India mulai melonggarkan pembatasan ekspor gandum yang telah diberlakukan lebih dari tiga tahun. Kebijakan ini ditempuh di tengah melimpahnya pasokan domestik yang menekan harga, sekaligus untuk meredam tekanan dari kalangan petani yang tengah berunjuk rasa.
Mengutip Bloomberg, Minggu (15/2), pemerintah menyetujui ekspor gandum sebanyak 2,5 juta ton serta tambahan 500.000 ton produk olahan gandum. Persetujuan tersebut disampaikan melalui pernyataan resmi kementerian pangan.
Kementerian Pangan India menyatakan, dengan stok dalam negeri yang tinggi, tren harga yang melemah, serta proyeksi produksi yang meningkat, kebijakan ekspor terbatas dinilai dapat menjaga keseimbangan pasar domestik.
“Dengan stok lokal yang tinggi, harga yang menurun, dan produksi yang diperkirakan akan meningkat, mengizinkan ekspor sebagian akan membantu menstabilkan harga lokal dan menjaga ketahanan pangan tetap utuh,” kata kementerian tersebut.
Sebagai produsen gandum terbesar kedua di dunia, kembalinya India ke pasar global berpotensi membantu negara-negara pengimpor di Asia, Afrika, dan Timur Tengah yang bergantung pada pasokan luar negeri.
Keputusan ini muncul saat petani memprotes kesepakatan perdagangan sementara India dengan Amerika Serikat. Mereka khawatir kesepakatan tersebut akan merugikan produsen lokal. Sektor pertanian sendiri menopang puluhan juta petani kecil dan memiliki nilai ekonomi sekitar USD 580 miliar.
Pengalaman liberalisasi pada 2020 yang memicu gelombang demonstrasi selama setahun hingga berujung pencabutan tiga undang-undang pertanian, masih menjadi pengingat betapa sensitifnya sektor ini terhadap persaingan asing.
Dari sisi produksi, prospek panen dinilai positif. Curah hujan terkuat dalam lima tahun terakhir membantu mengisi kembali waduk dan mendukung musim tanam. Hingga 30 Januari, luas lahan gandum tercatat naik hampir 2 persen menjadi 33,4 juta hektare. Produksi pada periode 2024–2025 bahkan diperkirakan mencapai rekor hampir 118 juta ton.
India sebelumnya melarang ekspor gandum pada 2022 setelah gelombang panas ekstrem mengganggu panen dan memicu lonjakan harga di pasar domestik. Kini, situasinya berbalik. Ketersediaan biji-bijian di tangan entitas swasta melonjak hampir 75 persen dibandingkan tahun sebelumnya menjadi sekitar 7,5 juta ton pada 2025–2026.
Sementara itu, cadangan yang dikelola perusahaan negara Food Corporation of India diperkirakan mencapai sekitar 18,2 juta ton pada awal April. “Sehingga memastikan bahwa izin ekspor tidak akan berdampak pada kebutuhan ketahanan pangan domestik,” menurut pernyataan tersebut.
Tak hanya gandum, pemerintah juga menyetujui tambahan ekspor gula sebesar 500.000 ton untuk musim yang berakhir pada September, di luar 1,5 juta ton yang sebelumnya telah diizinkan pada November lalu. Kebijakan ini menandai langkah hati-hati India membuka kembali keran ekspor komoditas pangan strategis di tengah dinamika pasar dan tekanan politik domestik.





