Perusahaan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) milik Elon Musk, xAI, mengambil langkah tak biasa. Pada Rabu (11/2), perusahaan tersebut merilis secara terbuka video rapat internal berdurasi 45 menit di platform X.
Rapat yang digelar Selasa (10/2) malam itu sebelumnya telah dilaporkan terlebih dahulu oleh The New York Times. Publikasi tersebut diduga menjadi salah satu alasan xAI akhirnya memutuskan untuk mengunggah video lengkapnya ke publik.
Dalam cuplikan video di X terungkap sejumlah detail baru soal arah bisnis xAI, mulai dari peta jalan produk (product roadmap), restrukturisasi organisasi, hingga hubungan erat perusahaan dengan platform X.
Salah satu poin paling menyita perhatian adalah kabar hengkangnya sejumlah karyawan. Musk menyebut hal itu sebagai bagian dari pemutusan hubungan kerja (PHK) akibat perubahan struktur organisasi perusahaan.
Meski restrukturisasi bukan hal asing di perusahaan teknologi yang sedang tumbuh pesat, banyaknya jumlah karyawan yang terdampak memicu kebingungan internal. Apalagi, sebagian dari mereka merupakan bagian dari tim pendiri xAI.
“Seiring perusahaan tumbuh, terutama secepat xAI, struktur organisasi harus berevolusi,” tulis Musk di X. “Hal ini sayangnya mengharuskan kami berpisah dengan beberapa orang. Kami mendoakan yang terbaik untuk langkah mereka selanjutnya.”
Dalam struktur terbaru, xAI kini dibagi menjadi empat tim utama:
Tim chatbot Grok (termasuk pengembangan fitur suara)
Tim sistem pengodean (coding system) dalam aplikasi
Tim pengembang generator video Imagine
Tim proyek Macrohard
Proyek Macrohard menjadi salah satu sorotan utama. Proyek ini diklaim mencakup kemampuan dari simulasi penggunaan komputer sederhana hingga pemodelan operasional perusahaan secara utuh.
“Macrohard mampu melakukan apa pun di komputer yang bisa dilakukan oleh komputer itu sendiri,” ujar Toby Pohlen, yang ditunjuk memimpin proyek tersebut dalam struktur baru sebagaimana dikutip TechCrunch. “Seharusnya mesin roket bisa sepenuhnya dirancang oleh AI.”
Pernyataan itu mempertegas ambisi besar xAI untuk mengembangkan sistem kecerdasan buatan yang bukan sekadar asisten digital, tetapi benar-benar mampu menggantikan berbagai proses kompleks. Dalam rapat tersebut, jajaran eksekutif juga memaparkan sejumlah angka terbaru terkait penggunaan dan pendapatan xAI serta X.
Nikita Bier, Head of Product X, menyebut platform tersebut baru saja melampaui pendapatan berulang tahunan (annual recurring revenue) sebesar 1 miliar dolar AS dari langganan. Ia mengaitkan pencapaian itu dengan dorongan pemasaran selama musim liburan.
Sementara itu, berdasarkan metrik internal perusahaan, alat pembuat video Imagine milik xAI diklaim menghasilkan 50 juta video per hari dan lebih dari 6 miliar gambar dalam 30 hari terakhir.
Namun, angka tersebut sulit dilepaskan dari fenomena maraknya konten deepfake pornografi yang membanjiri X dalam periode yang sama. Platform tersebut mencatat lonjakan keterlibatan (engagement) ketika gambar eksplisit hasil AI semakin banyak beredar.
Diperkirakan sekitar 1,8 juta gambar bernuansa seksual dihasilkan hanya dalam sembilan hari. Artinya, angka produksi gambar yang dipamerkan perusahaan kemungkinan mencakup sejumlah besar konten kontroversial tersebut.
Data Center di Luar Angkasa hingga Pabrik AI di BulanBagian paling mencuri perhatian dari presentasi datang di penghujung rapat. Musk kembali menekankan pentingnya pusat data (data center) yang beroperasi di luar angkasa, meskipun diakui memiliki tantangan teknis besar.
Ia bahkan melangkah lebih jauh dengan membayangkan pabrik satelit AI di Bulan. Dalam visinya, akan ada lunar mass driver atau semacam ketapel elektromagnetik yang digunakan untuk meluncurkan satelit-satelit tersebut.
Dengan infrastruktur semacam itu, Musk mengatakan manusia bisa meluncurkan klaster AI yang mampu menangkap porsi signifikan dari total energi Matahari, atau bahkan memperluas jangkauan ke galaksi lain.
“Sulit membayangkan apa yang akan dipikirkan oleh kecerdasan dalam skala sebesar itu. Tapi akan sangat menarik melihatnya terjadi,” ujar Musk.
Langkah xAI mempublikasikan video rekaman rapat internal ini memperlihatkan strategi komunikasi yang tak biasa, sekaligus membuka tabir ambisi besar perusahaan di tengah dinamika restrukturisasi dan sorotan terhadap dampak teknologi AI yang kian masif.





