JAKARTA, KOMPAS.com - Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Muhaimin Iskandar alias Cak Imin, berpendapat bahwa dunia semakin tidak jelas mengelola kekuasaan dan kepentingan.
Ia menyampaikan hal itu setelah menyinggung perayaan Imlek 2026 yang berlangsung di tengah ketidakpastian global, percepatan teknologi, ketegangan geopolitik, konflik berkepanjangan, krisis pangan dan energi, serta arus liberalisme ekonomi yang memengaruhi hampir seluruh aspek kehidupan.
“Hal ini menunjukkan bahwa kemajuan peradaban tidak selalu berjalan seiring dengan kematangan moral dan kebijaksanaan. Dunia saat ini seakan semakin tidak jelas dalam mengelola kekuasaan dan kepentingan,” kata Muhaimin saat merayakan Imlek di Wihara Avalokitesvara, Taman Sari, Jakarta Barat, Minggu (15/2/2026).
Baca juga: Rayakan Imlek di Wihara Avalokitesvara, Cak Imin Ingat Jasa Gus Dur
Menurut Muhaimin, berbagai ketegangan lahir dari egoisme dan hasrat untuk mendominasi.
Karena itu, kata Muhaimin, Imlek Tahun Kuda Api bukan sekadar perayaan budaya, tetapi momentum refleksi tentang kepemimpinan moral dan tanggung jawab bersama untuk tetap setia pada tujuan bernegara, yakni menyejahterakan rakyat.
“Refleksi ini berlaku bagi seluruh rakyat dan para pemimpin dunia, agar kita menempatkan kemanusiaan sebagai kepentingan tertinggi, karena permusuhan dan peperangan hanya membawa penderitaan bagi siapa pun,” tegasnya.
Baca juga: Cak Imin Kunjungi Wihara Avalokitesvara, Rayakan Imlek Bersama Tokoh Tionghoa
Ia juga menegaskan Indonesia tidak lepas dari dinamika global tersebut.
Moral memudar, kekuasaan bisa berubah represifIndonesia, kata dia, menghadapi tantangan nyata seperti ketimpangan sosial, tekanan ekonomi, krisis lingkungan, serta bencana alam yang berulang, termasuk musibah yang melanda Aceh dan Sumatera.
Peristiwa itu menjadi pengingat bahwa kebijakan yang mengabaikan keberlanjutan lingkungan akan berdampak serius bagi masa depan.
Menurut dia, ketika keteladanan melemah, hukum cenderung menjadi keras.
“Ketika moral memudar, kekuasaan berpotensi menjadi represif. Di sinilah pentingnya kepemimpinan yang setia kepada rakyat, bukan kepada kepentingan sempit kekuasaan,” ucap dia.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



