Kementerian Perindustrian (Kemenperin) memastikan ketahanan dan daya saing industri perhiasan nasional di tengah lonjakan harga emas dunia. Kenaikan harga logam mulia tersebut dinilai mempengaruhi struktur biaya produksi hingga pola konsumsi masyarakat.
Pemerintah melihat kondisi ini bukan semata tekanan, melainkan peluang untuk mempercepat pembenahan ekosistem emas nasional agar lebih terintegrasi, transparan, dan berkelanjutan.
“Tantangan kenaikan harga emas global ini dapat dijadikan momentum untuk memperkuat ekosistem industri perhiasan nasional. Melalui pengembangan roadmap bank bullion, dan kebijakan yang mendorong transparansi, kami ingin memastikan perputaran ekonomi emas semakin sehat dan memberikan manfaat optimal bagi industri dan negara,” kata Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita dalam keterangannya, Minggu (15/2).
Menurutnya, industri perhiasan termasuk sektor strategis karena menghasilkan nilai tambah tinggi sekaligus menyerap banyak tenaga kerja. Karena itu, pemerintah berkomitmen menghadirkan kebijakan yang adaptif dan berpihak pada penguatan industri dalam negeri.
Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah dan Aneka (IKMA) Kemenperin Reni Yanita menyebut, saat ini industri perhiasan nasional ditopang lebih dari 500 pelaku usaha dan sekitar 30.000 toko emas di seluruh Indonesia. Sepanjang Januari hingga November 2025, nilai ekspor sektor ini tercatat mencapai USD 8,47 miliar.
“Pemerintah mencermati bahwa kenaikan harga emas berdampak pada penyesuaian strategi produksi dan pemasaran, termasuk perubahan desain, kadar, serta pola penjualan. Namun demikian, sektor ini dinilai tetap memiliki potensi besar untuk tumbuh melalui inovasi desain, efisiensi produksi, dan perluasan pasar,” kata Reni.
Dalam rapat pada 30 Januari 2026 yang membahas dampak harga bahan baku emas terhadap industri perhiasan, perwakilan Asosiasi Produsen Perhiasan Indonesia (APPI) menyampaikan bahwa lonjakan harga emas memengaruhi daya beli masyarakat dan memaksa pelaku usaha melakukan sejumlah penyesuaian.
“Pihak asosiasi juga menekankan bahwa industri perhiasan yang bersifat padat karya membutuhkan dukungan kebijakan yang kondusif agar tetap mampu menjaga keberlangsungan usaha dan tenaga kerja,” ungkap Reni.
Asosiasi juga mendorong penyempurnaan kebijakan fiskal, antara lain melalui pengenaan PPh final yang rendah untuk transaksi di bank bullion serupa dengan perlakuan pada saham dan kripto, agar aktivitas usaha tetap berada dalam ekosistem resmi dan kompetitif.
Di level pelaku usaha, strategi adaptasi dilakukan dengan memproduksi perhiasan yang lebih ringan, desain yang menarik, serta kadar emas lebih rendah agar harga tetap terjangkau konsumen.
Menanggapi hal tersebut, Kemenperin melalui Ditjen IKMA menyatakan komitmennya membangun ekosistem industri perhiasan yang sehat melalui penguatan bank bullion. Integrasi ini diharapkan membuat transaksi emas nasional semakin masuk ke sistem resmi, meningkatkan likuiditas dan transparansi, sekaligus memperluas akses pembiayaan bagi industri.
“Jika peredaran emas masuk ke dalam sistem bullion yang terstruktur, maka mekanismenya akan menyerupai sistem perbankan, dan industri perhiasan terjamin bahan bakunya dari sana. Ini akan memperkuat transparansi, meningkatkan kepercayaan pasar, dan pada akhirnya memperbesar kontribusi sektor emas terhadap perekonomian nasional,” tegas Reni.
Kemenperin juga terus berkoordinasi dengan kementerian terkait, lembaga jasa bullion, lembaga pembiayaan, serta sektor pertambangan guna memastikan pasokan bahan baku emas bagi industri domestik tetap terjaga.
Direktur Industri Aneka Reny Meilany menilai sinergi hulu–hilir menjadi kunci untuk menekan ketergantungan impor sekaligus mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya emas dalam negeri.
“Ke depan, pemerintah optimistis industri perhiasan nasional dapat terus tumbuh dan bertransformasi menjadi sektor yang semakin bernilai tambah, berdaya saing global, serta mampu berkontribusi signifikan terhadap perekonomian nasional melalui penciptaan lapangan kerja, ekspor, dan penguatan industri manufaktur berbasis desain,” ujar Reny.





