JPO di Jakarta Sepi Pengguna, Pejalan Kaki Ungkap Alasan Enggan Menggunakannya

kompas.com
2 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA, KOMPAS.com - Pembangunan jembatan penyeberangan orang (JPO) sejatinya ditujukan sebagai fasilitas keselamatan bagi pejalan kaki saat menyeberang di ruas jalan yang ramai. 

Namun, pada kenyataannya, keberadaan JPO di sejumlah wilayah padat di Jakarta justru jarang digunakan.

Salah satu alasan yang paling sering dikemukakan warga adalah faktor fisik, yakni tangga JPO relatif tinggi dan melelahkan, terutama bagi mereka yang membawa barang.

Baca juga: Jelang Ramadhan, TPU Semper Ramai Peziarah meski Sejumlah Makam Kebanjiran

Rahma (31), warga Gambir yang ditemui di wilayah Kramat Jati, Jakarta Timur, mengaku tidak nyaman menggunakan JPO karena harus naik dan turun tangga terlebih dahulu.

KOMPAS.com/LIDIA PRATAMA FEBRIAN Warga menyeberang sembarangan meski sudah ada JPO di Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Kamis (12/2/2026)
“Saya tahu ada JPO di sini. Cuma kalau lewat situ harus memutar sedikit, terus naik tangga dulu. Kalau lagi buru-buru atau sedang capek, rasanya lebih cepat langsung seberang jalan saja,” kata Rahma saat diwawancarai Kompas.com di lokasi, Kamis (12/2/2026).

Perempuan tersebut menambahkan, dirinya sebenarnya pernah menggunakan jembatan penyeberangan itu. Namun, setiap kali merasa kelelahan di tengah perjalanan, ia akhirnya kembali memilih menyeberang langsung di jalan.

“Pernah sih saya pakai JPO, tapi tangganya cukup tinggi dan bikin cepat capek. Kadang langsung saja lewat bawah karena itu terasa lebih ringan,” tutur Rahma.

Kendati menyadari bahaya menyeberang langsung di badan jalan, banyak warga tetap melakukannya karena faktor kebiasaan dan persepsi risiko yang terbentuk dalam kehidupan sehari-hari.

“Kalau sudah biasa, kita merasa bisa memperkirakan kendaraan yang lewat. Itu membuat kita merasa aman walau tahu jelas risikonya ada,” ujar Rahma.

Bagi para pekerja yang memiliki jadwal ketat, JPO dianggap sebagai rintangan yang memperlambat perjalanan mereka.

Karina (29), seorang karyawan toko ritel di Pasar Minggu, Jakarta Selatan, mengatakan bahwa setiap menit sangat berarti ketika ia sedang terburu-buru menuju tempat kerja atau pulang setelah seharian bekerja.

“Kalau lewat JPO, saya harus naik dulu, kemudian turun lagi. Itu memakan waktu lebih lama,” ujar Rina.

“Kalau saya lihat jalan agak sepi, ya saya lewat langsung saja. Itu membuat waktu perjalanan jadi lebih pendek,” lanjutnya.

Baca juga: Potret Pejalan Kaki di Jakarta: Tetap Menyeberang Sembarangan meski Ada JPO

Menurut Rina, meskipun JPO tidak terlalu jauh dari jalur yang biasa ia gunakan, memilih menyeberang lurus di permukaan jalan merupakan bentuk adaptasi terhadap mobilitas harian yang padat serta kebutuhan efisiensi waktu.

Ia juga mengatakan banyak rekan kerjanya memiliki kebiasaan serupa.

“Kalau sudah kebiasaan, orang lain juga jadi ikut-ikutan,” ucap dia.

Perilaku ini pada akhirnya menciptakan norma sosial baru di beberapa titik jalan sibuk, di mana menyeberang langsung di jalan yang ramai menjadi hal yang dianggap wajar oleh sebagian pejalan kaki meski hal itu berisiko.

.ads-partner-wrap > div { background: transparent; } #div-gpt-ad-Zone_OSM { position: sticky; position: -webkit-sticky; width:100%; height:100%; display:-webkit-box; display:-ms-flexbox; display:flex; -webkit-box-align:center; -ms-flex-align:center; align-items:center; -webkit-box-pack:center; -ms-flex-pack:center; justify-content:center; top: 100px; }
Barang Berat dan Kendala Akses Fisik Lainnya

Bagi para pedagang, persoalan bukan hanya soal kecepatan atau kenyamanan diri sendiri, melainkan juga keterbatasan fisik saat harus membawa beban.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Preview Serie A: Cremonese vs Genoa, Duel Krusial di Stadio Giovanni Zini
• 4 jam lalumediaindonesia.com
thumb
Pinkan Mambo dan Wajah Prekariat di Era TikTok
• 9 jam lalukumparan.com
thumb
Bonus Demografi di Era Saweran Digital
• 3 jam lalukumparan.com
thumb
Momen Wapres Gibran dan Gubernur Luthfi Tinjau Tanah Gerak di Kampung Sekip, Semarang
• 9 jam lalukompas.tv
thumb
Setahun yang Lalu, Megawati Hangestri Sabet Women Inspiration Award 2025, Bisakah Ulangi Prestasi di 2026?
• 20 jam lalutvonenews.com
Berhasil disimpan.