





