Jakarta, tvOnenews.com - Menteri Pemuda dan Olahraga Erick Thohir menegaskan pentingnya skema pembiayaan yang lebih inovatif untuk menjaga kualitas Paralympic Training Center Indonesia di Karanganyar, Jawa Tengah.
Menurutnya, pembangunan megah yang telah rampung tidak boleh berakhir dengan persoalan klasik: fasilitas berdiri megah, tetapi perawatannya tersendat.
- Kemenpora
"Saya berharap setelah fasilitas ini terlengkapi, kondisinya tetap terawat. Untuk itu perlu terobosan mekanisme administrasi agar perawatan yang sudah ada kerja sama dengan swasta tidak terhambat atau pendanaannya mandek," ujar Erick dalam keterangan resminya.
Pernyataan itu disampaikan saat ia meninjau langsung kompleks pusat pelatihan atlet disabilitas tersebut bersama NPC Indonesia.
Fasilitas yang berdiri di atas lahan lebih dari 80 ribu meter persegi itu dilengkapi gedung olahraga serta asrama dua menara empat lantai dengan total 188 kamar yang mampu menampung hingga 392 atlet.
Pembangunan tahap pertama telah berlangsung sejak Desember 2023 dan rampung pada Desember 2024. Kini, perhatian pemerintah bergeser dari pembangunan fisik menuju keberlanjutan operasional.
Erick menilai perlu adanya fleksibilitas dalam tata kelola aset, termasuk membuka peluang kerja sama dengan pihak ketiga untuk mendukung pembiayaan perawatan.
Kemenpora pun telah berkoordinasi dengan Kementerian Dalam Negeri agar fasilitas olahraga milik pemerintah pusat maupun daerah dapat dikelola secara kolaboratif tanpa melanggar aturan.
Menurutnya, komersialisasi bukan hal tabu selama tujuannya jelas untuk menjaga kualitas aset negara.
- Kemenpora
"Sudah banyak pemerintah membangun fasilitas olahraga, tetapi perawatannya tidak berjalan lancar. Ini yang harus menjadi perhatian dan bahan introspeksi," katanya.
Ia juga menambahkan bahwa dukungan pembiayaan perawatan dapat dilakukan melalui mekanisme hibah, sehingga keberlangsungan fasilitas tetap terjamin.
"Semoga bisa berjalan dan aset yang menjadi yang terbaik dan pertama di Asia Tenggara ini, dapat terus dipertahankan kualitasnya," ujarnya.
Dengan pendekatan baru dalam pembiayaan dan pengelolaan, pemerintah berharap pusat pelatihan ini tidak hanya menjadi simbol kebanggaan, tetapi juga benar-benar berfungsi optimal dalam mendukung prestasi atlet disabilitas Indonesia.




